Saya memang bukanlah orang yang 100% sepenuhnya baik, orang lain boleh menilai saya munafik, namun saya tak akan pernah diam ketika melihat kemunafikan “kenyataan” di sekitar saya menggerus nurani saya.

Saya Hanya berbeda

Tulisan ini terinspirasi dari suatu debat kusir dengan seorang teman di tengah jam kerja. Nah ceritanya, teman saya ini sangat meng-amini dengan suatu hal yang namanya freesex. Setiap ia menjalin hubungan special “relationship” dengan wanita pasti hal yang satu ini tak pernah ketinggalan untuk tidak dilakukan.Dalam perdebatan itu, ia menjelaskan kalo freesex adalah suatu hal yang normal-normal saja karena dilakukan atas dasar suka sama suka dan itupun juga merupakan kebutuhan laki-laki yang normal, jadi manusiawi sekali jika suatu ungkapan kasih sayang juga di tunjukan dengan pelayanan atau pemenuhan hasrat bagi keduanya. Dia menegaskan agar kebutuhan sex tidak dilihat dari satu sisi saja, selain tuk kebutuhan fisik juga ternyata tuk kenyamanan dan kesehatan.

Sederhananya, cinta adalah semangat menyayangi yang dengan rasa sayang itu menjadi ingin memberi yang terbaik. Ingin melayani. Maka sex itupun tidak lepas dari rasa sayang, rasa ingin melayani. Sentuhan sayang dan dorongan melayani dengan yang terbaik adalah seninya kehidupan. Maaf, di sini saya cuma menegaskan, bahwa semua orang itu norma punya yang namanya hasrat atau nafsu pada pasangan. Namun hal itu juga ada masa dan timingnya sendiri. Saya seorang muslim, ketika saya menyayangi pasangan saya, sudah selayaknya saya juga memperlakukan ia selayaknya seorang muslimah sejati, bukan dengan hal yang sebaliknya.

Ketika hatinya miskin dan jiwanya tandus akan moralitas dan rasa malu. Allah mencabut iman seseorang dengan cara menghilangkan rasa malu dari diri orang tersebut.

Benar, bahwa Islam itu mengakui fitrah. Dan fitrah manusia juga, untuk selalu diatur. Bukan begitu? Bisa ga sih membayangkan, adanya kehidupan tanpa adanya aturan? Nah.. Di sanalah agama juga datang membawa syariat.

Manusia sempurna itu bukan seperti malaikat. Itu menyalahi kodrat. Tapi manusia sempurna adalah yang bisa menempatkan segala sesuatu sesuai tempatnya dan memenuhi segala sesuatu sesuai haknya.

Semua hal dalam hidup ini, ada baik, ada buruk. Ada yang hitam, ada yang putih. Ga ada yang sempurna satu sisi saja. So, manusia diminta sempurna dengan menata ketidaksempurnaan itu. Prilaku abu-abu adalah prilaku munafik, prilaku berstandar ganda.

Persoalannya, yang sering terjadi adalah prilaku-prilaku sesaat. Marah ya sesaat. Menata ya sesaat. Sholeh juga sesaat. Iman sesaat. Penataan butuh konsistensi tinggi. Butuh pembiasaan lama.

Lah, lalu bagaimana dengan jargon agama dalam penataan soal ini?. Dan bagaimana tentang paradigma bahwa suatu hubungan (before married) tanpa adanya hubungan intim, maka itu bukanlah hubungan yang normal????. Kalo pendapat saya pribadi cuma simple mengomentari hal itu, batas antara cinta dan nafsu itu tipis dan yang mampu menjadi pambatasnya hanyalah agama

Sama saja. Menurut saya, agama itu disebut fitroh, karena dia tidak mengkhianati kealamian manusianya. Ini tantangannya beragama. Agama bukan sekedar kumpulan peraturan. Tapi inspirasi, tentang manusia dengan diri dan Tuhannya. Bahkan kalau kita mau cermati lebih teliti, agama adalah “proses” manusia menuju Tuhannya, menuju keadaan yang lebih baik. Agama bukan taken for granted, bukan tinggal terima beres.

Kalau agama hanya bisanya membangun tembok-tembok, main gebuk dan gembok, main hukum dan tuntun. Maka agama bukan lagi proses. Manusia akan sulit menerima mode begini, karena pada dasarnya manusia itu makhluk pembelajar. Maka sering kita lihat, hanya saling tarik menarik aja yang ada. Antara pemikiran yang lebih ingin berkembang dengan pemikiran yang seperti tembok-gembok itu.

Akan terlihat, si sholeh akan menafikkan kenyataan, si biasa akan menafikkan agama. Dua-duanya menafikkan fitrohnya. Karena agama tanpa kenyataan hanya angan. Dan kenyataan tanpa agama hanya kecelakaan.

Saya memang tidak pernah bisa menterjemahkan bahwa manusia yang hatinya memiliki rasa ketuhanan adalah manusia yang perilakunya seperti malaikat. Buat saya itu hanya romantisme masa lalu. Prilaku yang hanya maunya taken for granted aja terhadap islam. Padahal, bagaimana mungkin kamu mengatakan kamu beriman kalau kamu belum diuji?

Di sini kita bisa menemukan bentuk baru untuk bagaimana kelak sesuatu yang disebut “islami” itu sesuai perkembangan zaman. Yang sangat mungkin ga sekedar model seperti arab.

Apa arti sebuah nilai atas sebuah keyakinan? Tak ada apa-apanya. HIDAYAH LEBIH MULIA KETIMBANG NILAI yang hanya bikinan manusia.

Note : Tulisan ini bukan bertujuan menggurui, atau memaparkan justifikasi terhadap perilaku teman saya, dan juga bukan untuk memposisikan saya sebagai orang yang 100% sepenuhnya sempurna di mata Allah, saya hanya ingin share dengan siapapun. Thank for droping by here, so don’t forget let U comment here…

Iklan