Mungkin satu minggu terakhir adalah hari-hari terberat di bulan ini. Di saat semua permasalahan membutuhkan suatu solusi yang hampir bersamaan, kondisi suasana kerja yang lagi “peak session” yang setiap saat, dengan sewaktu-waktu membuat saya gampang stress dan down. Kondisi tensi tempramen yang sedang tidak kondusif, mau nggak mau harus menyiksa semua kesabaran saya untuk lebih pandai dan lebih bijak mengatur suasana hati agar tak larut dalam emosi dan sikap gampang marah. Hingga akhirnya pagi ini, saya menemukan sebuah email yang baru masuk di inbox saya, dari seseorang yang menjadi pasangan saya, yang kini ia tengah berada di luar kota dan saya bersyukur karena ia masih menyempatkan rasa perhatiannya untuk menghibur dan menangkan hati saya melalui kata-kata dalam emailnya. Dan seperti inilah email tersebut….

Ya Allah…
aku tidak meminta seseorang yang sempurna dari sisiMu, tidak ya Rabb…
karena Engkau pun pasti Maha Mengetahui sesungguhnya keadaanku,
Engkau tahu dulu aku ini hanyalah maklukMu yang takut singgah di jurang nerakaMu,
dan akupun tahu, tiada seorangpun yang sempurna di dunia ini dari kesalahan atau kekurangan,
maka, aku meminta padamu seorang yang tak sempurna ya Rabb, sehingga ia merasa sempurna ketika diriku hadir dalam kehidupannya karenaMu…

Seseorang yang kan kusayangi karena kelembutan hatinya.
Seseorang yang kan kucintai karena KEINDAHAN AKHLAKNYA.
Seseorang yang kan kukasihi karena kehalusan budinya.
Seseorang yang kan kukagumi karena kesantunan sikapnya.
Seseorang yang kan kupuja karena kerendahan hati dan kesederhanaannya.
Seseorang yang mau menerimaku setulus hatinya…
yang tak akan pernah ku menduakan cintanya hingga akhir hayatku tiba…

Seseorang yang kan ku hibur hatinya bila ia bersedih
seseorang yang kan ku seka air matanya ketika dia menangis
seseorang yang kan ku jadikan pundakku tempatnya bersandar saat dia lelah
seseorang yang kan ku dengar seksama segala kesahnya
seseorang yang kan mempertaruhkan nyawanya demi menjaga kehormatanku
seseorang yang ketulusan dan kesetiaan hati ini hanyalah untuknya…
yang kan slalu kujanjikan membersamainya hingga malaikat maut menjemputku tiba…

Ya Rabb…
wahai Tuhan yang memegang rahasia segala sesuatu,
jadikanlah aku ridha terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang Engkau takdirkan, sehingga tak ingin ku menyegerakan apa-apa yang masih Engkau tunda, atau menunda apa-apa yang Engkau segerakan…
wahai Tuhan yang memegang hikmah segala sesuatu,
andai Engkau berkehendak lain,
sesungguhnya sebenar-benarnya kehidupan adalah kehidupan akhirat,
maka jadikanlah kehendakMu… bukan kehendakku…
sesungguhnya aku tidak mengetahui, sedangkan Engkau Maha Mengetahui,
takdirkanlah kebaikan bagiku dimanapun adanya, dan jadikanlah hatiku meridhainya…

Yah..itu mungkin sebuah email yang indah untuk saya, email yang isinya demikian bermakna dan menghibur kacaunya hati saya, dari seseorang yang menjadi “Sang Penghibur” jiwa saya. Pesan yang hendak disampaikan dalam email itu adalah tentang kedekatan antara manusia dan Tuhannya.

“Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu”, bukan semata-mata artinya “siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya.” Kata ” ‘Arafa”, juga “Ma’rifat,” berasal dari kata ‘arif, yang bermakna ’sepenuhnya memahami’, ‘mengetahui kebenarannya dengan sebenar-benarnya’; dan bukan sekedar mengetahui. Dan nafsahu berasal dari kata ‘nafs’, salah satu dari tiga unsur yang membentuk manusia (Jasad, nafs, dan ruh).

