Sebelum menjadi seorang programmer, saya lebih akrab dengan yang namanya engineer, karena itulah sebenarnya bidang saya. Dari dunia yang bernama teknik, saya bertumbuh dan berkembang. Namun ternyata takdir berkata lain, sehingga saya harus “menyeberang” dan menjadi seorang programmer yang bagi saya seperti berbalik 180 derajat.

Dalam anggapan saya, Menjadi engineer itu sebuah pilihan. Engineer merupakan salah satu dari sekian banyak profesi di dunia ini. Akan tetapi, mengapa engineer? Ada 2 jawaban untuk menjawab pertanyaan ini. Untuk jawaban klise adalah karena sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuni di dalam fokus akademik saya. Untuk jawaban prestige adalah karena engineer merupakan passion dan tuntutan hidup.

Dalam tulisan ini, saya akan membahas sehandal apakah saya sebagai seorang engineer. Selain faktor teknis, seperti tingkat pendidikan, level expertise, sampai banyaknya sertifikasi teknis yang dimiliki, kehandalan seorang engineer dapat diukur dari faktor non-teknis. Berikut ini faktor-faktor non-teknis yang saya jadikan acuan untuk menilai engineer:

1.Keluhan

Keluhan muncul akibat banyak faktor. Baik itu karena kesalahan manusia (human error), kerusakan sistem, ataupun kecelakan (sengaja atau tidak). Intinya, keluhan muncul akibat adanya perbuatan (aksi). Dengan melihat cara seseorang engineer menghadapi keluhan, kita dapat menilai mereka. Keluhan akan selalu muncul, dan celakanya banyak keluhan muncul ketika engineer tidak siap. Tentu saja, engineer yang baik akan mampu menghadapi keluhan yang datang setiap saat.

2.Tekanan

Tekanan merupakan ekstensi dari keluhan. Keluhan yang datang dari pelanggan bisa menjadi tekanan bila belum dapat diselesaikan. Tekanan biasanya muncul dari 2 arah, yaitu tekanan dari luar dan tekanan dari dalam. Keduanya sama beratnya. Tekanan dari luar berasal dari pelanggan. Pelanggan atau client adalah raja dan kebutuhan raja harus selalu dipenuhi. Dia tidak mau tahu bagaimana caranya, yang terpenting kebutuhan itu terpenuhi. Tekanan dari dalam berasal dari perusahaan dan nama baik engineer. Kalau gagal, nama perusahaan akan tercoreng dan nama engineer akan buruk. Ini sangat tendensius karena dengan kata lain gagal itu bukan sebuah pilihan.

3.Deadline

Batas akhir adalah musuh setiap engineer. Serajin apapun seorang engineer, suatu saat akan menemui deadline. Deadline tidak untuk dihindari, tetapi untuk dikerjakan. Bagi engineer yang handal, deadline bukan momok tetapi merupakan salah satu cara untuk berkreasi. Hal ini karena biasanya deadline membuat engineer berpikir di luar kotak (thingking out of the box) untuk menyelesaikan sebuah masalah. Sikap ini hanya dimiliki oleh seorang engineer andal.

Ketiga faktor di atas tidak bisa didapatkan dari bangku-bangku sekolah, kuliah maupun tempat-tempat training. Faktor-faktor ini hanya ada di dunia industri, di dalam kompetisi kerja. Jadi, dengan masuk ke dunia industri dan merasakan faktor-faktor di atas, ke-engineer-an saya dapat teruji. Jadi intinya, ketika kita totalitas, fokus dan konsisten pada satu hal, hal tersebut juga pastinya akan membawa impact positif bagi kita. Dan impact yang bisa saya rasakan adalah banyak pembelajaran dan semakin berkembangnya mentalitas saya dalam bertumbuh dan melakukan penyesuaian terhadap kondisi permasalahan apapun.

Tulisan ini bukan tentang berita. Bukan melulu tentang kontemplasi fakta. Atau logika. Tulisan ini tentang makna yang bisa saya pelajari selama saya mengabdikan diri dalam pekerjaan saya terdahulu. Tulisan ini juga tentang perilaku ciptaan Tuhan yang bernama manusia, yaitu saya. Tentang kepintaran dan kebodohannya. Petualangan, dan stagnasinya. Bukan baik, bukan buruk. Bukan hitam, bukan putih. Saya percaya seseorang menjadi maksimal dengan melakukan apa yang dia suka secara terus-menerus sehingga menjadi ahli, dan dengan demikian bisa menghasilkan nilai tambah bagi orang lain.

“Don’t be afraid. Don’t be daunted. Just do your job. Continue to show up for your piece of it, whatever that might be. If your job is to dance, do your dance. If the divine, cockeyed genius assigned to your case decides to let some kind of wonderment be glimpsed, just for one moment through your efforts. When a person has passion and commitment, it makes little difference what they are doing. Because whatever it is has a vital integrity which exposes them totally and without shame. Such people have an innocence which life does not touch. Usually they do not fit well with mainstream and are certainly not going to give time to events without purpose. They are busy. Engaged in activity that nurtures their creativity.

