Kemarin malam saya menyempatkan chating dengan salah seorang sahabat saya yang kini mengabdikan diri menjadi seorang guru. Dia bukan seorang PNS, seorang guru honorer tepatnya, di beberapa sekolah swasta dan negeri terkemuka di kota Malang. Saya nggak habis pikir dengan sahabat saya yang satu ini, kenapa ia harus susah-susah menjadi guru honorer hanya untuk menabung demi melanjutkan studinya ke jenjang S2. Saya tahu memang kehidupannya lebih beruntung dari teman-teman seusinya, termasuk saya. Yah, memang dia lahir dari keluarga yang begitu kaya, dan tanpa bekerja menjadi guru honorer pun saya yakin ia bisa hidup dengan mapan dan berjalan mulus meraih studi S2 atau bahkan mengajukan beasiswa untuk belajar ke negeri seberang, di samping kemampuan otaknya yang jauh melebihi dari rata-rata manusia pada umumnya.

Dan yang sangat-sangat membuat saya speechless, adalah ketika kemarin saat chating saya iseng bertanya seperti ini : “Kenapa sih mbak kamu harus repot-repot banting tulang buat bekerja demi menuhi impian lanjut ke S2, apa nggak buang-buang waktu atau tenaga kalo sekarang kamu capek-capek kerja sementara kamu sendiri pun aslinya mampu mewujudkan hal itu?”….. Ia tak menjawab pertanyaan saya itu dengan jawaban yang semestinya, tapi hanya membalas jawaban dengan menggunakan quotenya Sayyidina ali ra :

Ilmu adalah warisan para nabi, sedangkan harta adalah warisan dari Fir’aun, Qarun, dan lain-lain.

Ilmu selalu menjaga orang yang mempunyainya, sedangkan harta dijaga oleh orang yang mempunyainya.

Orang yang berilmu banyak mempunyai teman, sedangkan orang yang berharta mempunyai banyak lawan.

Ilmu apabila diberikan kepada orang lain akan bertambah sedangkan harta bila diberikan akan berkurang.

Ilmuwan sering dipanggil alim, ulama, dan lain-lain. Sedangkan hartawan sering dipanggil bakhil, kikir, dan lain-lain.

Pemilik ilmu akan menerima syafaat pada hari kiamat, sedangkan pemilik harta akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Ilmu apabila disimpan tidak akan habis, sedangkan harta bila disimpan akan usang dan lapuk.

Ilmu tidak usah dijaga dari kejahatan, sedangkan harta selalu dijaga dari kejahatan.

Ilmu tidak memerlukan tempat, sementara harta memerlukan tempat.

Ilmu akan menyinari hati hingga menjadi terang dan tenteram, sedangkan harta akan mengeraskan setiap hati manusia.

Yah,orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki. “Hidup bukanlah perjuangan menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah badai dan hujan.”

Sikap optimis dalam menghadapi kehidupan tidak harus ditunjukkan dengan wajah yang tersenyum terus atau menampakkan wajah yang selalu ceria kan ya…!!. Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis. Orang yang optimis, akan memandang hidup jauh ke depan, dengan penuh impian dan mempunyai tujuan. Tujuan dalam kehidupan harus kita miliki, agar kita sebagai nakhoda bagi kehidupan kita sendiri tau bagaimana mengarahkan kemudi kehidupan kita dan ingin dibawa kearah mana. Individu – individu yang optimis lah yang benar – benar sangat menyadari bahwa sesungguhnya kehidupan ini ibarat Permainan Catur, “the game of life is lot like chess … you have to tackle your problem, blok your fears, and score your points when you get the opportunity “, hidup bagaikan permainan catur … hadapi masalah, taklukan rasa takut dan menang ketika kesempatan itu datang…

Saya pribadi setuju dengan falsafah ini, Seperti layaknya setiap tetes air yang keluar dari mata air, tahu bahwa mereka mengalir menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di samudra, setiap tetes air tahu, bahwa suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke puncak-puncak gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur. Sebagian kembali ke laut. Hal itu sejalan dengan falsafah saat kita meraih dan mengejar kebahagiaan yang paling hakiki. Berbeda-beda jalan dan cara, tapi intinya menuju pada kebermanaknaan hidup.

