“Kuli IT” seumur hidup

Yah itu adalah cita-cita saya, cita-cita yang sedikit mengherankan memang, apalagi kebanyakan programmer yang saya kenal, kalau ditanya apakah mau menjadi programmer selama seumur hidup ?, kebanyakannya jawabannya adalah tidak !!!, saya bisa memaklumi, apalagi peran programmer boleh dibilang peran/jabatan paling rendah dari keseluruhan proses untuk mengembangkan sebuah software, ibarat orang yang membangun sebuah rumah, peran programmer mirip dengan kuli bangunan yang mengaduk pasir, membuat kusen, memplester batako dll, oleh karena itu tidak heran pula di kalangan pegiat IT, programmer menamakan dirinya “Kuli IT”.

Orang yang bekerja, tentu saja ingin penghasilannya besar, beberapa programmer menganggap apabila ada seseorang yang “stuck” hanya jadi programmer saja, itu pertanda orang tersebut kurang berkembang, yah kebanyakan mimpi kolega-kolega saya adalah menjadi system-architect, project manager atau bahkan ada yang bermimpi ingin menjadi seorang CIO (Chief Information Officer), sebuah mimpi yang besar, yang kalau bisa dicapai akan mendapatkan sebuah kebanggaan dan juga kekayaan yang lebih besar ketimbang seorang programmer

Lalu pertanyannya, jikalau posisi system-architect demikian mengkilap atau posisi CIO demikian menggiurkan, mengapa saya tidak mau menggapainya ?, apakah karena saya takut tantangan ?, apakah karena saya malas bekerja keras untuk menggapainya ?, hmm jawabannya relatif “tergantung situasi dan kebutuhan “, tetapi yang pasti alasan utama saya ingin tetap menjadi programmer adalah karena saya cinta menulis kode dan itu seperti nafas kreatifitas saya, ratusan kode yang saya tulis merefleksikan hasrat saya, barisan kode yang saya terjemahkan ke dalam bentuk program system layaknya saya menyelami jati diri saya, bagi saya baris-baris kode tersebut adalah ibarat baris puisi yang ditulis oleh pujangga yang sedang dimabuk asmara, saya menemukan kebahagian di dalamnya, suatu anugerah yang diberikan Allah SWT kepada saya, apalagi menjadi programmer adalah keinginan saya sejak mengenal komputer.

Jikalau saya telah menemukan telaga kebahagiaan dari menulis kode ?, mengapa saya harus melepas peran itu demi jabatan yang lebih tinggi ?, jangan salah sangka, bukannya saya tidak mau menjadi CIO ?, kalaupun suatu saat nanti saya mendapat peran yang lebih tinggi, saya tetap tidak akan melepas hobi saya menulis kode, lagipula ada beragam hal yang positif apabila kita tetap mengerjakan pekerjaan “kuli” walaupun jabatan kita sudah lebih tinggi daripada sekadar kuli. Ok, saya akan menguraikan hal positif itu :

1. Memotivasi bawahan

Saya ingat beberapa tahun lalu punya atasan yang jabatan resmi beliau adalah CTO (Chief Technology Officer), dia membawahi 2 orang system analyst, 4 orang programmer dan 1 orang web desainer, dari skema ini terlihat perusahaan kami tidaklah besar, tetapi walaupun begitu, menurut pandangan saya cukuplah bagi beliau berperan hanya memimpin team, mengevaluasi sistem dan mengarahkan bawahannya, tidak perlulah beliau turun jauh ke bawah, tetapi apa yang waktu itu terjadi ?, beliau juga ikut urun rembug memecahkan masalah kode, ikut menulis kode juga side-by-side dengan kami dalam satu ruangan yang sama, ketika aplikasi mau rilis, beliau juga tidak sungkan-sungkan untuk ikut lembur, kode yang beliau tulis mungkin tidaklah sebanyak yang kami tulis, tetapi kehadiran beliau di tengah-tengah kami bagi saya, sangat memotivasi. Saya lebih respect kepada pemimpin yang ikut terjun ke lapangan, daripada hanya pemimpin yang ongkang-ongkang kaki yang cuma bisanya menyuruh-nyuruh saja.

2. Lebih mengerti permasalahan yang dihadapi para “kuli”

Ini terkait dengan no 1, seorang pemimpin di organisasi perusahaan, apabila ikut terjun ke bawah, akan lebih mengerti permasalahan yang dihadapi oleh karyawan “kulinya”, dengan demikian empati yang bersangkutan menjadi lebih besar, imbasnya dalam menghadapi persoalan akan lebih seirama dengan bawahan, ini menjadi problem-solver yang efektif, sesuai dengan tujuan perusahaan yang didirikan untuk menjadi problem-solver dengan masalah bisnis yang ada. Empati yang kecil dari atasan sebaliknya alih-alih menjadi problem-solver, malah bisa menjadi problem-creator. Bayangkan saja apabila boss kita marah-marah tanpa mengerti permasalahan yang ada ?, yang dia mau hanya ingin software selesai dibangun pada waktunya ?, apakah tipe seperti ini akan menjadi problem-solver atau sebaliknya problem-creator ?

