Salah satu Tugu yang berada di pusat kota Sidoarjo

Tulisan ini saya ketik hanya sebagai catatan kecil di tengah hari menjelang “pesta” pemilukada kota sidoarjo, kota dimana saya saat ini bermukim, kota yang menjadi tempat hijrah dari dari “kampung halaman” saya, yaitu kota Malang. Ini hanya sebentuk refleksi saya sebagai media untuk menyalurkan media berpikir saya dalam mencermati fenomena ditengah masyarakat kita tentang pentingnya janji, “Bukan sekedar janji politik” tentunya.

Perbedaan dikalangan umatku adalah rahmat. -Al Hadist

Saya tertarik dengan pernyataan Cak Nun mengenai kampanye yang seharusnya dilakukan didalam rumah-rumah ibadah. Sebab disanalah tiap umat beragama merasakan dekat dengan Tuhan dan ‘lebih khusyuk’ dalam melakukan janji-janji yang ada dalam kampanye mereka.
Kalo dipikir-pikir, selama ini kita justru sebaliknya. Dalam pikiran kita, jika ada orang melakukan kampanye di rumah-rumah ibadah maka itu bersifat ‘saru’ (sodaranya SARA kalee..) Dan dianggap melakukan penodaan terhadap rumah Tuhan.

Namun jika kita mau berfikir lebih jauh, kita akan dapatkan logika sebagai berikut:
Jika janji janji kampanye dilakukan di luar Rumah Tuhan, artinya kita melakukan ‘penjauhan ‘ dengan Tuhan. Artinya kita me’nomor sekian’kan Tuhan. Makanya caleg2 itu bisa dengan ‘ringan’ mengobral janji-jani mulia tapi ditempat yang jauh dari rumah Tuhan. Maka dibelakang hari, mereka tidak akan terbebani dengan janji-janji kampanye tersebut. Sebab toh, pada saat kampanye, mereka tidak benar-benar bersaksi dengan nama Tuhan. Deal?…

Logika lainnya adalah karena jauh dengan rumah Tuhan, maka mereka yang melakukan kampanye kemungkinan adalah juga orang-orang yang juga jauh dengan perintah-perintah Tuhan. Bisa jadi mereka orang-orang jahat, yang kerjanya adalah memanfaat kursi kekuasaan untuk memperkaya diri(kayaknya inilah yang sedang terjadi saat ini…) Dan sengaja kurang memperhatikan kesejahteraan rakyat. Maka jangan heran kalau politikus-politikus kita kurang peduli dengan kesejahteraan rakyat sampai saat ini. Padahal yang namanya wakil rakyat, sejatinya adalah ‘melayani’ rakyat. Dan bukan ‘memanfaatkan’ rakyat.

Kalo boleh usul, jika ada “kontrak politik”, semoga itu dilakukan dengan nama Tuhan dan dilakukan di dalam rumah Tuhan. Sebab suara rakyat adalah suara Tuhan…

Sebab kalo dilakukan jauh diluar koridor Tuhan.. Saya khawatir kita malah dekat dengan setan… Maka yang terjadi adalah perjanjian kontrak politik dengan disaksikan setan.

Sebuah kursi perlambang kekuasaan adalah untuk seorang pemimpin yang berkepribadian dengan kapabilitas dan kompetensi yang memenuhi kualifikasi.

Seni dalam memimpin adalah mensyaratkan kebersihan jiwa rohani, kesucian hati yang menjadi panutan bagi para pengikut yang dipimpinnya. Esensi mempimpin adalah seperti nafas kehidupan, yaitu mengharapkan sinergisitas antara para pemimpin, yang dipimpin dengan berkorelasi pada Tuhan.

Di lain sisi, ada suatu paradoks yang menjadi kesamaan di antara para calon dan para pemimpin kita saat ini. Menjadi miskin untuk sebagian besar kita adalah momok. Sesuatu yang menakutkan karena berbahaya dan ganas. Kemiskinan dengan caranya sendiri mampu mencerabut kepercayaan diri dan berujung pada ketidakpercayaan bahwa tak ada hal yang tak mungkin di dunia ini, bahwa semua dapat diraih dan teraih, bahwa nasib masih menjanjikan perbaikan.

Namun semoga calon dan para pemimpin kita tak pernah melupakan bahwa ada postulat seperti berikut :

Ada kehidupan setelah kematian, kehidupan yang jauh lebih kekal, tempat yang baik dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Tempat di mana semua yang kita kerjakan diganjar dengan beragam kebaikan.

Pendukung salah satu pasangan calon bupati di pemilukada




Iklan