Melalui postingan kali ini sebenarnya saya ingin share dengan siapapun, karena saya memiliki beberapa perspektif tambahan tentang hubungan manusia dan Tuhan. Saya hanya ingin membahas sebuah topik kecil saja.

Di TV, terutama selama menjelang dan ketika ramadhan, sangat banyak tayangan bernuansa Islam. Dan saya tidak dalam rangka ingin membahas tentang polemik tontonan Islam yang bernuansa mistik. Hanya sedikit kesedihan saya tentang bagaimana orang Islam memperspektifkan Islam itu sendiri. Omong-omong, saya bukan ustadz, bukan ahli kitab, bukan ahli agama. Hanya sewujud manusia yang mencoba dan belajar untuk memahami bahasa-Nya. So, kalau ada yang protes dengan pemahaman saya, ya sah sah saja

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah sinema televisi tentang seorang anak yang (ceritanya) durhaka sama orang tua. Ibunya hanya pembantu rumah tangga, sementara dia disekolah dicekoki dimana teman-temannya semua membawa HP, blackbery, laptop, di antarkan pake mobil, naik motor ala Valentino Rosi (dan hal-hal lain yang berbau matrealisme). Si anak yang tidak tahan dengan kondisi tersebut, tergoda untuk menjadi “ayam”. Dan film ini diakhiri dengan datangnya seorang “ustadz” yang mengingatkan si ibu untuk berserah diri pada Tuhan, dan sianak bertobat.

Kemaren, saya menonton tentang keluarga miskin yang anaknya terkena narkoba. Karena kemiskinannya, si anak sampai mencuri cincin kakaknya untuk drugs. Si ibu karena tidak kuat sampai meninggal, dan meninggalnya si ibu tidak membuat si anak tobat, tapi malah mencuri uang takziah untuk “ngobat” sampai akhirnya si anak over dosis, dan dalam kondisi itu dia bermimpi ketemu si ibu dan akhirnya bertobat. Dan sebelumnya, sama lah, cume beda topik saja, dengan bentuk visualisasi, penggambaran yang sama saja.

Saya tidak dalam rangka berbicara benar dan salah. Semuanya hanyalah sebuah perspektif. Hanya saja, saya juga ingin menyampaikan perspektif saya.

Saya hanya sedih. Perasaan di tayangan TV, orang Islam selalu diidentikan dengan orang yang miskin. Lalu orang yang beriman adalah orang yang berpeci, bicara dengan lembut, dengan tanda dikepalanya, membawa tasbih yang lagi-lagi juga cuma orang miskin. Orang Islam selalu digambarkan sebagai masyarakat yang lemah, isinya cuma pasrah. Solusi masalah sepertinya hanya dengan berdoa saja. Saya jadi kasihan sama Tuhan. Kok ya sepertinya Tuhan cuma dijadikan zat yang seperti itu. Yah, saya fikir ini cuma perspektif saya aja. Boleh setuju atau menolak…

Dengan sedikit keterbatasan saya tentang ilmu Tuhan

(oh ya, kenapa juga yah yang dianggap ilmu agama adalah ilmu yang cuma ada pada kitab aja ya? Apa ilmu “berusaha” (ikhtiar) bukan ilmu Tuhan? Apa ilmu marketing, kalkulus, fisika, itu bukan ilmu Tuhan?, apakah kalau ingin berdakwah tentang Kebesaran-Nya harus dan wajib pakai ayat Alquran dan hadist? Memangnya tidak boleh berdakwah dengan menggunakan teori Fisika?)

Saya juga pernah membaca sebuah *saya lupa ini Hadist atau Ayat Alqur,an, dan maaf juga kalo ada kata yg salah. Saya cuma ingin mengangkat intinya saja* yang menyebutkan bahwa Tuhan lebih menyukai hambanya yang kuat. Dalam pemahaman saya, kuat disini bisa berarti berkuasa, kaya, dan sejenisnya.

Saya juga pernah baca bahwa :

Jika kita melihat kemungkaran, jika kita mampu berbuat untuk menghadangnya, maka berbuatlah, jika tidak mampu, sampaikan dengan kata, dan jika tidak mampu juga, minimal jangan ikut melakukan. Tapi kalimat ini diikuti dengan “dan itu adalah selemah-lemahnya iman”. Artinya, lagi lagi dalam pemahaman saya, yang cuma bisa berbuat untuk dirinya sendiri, tidak berkemampuan untuk berbuat, adalah orang yang imannya rendah.

