Menurutku, ada banyak hal yang membuat orang begitu fanatik dengan sesuatu yang di senanginya. Bisa dari faktor ketergantungan, faktor Lingkungan, faktor dari kemauan sendiri dan faktor x (diluar kekuasaan manusia). Semisal saya dan beberapa teman saya, sejak kecil di didik untuk patuh pada peraturan2 agama. Menjunjung nilai-nilai luhur dalam bermasyarakat, bahkan taat pada rambu2 lalu lintas.dalam hal ini , faktor ketergantungan dan faktor lingkungan berperan penting dalam mempengaruhi kami. Sedangkan pelaksanaannya tergantung dari faktor diri kami sendiri dan faktor x.

Dalam berorganisasi,bersosialisai kita juga pasti dihadapkan dengan peraturan-peraturan. Baik itu tertulis, maupun tidak.termasuk dalam kehidupan beragama. Dalam hal ini, saya yang terlahir dan ditakdirkan sebagai seorang muslim, tentunya akan mejadi benar benar seorang muslim 100% jika bisa menjalani kahidupan ini sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai spiritual yang Islami.Namun kenyataannya, saya tidak mampu melakukan itu secara kaffah dan menyeluruh.

Kehidupan beragama saya banyak terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran tokoh Islam Indonesia seperti Emha Ainun Nadjib, Ahmad Wahib, Ahnad Dahlan, Hasyim Asyari, Prof. Quraish Shihab, Gus Dur, Amin Rais, bahkan M.Natsir (Pendiri Masyumi, yang kala itu menentang keras idealism komunis) dan juga para Guru saya.. Sewaktu masih SMA dulu, saya berandai andai untuk menjadi seperti mereka. Ya, minimal berguna bagi orang lain. Sebab saya ini masih merasa kurang berguna dan kurang optimal dalm melakukan kebaikan-kebaikan yang dianjurkan oleh sang pemilik hidup saya.

Yah, Singosari… Kerajaan yang pernah berjaya dan disegani… Kini menjadi nama kota kecil berlabel kota santri di sebelah utara kabupaten Malang. Telah mempengaruhi saya hingga seperti ini dalam hal spiritualitas keislaman.

Tanpa kita sadari bahwa semangat bisa lahir lewat keterbatasan. Bahwa ketulusan itu tak ternilai dan jauh lebih mulia ketimbang sentuhan semu kebendaan dan matrealisme semata. Dan, seorang “ksatria” dalam kehidupan, lahir lewat kemauan, semangat dan perjuangan dari hati… Perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan menyebarkan kebaikan.

” Dan hidup adalah memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya……” (quote of Laskar Pelangi)

Belajar adalah proses alamiah manusia dalam usaha pengembangan dirinya untuk menjalani hidup yang lebih baik. Ketertarikan terhadap sesuatu akan mendorong atau memotivasi rasa ingin tahu seseorang dalam belajar. Tanpa rasa tertarik, orang akan belajar tanpa tujuan dan tidak ikhlas dalam belajar. Saya hanya sekedar belajar dan turut berbagi dengan kalian. Ngomong-ngomong soal berbagi, saya kembali teringat sebuah pesan guru saya, pesan itu berbentuk barisan puisi. Inilah puisi itu :

ILMUKU…..

Diciptakannya umat manusia,

Turunnya Al Quran,

Diangkatnya rosul,

Apakah hanya untuk

Kembalinya manusia pada surgaNya?

Karena itu ku giat belajar,

Menuntut ilmu, Pelajari kehidupan.

Ingat sejarah masa lalu,

Jalan hidup para rosul….

Ilmuku hadir untuk perubahan,

Terjun di masyarakat

Mengumandangkan indahnya masyarakat toyyibah

Mengabdi sebagai hambaNya..

inilah kebermaknaanku

inilah kebanggaanku

inilah falsafah ilmuku

kupersembahkan padaMu

Orang berilmu dan beradap tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negeri atau kampung halamanmu dan merantaulah

Merantauhlah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Biji emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika

tetap berada di dalam hutan.

Setelah menuntut ilmu, seseorang dituntut untuk mengamalkan ilmunya. Ilmu dicari bukan karena ilmu itu sendiri tapi karena hal lain, yaitu pengamalannya. Maka setiap ilmu agama dicari hanya karena ia sebagai perantara bagi amal, yakni beribadah kepada Alloh Ta’ala. Ilmu bukanlah tujuan akhir yang dicari, tetapi ia hanyalah perantara menuju pengamalan. Segala macam keutamaan ilmu hanya berlaku jika ilmu diamalkan. Seorang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya maka ilmu itu akan menjadi bencana, kerugian, dan penyesalan bagi dirinya. Sesungguhnya orang-orang yang berjalan di tengah gelapnya kebodohan akan tersesat. Begitu pula, akan tersesatlah mereka yang berjalan di atas jalan hawa nafsu.

Di tengah manusia-manusia yang makin tipis rasa kemanusiaannya, di tengah masyarakat yang mulai hilang rasa kepeduliannya, saya percaya masih ada orang-orang yang rela hatinya untuk berbagi dengan sesamanya.

I’m enjoying every moment here, every second of it, wishing there will no such thing as time… “Dalam setiap kejadian terdapat satu pesan dari Tuhan”. Bukankah semua yang ada didunia ini sudah ada diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, kita tinggal membacanya. Masalah intrepetasi itu benar atau salah adalah urusan kita, bagaimana ketika kita belajar membaca itu. Bagaimana sebelum kita bisa membaca dengan benar, kita juga berpikir dengan benar. Gusti Ora Sare (Tuhan tak pernah tidur).. Untuk sebuah kebaikan yang lebih besar harus melalui cara yang lebih baik. Using your brain and heart to see…

Hanya orang yang ingin tahu yang akan belajar, dan hanya orang yang tegas yang mampu mengatasi rintangan untuk dapat belajar. Nilai dari suatu pencarian selalu lebih mengasikkan bagi saya di bandingkan dengan nilai kecerdasan

Keyakinan di Singosari


Iklan