3. Lebih didengar oleh bawahan

Berapa banyak system analyst yang “dilecehkan” para programmernya, ketika dia berencana membangun aplikasi dengan sebuah bahasa pemrograman tetapi sang system analyst tersebut sama sekali tidak menguasai bahasa pemrograman tersebut ? well jawabannya : saya tidak tahu pasti berapa, tetapi saya pernah mengalami berada dalam team seperti ini, system analyst tersebut tidak dianggap, malah alhasil desain aplikasi lebih di-drive oleh para programmernya, situasi sedikit kacau balau, karena setiap kali diskusi sering ada “gap” komunikasi antara system analyst dan para programmernya. so jika saja si system analyst memahami bahasa pemrograman tersebut dan cara terbaik dalam memahami sebuah bahasa pemrograman adalah dengan menulis kodenya, dia akan lebih dihormati oleh programmernya, imbasnya dia akan lebih didengar sehingga tim pun menjadi lebih solid

Contoh-contoh di atas adalah contoh pengalaman saya di perusahaan kecil, lalu bagaimana dengan perusahaan besar ?, adakah pemimpinnya yang tetap menulis kode walaupun telah menjabat jabatan paling tinggi, well saya akan coba member contohnya.

Matt Mullenweg (Automattic & WordPress founder)

ini sih sudah nggak perlu saya jelaskan lagi, kalo anda blogger anda tentu mengetahui siapa sebenarnya yang bersangkutan ?, ya dia adalah penemu wordpress, sebuah platform blog yang sangat populer, Matt sekarang adalah CEO Automattic, perusahaan yang bergerak di belakang wordpress, walaupun sekarang sudah menjadi CEO, Matt masih berkontribusi untuk menulis kode wordpress. Beliau adalah salah satu inspirator saya.

Max Levchin (Paypal CTO/Co-founder)

Max-Levchin hanya tertarik terhadap security programming terutama dalam bidang kriptografi, dan dia memang awalnya membuat perusahaan yang fokus terhadap bidang security, terutama security di Handheld-device, cuma karena bisnis di Handheld ini terlihat mandek, yang bersangkutan malah switch dan mengubah perusahaannya menjadi Paypal, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembayaran online, Paypal dengan cepat populer terutama sering digunakan dalam transaksi Ebay, dari luar Paypal terlihat sebagai perusahaan yang bergerak di bidang finansial, tetapi Max sendiri berkata lain, dia malah bilang “Paypal sebenarnya adalah perusahaan security yang berpura-pura menjadi perusahaan Finansial”, yak paypal menjadi populer karena terkenal keamanannya terutama dalam menghadapi fraud, Paypal akhirnya dibeli oleh Ebay, Max sendiri sekarang mamimpin Divisi paypal di Ebay dan masih concern terhadap permasalahaan security programming yang ada di paypal.

Paul Graham (Viaweb & YCombinator founder)

Viaweb mungkin terdengar asing di telinga orang indonesia, namun kalo saya sebut Yahoo Store, anda mungkin pernah mendengar produk tersebut, yak Viaweb adalah sebuah platform web dimana orang bisa membuat toko online sendiri secara instan, di indonesia tipe website seperti ini baru trend tahun-tahun belakangan ini (contoh : tokopedia.com, tokobagus.com, krazymarket.com) sementara Paul Graham membangun Viaweb di akhir tahun 90-an dan dengan cepat menjadi populer, kepopulerannya diendus oleh Yahoo dan akhirnya Yahoo membelinya dan mengubahnya menjadi Yahoo Store

Sekarang Paul Graham membidani perusahaan bisnis inkubator yang fokus dalam mendidik dan mencetak founder perusahaan IT bernama YCombinator!, di tengah-tengah kesibukan mendidik para calon pengusaha IT yang sukses, Paul Graham masih tetap menulis kode, diantaranya yang paling dia kuasai adalah menulis dalam bahasa pemrograman yang menurut saya eksotis

Bob Sadino

Walaupun sekarang telah menjadi luar biasa kaya, tetapi dia masih tetap rutin mendatangi Kem Chicks, turun langsung berinteraksi dengan pelanggan. Yah, saya menyukai gaya kepemimpinan yang seperti itu.

Memang benar kalau manusia bisa bertahan dan maju karena ketidakpuasan mereka karena tanpa ketidakpuasan niscaya manusia hanya akan “jalan di tempat”. Berkat ketidakpuasan-lah manusia bisa berkreasi dan mengembangkan diri, bahkan teori kebutuhan yang dicetuskan oleh Maslow pun pada intinya adalah perwujudan dari ketidakpuasan manusia.

Ketidakpuasan itu bisa menjadi sebuah pedang yang bermata dua kalo menurut saya, di satu sisi ketidakpuasan mendorong manusia untuk berkembang tetapi di sisi lain ketidakpuasan menyeret manusia pada ketidaksyukuran pada Allah. Dan sayang sekali karena lebih sering ketidakpuasan itu justru mendorong manusia untuk mengeluh dan tidak mensyukuri nikmat Allah. Ketidakpuasan memang telah mampu mendorong manusia untuk lebih maju dan berkembang, tetapi itu bukanlah suatu alasan bagi manusia untuk tidak bersyukur. Lalu dimanakah batas antara ketidakpuasan dan ketidaksyukuran manusia???

Ya, itulah sekelumit hasrat saya sebagai seorang “kuli IT”. Hasrat merupakan motivator pertama bagi jiwa untuk melakukan suatu tindakan. Betapa pentingnya arti hasrat bagi tindakan membuat seorang Descartes menyatakan bahwa hasrat juga merupakan jembatan antara passion yang lain dan tindakan nyata kita. Jadi hasrat sangat berpengaruh dalam perubahan kondisi potensial menjadi kondisi factual hidup kita. Segala potensi akan sia-sia tanpa adanya hasrat untuk mewujudkannya menjadi suatu aksi.

Kekayaan hati bukanlah ditentukan menang atau kalahnya kita dalam perbedaan, Namun dari bagaimana kita berlapang dada dan menerima perbedaan

Saya Hanya Kuli

Iklan