Bukan 3 Idiots

Adegan dalam film 3 Idiots itu membuat airmata saya terjatuh. Saya teringat suatu adegan seorang ayah yang begitu bersikeras mendoktrin anaknya menjadi insinyur. Semua daya dan upaya seorang ayah dia kerahkan agar sang anak bisa sukses menjadi insinyur. Bukan karena atas alasan apapun saya menyukai adegan itu, karena saya sendiri pun pernah mengalami hal yang seperti itu dimana ayah saya tak henti-henti menjejali pikiran saya akan betapa sukses hidupnya kelak jika dia menjadi insinyur.

Ketika sewaktu saya lulus sekolah, saya begitu keras di didik agar bisa masuk ke ITS Surabaya dengan harapan kelak saya akan menjadi insinyur teknik ketika telah selesai menempuh studi di institute tersebut. Saya pun pernah memohon agar ayah saya mengijinkan untuk tidak mengikuti keinginan ayah saya untuk menjadi insiyur, dan memilih mengikuti kata hati saya untuk menjadi seorang programmer. Hingga akhirnya saya lebih memilih bekerja dan melanjutkan kuliah saya sendiri tanpa banyak campur tangan orang tua terutama dalam hal finansial, saya melanjutkan niat saya untuk konsisten dan berfokus agar bisa menjadi seorang programer.

Saya selalu percaya pada quote yang seringkali diucapkan salah satu guru saya :

“Berbahagialah mereka yang bekerja di bidang yang dia sukai. Sebab dia tidak merasa sedang bekerja, tetapi sedang bermain-main dan dibayar,”

Beliau tidak salah. Ketika kuliah dulu, saya juga pernah mengatakan kepada salah satu atasan saya dimana saat itu saya bekerja dengannya, saya mengungkapkan bahwa saya ingin menjadi seorang system analyst seperti dia karena penghasilannya besar. Dia tertawa dan berucap ; “Jangan lihat saya sekarang. Tapi lihat bagaimana proses saya untuk bisa menjadi seperti sekarang.”

Kekuatan doa, penyerahan, keiklasan, dan iman merupakan jawaban. Saya percaya di luar kekuatan kita sebagai manusia, ada kekuatan luar biasa yang akan menjaga kita. Kekuatan yang tidak terlihat tetapi terasa

Film 3 Idiots memang sarat dengan pesan. Salah satunya adalah pesan kepada para orangtua agar tidak memaksakan keinginan pada anak-anak mereka. Sebab sampai saat ini masih banyak orangtua yang ingin anak-anaknya menjadi sebagaimana yang mereka inginkan. Bukan sesuai keinginan sang anak. Sebaliknya, film ini juga mengajarkan kepada para anak muda untuk mencari dan mengejar “lentera Jiwa” mereka. Passion mereka. “Berbahagialah mereka yang mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan kata hati mereka. Sesuai keinginan mereka. Sebab mereka tidak merasa bekerja, tetapi bermain-main dan untuk itu mereka dibayar.”

Air mata saya belum lagi kering ketika film usai. Saya masih membayangkan berapa banyak anak-anak muda yang saat ini masih terjebak dalam situasi seperti yang dirasakan dalam film tersebut dan tentunya juga saya. Anak-anak muda yang terpaksa menjalankan keinginan orangtua mereka. Anak-anak muda yang tidak berani mengungkapkan perasaan mereka. Anak-anak muda yang tidak bisa mengejar lentera jiwa mereka. Anak-anak muda yang terjebak dalam ketidakbahagiaan. Saya percaya dengan mimpi, mimpi untuk mengejar dan mewujudkan semua passion saya untuk menjadi yang saya inginkan dan mendapatkan apa yang ingin saya raih, tentang banyak destinasi kehidupan yang mamacu saya semakin powerfull bekerja keras dan belajar mensyukuri betapa berartinya arti Tuhan dalam kehidupan ini

Bermimpilah setinggi langit dan Tuhan akan memeluk mimpimu itu”

(Andrea Hirata)

Grow into the beautiful person

Iklan