Kematian begitu dekat dengan kita, sampai terkadang kita tidak menyadarinya. Kematian bisa datang kepada yang tua, muda, bahkan yang baru lahir sekalipun. Ketika sehat, sakit, tertidur atau terjaga. Kita sendiri, orang yang jauh atau seseorang yang dekat seperti seseorang yang kita sayangi. Sesuatu yang membahagiakan membuat kita adict (ketagihan)…membuat kita ingin selalu memiliki…membuat kita takut kehilangan…Membuat kita ingin terus mempertahankannya lagi…dan seterusnya…

Allah bisa kapan saja mengambil kembali milik-Nya lewat cara apapun.

Ketika Allah berkehendak…

Ketika tubuh ini harus kembali menjadi inti sari tanah…
Ketika dunia ini sudah cukup untuk kita rasakan…
Ketika Ruh ini sudah penuh akan perbuatan nya…
Ketika Ruh ini harus kembali ke pemilik-Nya.
Ketika itu mungkin Ruh ini tidak dalam keadaan bersih, Ruh ini tidak lagi
suci…

Tapi semoga Ruh ini akan pulang dengan membawa lebih banyak sesuatu yg baik…

Selain kita tau bahwa kita lahir tak membawa apa-apa, kita juga tau bahwa nanti kita mati pun tak bakal membawa apa-apa. Kadang kita juga sadar bahkan nyawa dan badan ini pun sebenarnya milik Allah.

Ketika keluarga atau orang yg kita sayangin harus pergi…ketika apa saja yang membuat perasaan kita bahagia itu harus hilang. Tapi ketika itulah Allah menyadarkan kita supaya kita ga “bablas” atau keterusan, bahwa apa yang kita punya sekarang ini bakal kita tinggalkan nanti, apa yang kita punya sekarang ini cuman titipan-Nya buat sarana untuk apa yang bakal kita bawa nanti ketika kita memasuki kehidupan yang hakiki nggak ada matinya…dan kemarin malam saya telah di ingatkan bahwa Allah mengambil titipanNya kembali. Titipan dalam bentuk seorang manusia yang bernama “saudara”.

Salah satu saudara saya, adik tepatnya, baru saja meninggalkan kami saat usianya baru menginjak 18 tahun, karena terkena penyakit kanker hati dan paru-paru. Di saat kawan seusianya berjuang keras untuk bisa lolos seleksi masuk ke perguruan tinggi negeri (SMPTN), niatnya untuk melanjutkan impiannya dengan masuk ke perguruan tinggi negeri favorit, harus terhenti oleh maut. Semua jerih payah dan usaha kerasnya harus pupus karena ia gagal mempertahankan hidupnya dari ketertindasan oleh sang maut.

Dua minggu sebelum dia wafat, gejala batuk dan sesak nafas yang saat itu sering muncul. Diagnosa awal adalah asma. Ternyata setelah masuk rumah sakit beberapa hari baru diketahui bahwa penyakit tumor yang pernah menyerang ginjal kirinya (nefroblastoma) 1 tahun yang lalu sudah menyebar ke hati dan paru-paru. Cairan di dalam paru-paru bereproduksi terus menerus menutupi 70% paru-paru menyebabkan sesak nafas. Ternyata selama ini hanya 30% saja yang berfungsi. Pertolongan yang diberikan adalah disedotnya cairan tersebut dari celah rongga dada. Tetapi justru menjadikan pendarahan dalam rongga dada dan perut. Secara medis sudah tidak bisa diberikan terapi apapun. Hanya tawakal dan prosedur rumah sakit yang bisa dilakukan. Kami semua sangat shock. Apalagi ketika dokter memberikan pernyataan bahwa jika cairan disedot akan menyebabkan pendarahan dalam, jika tidak disedot akan menyebabkan sesak nafas.  Benar-benar buah simalakama.

Dia mencapai titik kritis pukul 04.00 shubuh, empat hari lalu, selang sehari sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Dr.Sutomo, Surabaya. Dia sebelumnya melakukan sholat shubuh dan setelah usai shalat itu dia berucap kepada bunda, “Aku tidur sekarang aja Bunda”. Sesak nafas semakin sangat parah, kaki sangat dingin tapi kepala panas. Satu lagi yang membuat kami bertambah sedih yaitu busa yang keluar dari mulut mungilnya. Isak tangis tak pernah bisa kami bendung karena sangat prihatin dan kasihan melihat kondisi yang dideritanya. Saya ingat ketika bunda menyatakan  beliau ikhlas jika putrinya itu harus “tidur”. Mungkin karena tidak tega melihat siksaan penderitaan yang kepayahan.

Waktu terus berjalan, hingga kemarin malam sesak nafasnya semakin berat dan mengeluarkan busa dari mulutnya, yang kemudian dilakukan penyedotan busa di mulut oleh tim perawat. Mendekati pukul 22.30 mulutnya tidak mengeluarkan busa lagi, nafasnya semakin pelan dan matanya mulai berkedip seperti seseorang yang akan terlelap. Kemudian nafasnya semakin pelan sekali dan matanya mulai berkedip untuk menutup. Tepat pukul 22.40 wib, adik saya itu berhenti bernafas dan matanya telah tertutup dipangkuan bunda tercinta.

Selamat jalan adikku…..Selamat jalan sayangku “sang peri kecilnya si bunda”…..bermainlah di surga dengan ditemani para malaikat….. Engkau adalah bunga surga….. Jemputlah kami di sana kelak….. Kami sangat sayang padamu dan pasti akan merindukanmu……………

Seperti halnya matahari yang mulai meninggi, kehidupan pun di mulai kembali, dedaunan tertiup angin lalu tetes embun pun akhirnya jatuh ke tanah kemudian terserap musnah…Yah, bisa di analogikan seperti itulah kehidupan kita di dunia. Embun sebagai kehidupannya, dan daun sebagai dunianya. Sesungguhnya Allah menciptakan langit, bumi beserta isi nya adalah juga sebagai perumpamaan untuk kita, sebagai mahluk ciptaanNya yang paling mulia…Dan Dialah Sang Pemilik raga ini.

Dalam hati, saya cuma bisa berpesan kepadanya melalui doa. “Pulanglah….Allah akan menyambutmu di sana. Dan kamu berpulang telah membawa “islam”. Sebaik-baiknya perhiasan di mata Allah dan sebagai “jubah surga” terindah yang kamu kenakan kelak di surga”.

Pulanglah

Iklan