So be nice to everyone. You can say I did it my way, but there’s always a price to pay, maybe not now so you can smile happily for a while, and crying out loud painfully later on. The decision is yours. Been there done that, and I paid so expensive for that ignorance of others feeling and thought. Learning in hard way is another pain. Kehidupan yang saya jalani belakangan mengajarkan pelajaran ini dengan jelas. Berbagai kejutan hadir dan bermuara pada sebuah lingkaran yang berpusar tak jauh dari satu poros. Dunia nyata menuntut saya beradaptasi… “gajah” beban di kepala harus dikecilkan, hati harus semakin diluaskan.. saya berubah sesuai dengan lingkungan dimana saya berada.

Saya menyadari bahwa semua orang bertumbuh dengan caranya masing-masing. Berjalan sesuai rambu-rambu arah yang ditemukan di sepanjang perjalanan. Tak bisa kita memaksakan orang lain untuk mengerti jalan yang kita pilih, ketika mereka melalui pengalaman yang berbeda dan berinteraksi dengan manusia-manusia yang berbeda pula. Ada saatnya kita bertemu di persimpangan dan berjalan bersama, ada kalanya juga harus berpisah untuk menempuh jalan masing-masing. Mungkin berjumpa di persimpangan berikutnya, mungkin juga tidak. Tak pernah tahu, karena hidup adalah perjalanan.

Orang bijak berkata, ‘Hidup harus menjadi sebuah proses perbaikan yang terus berlanjut, membuang kejahatan dan mengembangkan kebaikan”. Jika kita ingin menjalani hidup tanpa rasa takut,kita harus memiliki hati nurani yang baik sebagai tiketnya.

“Manusia sesuai dengan apa yang ia yakini.”

[Anton Tsezkov]

Setiap tangisan hati yang merindu akan kehadiranNya, sejatinya adalah mengakui kelemahan diri pada yang Maha Kuat, tak ada yang bisa menghapusnya, kecuali hati yang tunduk pada ketawadhuannya…

Konsep diri yang seharusnya setiap orang memilikinya, karena hal ini akan menjadi sebuah kekuatan yang mampu menjaga keteraturan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan, baik secara keinternalan dalam diri kita atau dalam hubungan keseharian dengan lingkungan, mulai dari lingkungan terdekat bahkan yang asing bagi kita. Sebuah konsep yang mejadi kerangka akan terbentuknya sebuah sifat yang nantinya akan menjadi sebuah karakter yang melekat dalam behaviour seseorang, baik atau tidaknya performa yang akan muncul adalah hasil dari konsep diri yang dimilikinya, yang akan terlihat dari aktivitas dan tingkah laku, mulai dari cara berbicara, rangkaian kata yang nantinya akan menjadi sebuah kalimat yang akan diucapkan dan didengar oleh lawan bicara kita, sehingga orang yang berbicara dengan kita mampu menilai seperti apa dan bagaimana performa kita hanya dengan mendengar kata yang kita ucapkan, walaupun memang tidak secara general itu menjadi sebuah parameter.

Kita akan bisa membandingkan, antara orang yang sedang lemah semangat dan gairah hidupnya dengan orang yang memiliki semangat dan motivasi yang tinggi, hanya dengan melihat secara dzohir, mulai dari saat dia berbicara, sikap dan lainnya, walaupun kita tidak bisa juga mengatakan bahwa orang yang terlihat diam adalah orang yang tidak punya semangat, atau sebaliknya, orang yang aktif dan banyak berbicara adalah orang yang bersemangat dan mempunyai motivasi yang tinggi. Tapi setidaknya sebagai manusia, kita mampu menilai secara objektif dari dengan sudut pandang yang berbeda, sehingga kesimpulan yang kita ambil bukan hanya sekadar dugaan atau bahkan tebakan.

Bila sebutir pasir mempunyai makna dalam keberadaannya. Hidup manusia tentu mempunyai makna yang lebih besar lagi. Menjadi bermakna dalam hidup berarti menjadikan hidup itu bermanfaat bagi yang lain.

“Yusyiru anna Muallifaha Dzakiyyah”. Manusia diciptakan untuk sesuatu yang agung. Tidaklah mereka ada untuk permainan dan kesia-siaan. Iya, pesan yang indah dan bermanfaat yang seringkali diucapkan oleh guru saya. By problems of life we can ravel a lot of things. By words was we thinking , we can everything will be clearer..Yah. Semoga saja kita bisa menjadi pembelajar seumur hidup dan terus berusaha memperbaiki diri setiap hari.