Mencintai ilmu bukanlah apa-apa

Dicintai ilmu adalah sesuatu

Dicintai oleh ilmu yang kita cintai sangatlah berarti

Tapi dicintai oleh Sang Maha Pemberi ilmu adalah segalanya

Saat saya menyukai seorang manusia akan ada sebuah akhir

Sehingga saya harusnya tetap mencintaiNya Yang Tak Pernah Berakhir

“Letakkanlah cinta kita pada Allah tertinggi di hati kita, karena Allah takkan pernah ingkar janji dan kita takkan pernah kecewa atau sakit hati. Dan letakkanlah cinta pada keduniawian di tangan kita, jangan di hati kita, karena jika kita tak mendapatkannya, takkan sakit hati kita. Tentu kita pun tau, jika bukan dunia yang meninggalkan kita, pastilah kita yang akan meninggalkannya”.

Allah give me again what happiness is

Allah teach me about belief

Allah ask me to be patient

Allah remind me about grateful

so nothing is special except Allah will

Alhamdulillah

Keindahan adalah keindahan akhlak, kecantikan adalah kecantikan perilaku, dan kecerdasan adalah kecerdasan akal. Tanamkan dalam diri sebuah kalimat tasbih dalam setiap detik, satu gagasan dalam setiap menit, dan satu karya kebaikan dalam setiap jam

Kesan yang lain adalah betapa kehidupan manusia bisa saling bersinggungan satu sama lain walaupun terpaut jarak dan zaman. Satu kalimat yang benar-benar membuat saya kagum adalah : “soul cross ages like cloud cross skies”. Terlihat betapa manusia bisa berbeda-beda tapi esensinya adalah sama, seperti awan yang punya bentuk bermacam macam tapi sejatinya adalah uap air.

Yang jelas kalau ukuran kebahagiaan itu, saya menilai ketika HANYA melihat kebahagiaan orang lain dan membandingkannya, saya bakal jadi orang yang sangat menyedihkan. Untuk ukuran kebahagiaan sebaiknya saya lihat ke bawah, banyak orang yang hidupnya lebih sederhana dari saya tapi mereka tetep survive dan bahagia kok. Dan ikut berbahagialah ketika melihat orang lain bahagia. Insya Allah, hidup saya bakalan penuh rasa syukur, karena kebahagiaan itu sesungguhnya semu kalau kita terus mencari pembanding diluar yang saya miliki.

Saya hanya ingin berbagi segala yang menarik, berdiskusi untuk semua hal, menerima masukan, memperkaya wawasan. Di blog dan halaman homepage yang sederhana ini. Just share my simple and unspoken thoughts here. Hopefully you’ll get enjoy it and get inspired.

“Masalah terbesar dari doa adalah bagaimana membiarkannya mengalir dan mengizinkan Allah menjawab dengan cara-Nya (Glenn Clark)”

Belajar dalam hidup itu emank nggak pernah ada ending-kan ya, bukan sekedar asal-asalan belajar, tapi belajar menghargai pembelajaran dan mengambil suatu hikmah itu lebih penting dari pembelajaran yang paling fundamental. Dari proses itulah kita akan mengetahui esensi kita sebagai manusia yang bermakna.

Ketika kerjamu tak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketulusan..

Ketika usahamu dinilai tak penting, maka saat itu kamu sedang belajar tentang keikhlasan..

Ketika hatimu terluka dalam, maka saat itu kamu belajar tentang memaafkan..

Ketika kamu merasa lelah & kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan..

Ketika kamu merasa sepi sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketangguhan..

Ketika kamu merasa letih hingga ingin berhenti, maka saat itu kamu sedang belajar tentang arti pengorbanan..

Ketika semua cobaan datang menyapamu, maka saat itu kamu sedang belajar untuk lebih bersyukur & mendekat padaNYA

Ah….Thank U Lord atas jawaban dan motivasi yang Kau berikan melalui seorang manusia yang ku sebut “sahabat”. Terima kasih Tuhan telah Kau anugerahkan saya teman-teman yang banyak memberi pencerahan…

Hanya seorang guru honorer

Iklan