Postingan kali ini adalah sebuah tulisan sederhana yang saya publish ditengah rutinitas saya memulai aktifitas pagi.

Kalau kehidupan adalah padang pasir tiada batas, maka hidup adalah ikhtiar tanpa henti mencari oase. Bukan untuk berteduh selamanya, tapi untuk beristirahat sejenak, meminum airnya yang jernih, menikmati belaian anginnya yang lembut, dan berlindung di balik kerimbunan pohonnya. Tapi bukan untuk selamanya, karena hidup adalah ikhtiar tanpa henti.

Oase menjadi catu daya, untuk mengisi kembali energi kita, untuk kembali melanjutkan perjalanan tanpa henti mengarungi padang pasir tiada batas. Tapi kita tahu ada oase yang dapat kita kembali kapan pun kita letih, kapan pun kita perlu berteduh. Dan setiap orang akan memiliki oase nya masing-masing. Dan ikhtiar itu adalah, mencari oase kita sendiri.

Kadang kita bertemu fatamorgana, menganggap hamparan air di ujung sana adalah oase kita, kita berlari dan berlari, semakin dekat semakin kencang kita berlari. Tapi fatamorgana hanyalah pantulan mentari dan kita kembali terjerembab ke pasir yang kering dan panas. Letih menusuk, tapi perjalanan tidak bisa berhenti, sakit, tapi mesti bangkit kembali.

Semoga masih ada energi tersisa tuk menemukan oase itu, letih semakin menusuk dan padang pasir terhampar semakin luas dan semakin tanpa batas. Akankah ini berujung?

Allah did not Promise that the way would be easy.

But He did promise that

He would be with you in every single step of your

life as long as you want Him to.

Here I go again, for a countless time as I can recall. Life is no perfect nor fair, I know it well for so long. Life is a constant moving toward equilibrium, not a perfection. A friend told me, there’s no life without running into problems. And we spend all of our energy to overcome one to encounter with another one, or sometimes simultaneously. Don’t you wish to end all or yours? but that only means to terminate your life. And indeed, everybody wants to go to heaven bu no one wants to die.

Each time you make decision, your future is change. In the theory of parallel life, you will have your life divided each time you make decision. Each life will continue its path separately and there are points when you can slide from one path to another path, where you can take a peek, how is yourself overthere when you follow the other decision. Since we only live on single string of life path and the theory of parallel life is only a theory after all, therefore you must have a profound contemplation before you can decide on something. In some instances, you have no single clue what your future would be for the consequence of your decision.

And that’s exactly where I stand right now. We’re not the master of the universe nor we’re holding the future in our hand. We’re seeking for the best possible future but best is a very relative notion, it will be various from man to man, moreover from human to divine.

And therefore, God, I surrender my self and my future to your power. You’ve created me and complete me with freedom, and in this time of my life, I genuinely ask for your intervention and guidance. I seek for a very tiny part of your vision and wisdom and pray that you grant me a glimpse of me in the future. Keep me strong and keep me serene, dear God.

Orang yang gagal selalu menjadikan masalah yang

kecil menjadi besar, orang yang β€˜survive’ menganggap

masalah yang besar itu kecil. bukankah ujian itu

hakekatnya adalah pembelajaran dari Tuhan….

Note : sebuah refleksi ringan, ditengah pagi sebelum saya mengawali rutinitas. Have a nice day. Thank for everyone can be dropping by here on my own blog.

ditengah pagi sebelum saya mengawali rutinitas

Iklan