Istana yang megah tentu tak bisa berdiri tanpa ikut sertanya sebutir pasir. Satu juta tak akan menjadi satu juta jika kurang satu rupiah saja. Kebahagiaan orang lain tentu tak kan lengkap tanpa kehadiran kita. Karena meski kita hanya satu dan bukan apa-apa bagi mereka, kehadiran kita telah mewarnai mereka. Entah menjadi semakin indah atau semakin buruk. Yang penting mengubah paradigma kita. Bukan kita yang membutuhkan mereka tapi mereka yang membutuhkan kita. Bukan kita yang diubah oleh mereka tapi kita yang mengubah mereka. Yah, intinya adalah hidup kita bisa bermanfaat dan mambawa arti bagi banyak orang.

Dalam konteks yang lain, saya juga selalu berusaha untuk membawa arti dan menjadi seorang yang bermakna di mata Allah. Ketika sebagian kita tengah terlelap, ada segelintir jiwa yang terbangun dan berdiri, kemudian bersujud kepada pemiliknya. Ketika dunia gulita, ada titik-titik cahaya yang bersinar, sinarnya begitu murni, semurni kilauan mutiara, yah…sinar itu adalah doa dalam ketawadhu’an ketika di tengah tahajud yang khusu’. Ketika dunia dahaga, ada tetes-tetes air, tetesannya sebening embun pagi, membasahi hati yang pilu, menyuburkan jiwa yang tandus. Bukan mata air kautsar, melainkan air mata jiwa-jiwa suci bersih yang senantiasa ikhlas merindukan Tuhannya. Ah..betapa indahnya jika saya bisa menjadi pribadi yang se-perfect itu.

Ketika saya merenung, ada beberapa kebanggaan yang membuat saya semakin bersyukur terhadap usia yang masih Allah titipkan pada saya :

Saya bangga pada mereka yang hidup sederhana, bukan karena mereka tidak sanggup untuk hidup dalam kemewahan, tapi karena mereka tidak ingin kemewahan membuat hati mereka menjadi terikat pada harta yang mereka miliki.

Saya bangga pada mereka yang menjaga nama baik mereka, bukan karena mereka berharapa pujian dari banyak orang, tapi karena Tuhan mereka memerintahkan mereka untuk menjaga diri dari fitnah, fitnah bagi orang lain dan juga diri mereka sendiri.

Saya bangga pada mereka yang namanya harum di mata masyarakat akhirat, bukan karena mereka tidak hidup di dunia, tapi karena kehidupan dunia tidak mampu menipu dan memalingkan pandangan mereka dari kehidupan akhirat.

Saya bangga pada mereka yang berjuang keras untuk mencapai cita-cita mereka, bukan karena mereka tidak mampu melalui jalan pintas yang mudah, tapi karena mereka tidak mau mereka tidak mendapat pelajaran dari setiap proses yang mereka hadapi.

Saya bangga pada mereka yang tidak pernah mengeluh, bukan karena mereka tidak pernah merasa jenuh, bukan karena mereka tidak pernah diselimuti peluh, tapi karena mereka mengerti, semua yang mereka alami adalah karena Tuhan mereka ingin mereka belajar dari itu, karena pasti ada pelajaran yang lebih berharga yang terdapat didalamnya.

Saya bangga pada mereka yang senang menjaga kepercayaan, bukan karena mereka sok merasa lebih baik dari yang lain, bukan karena mereka merasa yang paling mampu, tapi karena dengan itulah do’a-do’a tulus akan terus mengalir kepada mereka, karena dengan itulah Tuhan mereka akan tetap menjaga mereka.

Saya bangga pada mereka yang begitu tulus menbantu sesama, bukan karena mereka berharap balas budi, bukan karena mereka haus ucapan terima kasih, tapi karena mereka ingin Tuhan mereka selalu membantu mereka.

Saya bangga pada mereka walaupun saya bukan termasuk ke dalam golongan mereka, saya bangga walaupun hanya bisa menjadi teman mereka, Saya bangga karena Tuhanku pun pasti bangga kepada mereka.

Saya bangga karena merekalah yang selalu mengulurkan tangan dengan senyuman yang selalu hangat mengajak saya turut berbahagia seperti mereka, saya bangga pada mereka walaupun saya masih jauh dari mereka… dan saya bangga kepada mereka karenanya saya ingin bertemu mereka…bertemu mereka di kehidupan kekal dalam kebahagian pada kehidupan akhirat kelak…

Dan saya selalu mengingat pesan yang seringkali dikatakan guru saya: “Jadilah manusia terbaik, yaitu manusia yang bisa membawa sebanyak-banyaknya makna bagi banyak orang”.

Pesan dari guru saya

Iklan