Hanya saja, terkadang kemewahan, kenyamanan, mengubur hati kita yang sangat berharga itu: potensi kita untuk mencari siapakah diri kita sebenarnya. Kita disibukkan oleh pekerjaan, dibuai oleh kesibukan, mengejar kesuksesan kerja, atau ditipu oleh dalih mengejar karir atau kuliah meraih title akademis, atau hidup nyaman bersama keluarga. Sangat sering, ketika hal ini terjadi, pertanyaan-pertanyaan esensial seperti itu, yaitu potensi pencarian kebenaran yang kita bawa sejak lahir, yang ketika kanak-kanak sangat nyata, terkubur dan terlupakan begitu saja seiring waktu kita menjadi semakin dewasa. Padahal, itu adalah ‘potensi mencari Allah’ yang Dia bekali untuk kita ketika lahir. Bukan berarti kita harus meninggalkan semua itu, bukan sama sekali. Tapi, jangan biarkan semua itu menenggelamkan potensi pencarian kebenaran yang telah Allah turunkan pada kita semenjak lahir.

Ketika kita tenggelam dalam dunia seperti itu, kita bahkan tidak menyadari bahwa kehidupan kita berputar-putar saja dari hari ke hari. Bangun pagi, mengejar karir, pergi pagi pulang sore, terima gaji, menikah, membesarkan anak, menyekolahkan anak, pensiun, dan seterusnya setiap hari, selama bertahun-tahun. Apakah hanya itu? Bukankah kita tanpa sadar telah terjebak kepada pusaran kehidupan yang terus berputar-putar saja, tanpa makna? Celakanya, kita mencetak anak-anak kita untuk mengikuti pola yang sama dengan kita. Pada saatnya nanti, mungkin hidup mereka pun akan mengulangi putaran-putaran tanpa makna yang pernah kita tempuh.

Sangat jarang orang yang potensi pencariannya akan Allah belum terkubur. Dalam hal ini, jika kita masih saja gelisah mencari makna kehidupan, maka kegelisahan kita merupakan hal yang perlu disyukuri.

Berapa orang, sahabat, yang masih mau mendengarkan kegelisahannya sendiri? Padahal kegelisahannya itu merupakan rembesan dari jiwa yang menjerit tidak ingin terkubur dalam kehidupan dunia. Kegelisahan itu ‘menjerit’ ingin mencari Al-Haqq, Sang Maha Penggenggam kehidupan, dan ‘jeritannya’ kadang naik ke permukaan hati dalam bentuk kegelisahan.

Ya Allah, jadikan semua kesulitan, kebimbangan dan kesabaran ini menempa jiwaku menjadi pribadi yang lebih baik. Ya Rahman, hapuslah keraguan dalam sikapku, berikan keikhlasan dalam amanahku, dan curahkanlah kearifan dalam perbuatanku. Ya Rahim, Berikanlah bagiku kekuatan agar redam kemarahan ini, hawa nafsu ini, dan jauhkan goadaan syetan ini. Sungguh aku tak akan sanggup jika Engkau tinggalkan.

Ya… hidup itu keputusan. Mulai dari bangun hingga tertidur lagi. Keputusan mengambil arah ke kanan atau kekiri,,keputusan untuk bangun lebih lambat pagi ini dan terburu – buru ke kantor atau lebih cepat dan menonton morning news…keputusan untuk bersemangat memulai monday working atau melewati minggu ini dengan seadanya..keputusan untuk merasa bahagia atau putus asa..keputusan untuk membuat mimpi menjadi kenyataan dan berjuang untuk itu atau tak bermimpi sama sekali dan biarlah hidup ini berjalan kemanapun arahnya…keputusan..keputusan.. keputusan.

Ah….hidup itu kolaborasi kegagalan dan keberhasilan, tawa kebahagiaan dan tangis kesedihan, kehilangan dan memiliki.. Semuanya hanya rangkaian mozaik indah perjalanan yang kelak akan menjadi satu : lukisan kehidupan. Dan tinta yang kita pilih yang akan menjadi lukisan kehidupan kita.

“Hidup adalah soal keberanian,

Menghadapi yang tanda tanya

Tanpa kita mengerti,

Tanpa kita bisa menawar

Terimalah dan hadapilah”

(Soe Hok Gie)



Sang Penghibur

Iklan