Saya bersyukur pernah mengenal beliau, seseorang yang sangat menginspirasi saya dalam hal pekerjaan. Saya mengenal beliau sebagai seorang system analist, project manager, web developer, software architect, program enginner…Yah, beliau adalah bos saya dulu, yang saat ini menjadi dan saya anggap sebagai salah satu inpirator dalam hidup saya.

By the way, kata inspire berasal dari kata in dan spire, yang artinya menghirup. Jadi, tidak salah kalau dikatakan bahwa seorang yang bisa menjadi inspirator bagi orang lain adalah napas yang membuat seseorang tetap bisa ‘menghidupi’ impiannya, dan akhirnya meraih sukses.

Kepuasan bagi pemberi inspirasi adalah keberhasilan protege (orang yang didukung/di-support/dilindungi), atau mentee (orang yang dimentorinya). Pada umumnya, mereka berjiwa besar, dan tahu tatkala tugasnya telah selesai, dan tidak menuntut penghargaan. Mereka mendapatkan kepuasaan yang luar biasa dari memberdayakan orang lain, dan umumnya mempunyai passion for the possible.

Sebetulnya, saya, anda ataupun kita pun bisa memberi inspirasi pada orang lain. Kita tidak perlu punya penglihatan atau pendengaran khusus kan. Dan, yang kita beri inspirasi pun tidak perlu seorang prodigy atau seorang yang luar biasa. Begitu banyak orang—yang karena sesuatu dan lain hal—tidak pernah mendapat dukungan, kesempatan, dan penghargaan atas bakat dan potensinya. Karena, memang orang di sekitarnya tidak melihat, tidak mau, atau memang sudah merasa tidak punya harapan untuk menjadi lebih dari apa dan siapa mereka.

Ok, back to the topic tentang seorang inpirator dalam hidup saya. Beliau telah menerapkan prinsip-prinsip (hukum) kerja yang saat ini selalu saya terapkan, yaitu :
1)Kerja dengan cerdas, (tidak memilih – milih klien atau customer)
2)Kerja dengan ringkas, (mereka tidak banyak basa – basi, langsung ke pokok persoalan)
3)Kerja dengan tuntas (nggak usah banyak basa basi, betele-tele, atau banyak bicara kalo lagi kerja, konsen dan focus pada subtansi pekerjaan)
4)Kerja ikhlas (tidak terlalu mempermasalahkan besaran kompensasi / hasil salary dari orang lain)

Batu pondasi untuk hidup yang seimbang adalah kejujuran, watak, integritas, kepercayaan, cinta (pada pekerjaan) dan kesetiaan. Kita sebagai pribadi yang dewasa seringkali dalam keseharian memilih mengakrabkan diri dengan kegelisahan dan ketidakpuasan yang kita ciptakan sendiri. Kita selalu disibukkan dengan pikiran – pikiran akan masa depan kita. Yah…contohkanlah seperti pertanyaan-pertanyaan klasik dan cukup krusial di bawah ini.

-Apakah saya akan sukses di pekerjaan saya sekarang, dan apakah boss akan selalu menyayangi saya ?
-Apakah gaji saya akan dinaikkan besar tahun depan ?
-Apakah perusahaan tempat saya bekerja akan terus eksis, sehingga saya selamat dari PHK ?
-Apakah pasangan hidup saya akan tetap setia sekiranya saya mengalami ketidakberuntungan ?
-Dan lain – lain pertanyaan yang mengkerdilkan kita.

Namun apabila kita lebih merenung lagi, adalah sebenarnya hal yang konyol dan sangat tidak realistis untuk terlalu memikirkan sesuatu yang bukan porsi diri kita. Bila kita termasuk orang – orang yang gelisah, sebaiknya kita bercermin dan memikirkan orang-orang yang mampu menjadi suatu inpirator, menjadi motivator bagi kita. Kita harusnya terinspirasi oleh mereka yang senantiasa bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada mereka. Mereka tidak menjadi kendur semangatnya hanya karena penyakit flu, atau batuk menyerang mereka, mereka juga tidak pernah terlihat sedang pusing, memang mereka tidak ingin pusing karena memikirkan masa depan.

Alam telah mendidik mereka menjadi pribadi – pribadi tangguh, yang bila mereka mampu bertahan dan mengijinkan semangat pelayanan mereka turut bertumbuh bersama mereka, bukan mustahil mereka akan menjadi pribadi – pribadi yang punya manfaat bagi banyak orang.

Mereka hanya berpikir untuk merebut dan menguasai hari ini lebih cepat dari orang lain. Memang benar kita punya hak mutlak untuk menjadi seperti apa kita di masa depan, tetapi pemilik masa depan tetap Tuhan. Jadi, jika tidak mulai semangat hari ini, kita akan kehilangan esok hari yang sudah menjadi milik orang yang bersemangat hari ini. Namun pada kenyataannya, banyak orang-orang selalu menyalahkan keadaan untuk kondisi yang dialaminya. Banyak yang tidak percaya pada keadaan. Saya setuju kalau orang-orang yang bisa survive di dunia ini adalah orang yang bangkit dan mencari keadaan yang mereka inginkan. Jika mereka tidak mendapatkannya, mereka menciptakannya. Karena Apa yang ada di belakang kita dan apa yang ada di depan kita merupakan hal kecil dibanding dengan apa yang ada di dalam kita kan yah. Dan Tak ada yang kekal dalam hidup ini, kecuali perubahan itu sendiri…

Ah, ternyata semua orang bisa menjadi motivator bagi pertumbuhan sesamanya.

Terimakasih Tuhan karena Engkau telah menciptakan begitu beragam pribadi – pribadi yang bisa menguatkan satu sama lain …

“Many people who order their lives rightly in all other ways are kept in poverty by their lack of gratitude. Having received one gift from God, they cut the wires which connect them with Him by failing to make aknowledgement.”

(Banyak orang yang menjalani hidup dengan cukup benar, tetapi tetap miskin karena kurang bersyukur. Setelah menerima kemurahan Tuhan, mereka memotong kabel yang menghubungkan mereka dengan Tuhan dengan cara mengingkari nikmatNya)

– Wallace Wattles (1860 – 1911) –

Dan kata-kata terakhir yang bos saya pesankan kepada saya, adalah suatu wejangan, yang bila saya uraikan lagi, intinya adalah sebagai berikut :

“Dalam melakukan pekerjaan apapun, kamu harus :

– Percaya di saat orang lain ragu

– Berencana di saat orang lain bermain-main

– Belajar di saat orang lain tidur

– Memutuskan di saat orang lain menunda

– Bersiap-siap di saat orang lain berkhayal

– Memulai  di saat orang lain menunda

– Bekerja di saat orang lain mendamba

– Menabung di saat orang lain menyia-nyiakan

– Mendengar di saat orang lain bicara

– Tersenyum di saat orang lain merengut

– Berkomentar di saat orang lain mengkritik

– Gigih di saat orang lain menyerah

Yah…saya selalu yakin hidup yang di jalani dengan melakukan kesalahan disana sini bukan hanya lebih terhormat, tapi juga lebih berguna dibanding hidup yang dijalani tanpa berbuat apa-apa karena dari hal itu saya bisa belajar menjadi manusia yang lebih berkualitas lagi.

Seorang Inspirator

Iklan