Hal lainnya adalah, menurut saya, pasrah dan hanya “pantas” dilakukan oleh orang yang tidak berusaha. Karena antara Usaha, Doa, dan Berserah Diri adalah sebuah runutan. Heran aja, di TV isinya kok ketika dapat musibah isinya cuma berdoa sebagai solusi. Kesannya kok orang Islam adalah orang yang ngga punya etos kerja. Yang isinya cuma bisa minta sama Tuhan. Bukankah Tuhan sudah memberikan akal, fikir, hati, tenaga, fisik yang kuat dan berbagai “alat” lainnya agar kita sebagai manusia berusaha?. Buat saya, berserah diri, hanya pantas dilakukan oleh orang yang berusaha dan menyertai usahanya dengan doa. Dan doa buat saya tidak indentik dengan melas.

Saya jadi inget omongan seorang “guru” sekaligus teman diskusi saya. Rekan saya pernah bilang “orang miskin baik mah wajar, emang harusnya begitu. Kalo orang miskin sombong mah namanya nggak tau diri. Begitupula halnya dengan orang kaya. Kalo ada orang kaya yang belagu, ya wajar aja. Orang kaya itu punya pilihan untuk jadi orang kaya yang jahat atau orang kaya baik hati. Dan yang luar biasa adalah orang kaya dan berkuasa yang rendah hati dan baik hati”.

Sebuah pepatah dari kampung halaman berkata “Alam Takambang Jadi Guru”. Saya mencoba memahami kalimat ini sebagai bentuk, bahwa ilmu Tuhan itu dapat kita peroleh dari seluruh apa yang ada di alam semesta ini. Mengaji buat saya bukan berarti hanya “membaca alquran”. Membaca koranpun sah-sah saja diperspektifkan sebagai bentuk “mengkaji” ilmu Tuhan. Pengertian “mengkaji” atau “membaca” buat saya juga bukan sekadar membaca rangkaian huruf demi huruf. Ada lagi pepatah yang menyatakan “Adat bersandi syara’ syara’ bersandi Kitabullah”. Saya memahami, bahwa berbagai norma, aturan, hukum dan apapun aturan yang masih berupa produk manusia, tidak boleh berseberangan dengan Kitabullah, cuma kok kayaknya nggak gitu ya?

Ini cuma celoteh nakal saja. Pengen melihat di TV, figur seorang muslim yang beriman yang isinya orang kaya dan berkuasa. Dengan kekuasaannya, dia mengajari kita menjadi khalifah yang baik. Ingin orang orang tahu, bahwa Islam itu tidak identik dengan kemiskinan, kepasrahan, kelemahan, ketidakberkuasaan, teroris, mistik, etc. Yang cuma dengan berdoa saja Tuhan menunjukkan ke-Tuhan-annya. Pengen melihat di TV seorang muslim yang baik diidentikkan dengan seorang businessman yang handal, pengusaha yang sukses. Bahwa tidak selalu keimanan seseorang itu diterjemahkan dengan baju koko, atau baju gamis, jenggot yang panjang, berpeci. Orang yang beriman nggak haram kok pake jeans, baju gaul, sepatu boot. Kalau begini caranya, pantas saja kita dianggap orang seperti itu. Jadi, orang islam ya jangan protes

Bumi itu bundar. Hidup inipun adalah sebuah paradoks, karena banyak perspektif yang bisa kita ciptakan, tergantung dari sudut pandang. Sayang saja jika kita hanya memperlihatkan satu perspektif saja. Menurut saya, ini semakin membuat kita bodoh. Dan sepertinya kita bangga memperbodoh diri sendiri. Saya fikir tidak ada salahnya jika kita mau memandang dari berbagai macam perspektif, sehingga kita bisa menemukan sesuatu yang hakiki.

Ini hanya sedikit “curhat” saya tentang kondisi realitas yang semakin hari membuat saya semakin miris. Yah, intinya kalo kita tak bisa menjadi bagian dari solusi, maka kita adalah bagian dari kerusakan itu sendiri. Dan tidak ada salahnya kita mengawali perbaikan dan memulai solusi itu dari diri kita sendiri.

Islam ku versi sinetron

Iklan