Intinya, passion dan commitment itu seperti kompas. Dua ini akan menunjukkan jalan ke apapun yang akan kita lakukan setelahnya. Dan lebih dari itu, dua hal ini akan membantu kita membuat keputusan-keputusan sulit. Bagi beberapa orang, itulah kariernya. Bagi beberapa orang, itulah anaknya. Bagi yang lain, itulah keluarganya. Atau Tuhannya. Atau bahkan, untuk beberapa orang, hal itu adalah negaranya. Semuanya memilih dunianya sendiri-sendiri. Saya hanya berharap, anda punya pilihan anda sendiri, sesuatu yang menjadi dunia anda sendiri, lalu tenggelam disitu. Dan setelah itu, saya hanya berharap: “…bahwa suatu saat, Pencipta Ruang dan Waktu bisa menundukkan ruang dan waktu, dan membuat mimpi-mimpi yang kita kejar, saling bersinggungan satu sama lain, untuk suatu tujuan yang jauh lebih besar dari apapun yang bisa kita pikirkan.”

Dari setiap pekerjaan yang saya tekuni, saya selalu belajar mengembangkan kelima hal dalam diri saya. Dan lima hal itu adalah Resolusi (target yang realistis), Proporsi (skill & mental), Simplicity (sikap dan perilaku), Personality (menjadi contoh dan teladan), Chemistry ( Ruh dan Spiritnya dalam bekerja).

Tujuan akhir adalah bagaimana kita bisa memberi nilai tambah bagi orang lain. Terutama bagi orang-orang terdekat kita. Lalu kemudian, seiring dengan waktu, kita akan mampu memberi nilai tambah buat orang-orang yang membutuhkan: mereka yang ada di urutan bawah dari “rantai makanan” kelas sosial.

Ini adalah alasan, yang membuat kita nanti ketika kita sudah mencapai banyak hal dalam hidup; kita tidak akan lagi bertanya-tanya:

“Setelah ini, lalu apa?”

So, Itu sudah cukup untuk membuat segalanya menyenangkan bagi saya,tentang destinasi yang berujung pada kebermaknaan diri dan kesejatian hidup yang sesungguhnya. Dan saya selalu yakin, bahwa orang yang fokus kepada pengembangan diri biasanya sanggup memberikan lebih banyak kontribusi terhadap diri sendiri dan masyarakat.

Know yourself, and the truth will set you free (Socrates)

Yah, jika kita sudah mengetahui dan memahami sepenuhnya tentang esensi diri kita, kita akan memperoleh kemerdekaan jiwa. Segala tindakan yang kita lakukan pasti berawal dari motivasi kan ya..!!!. Motivasi kita bakal lebih terpacu dan bernilai positif jika kita punya passion dalam menjalankannya. Tanpa passion, dijamin, deh, kita nggak bakal pernah merasa puas dengan pekerjaan kita. Bahkan, kita cenderung nggak bahagia dan merasa bekerja hanya sebagai paksaan—yang penting ada penghasilan, hidup kita hanya dikendalikan oleh nilai materi yang kita kejar.

Kalau nggak punya passion, dalam bekerja kita hanya akan mementingkan gaji, insentif, bonus, dan tunjangan yang diberikan kantor. Padahal semua itu di luar kendali kita sebagai karyawan. Akibatnya kalau nggak sesuai kita bakal merasa sia-sia bekerja. Menemukan passion dalam hidup itu penting memang. Konon, jika ingin berhasil dalam hidup, kita perlu untuk menjalani hidup sesuai passion kita, agar kita bisa sepenuhnya menikmati apa yang kita kerjakan. Pernah dengar pepatah ‘Lakukanlah apa yang kamu suka, maka kamu takkan merasa bekerja setiap kali kamu melakukannya..’?. Ok, mungkin nggak tepat seperti itu, tapi kurang lebih begitulah sejauh yang pernah saya cermati dalam lingkungan kehidupan saya..

Ingatlah bahwa kesibukan Anda tidak boleh hanya berkenaan dengan pengumpulan uang, tetapi juga termasuk kesibukan untuk menjadikan diri Anda sebagai pencerah bagi kehidupan mereka yang penting dalam kehidupan Anda. Beranikanlah untuk memperbarui diri, karena tidak mungkin sebuah pribadi yang lama berhak bagi sesuatu yang baru.

(Mario Teguh)

Jangan biarkan jati diri menyatu dengan pekerjaan Anda. Jika pekerjaan Anda lenyap, jati diri Anda tidak akan pernah hilang. – Gordon Van Sauter

Berawal dari seorang engineer



Iklan