Saat ribuan detik bergerak menuju pergantian waktu. Saat ribuan panah terlontar tanpa sarana. Saya duduk dalam kesederhanaan. Menikmati kesenyapan malam untuk sekedar menapaki hening. Berusaha mentafakuri segala yang pernah menimpa selama bertahun-tahun kebelakang. Hari ini saya diberi kenikmatan lebih oleh Tuhan. Dan kembali lagi saya menguraikan itu dalam coretan ini.

“Rumput tetangga selalu lebih hijau…”

Quote ini tentu sangat kita kenal. Dimana apa yang dimiliki oleh orang lain selalu terlihat lebih baik. Sometimes ini dapat membuat kita terpacu, ketika melihat kelebihan orang lain dan ingin seperti mereka. Namun disisi lain juga bisa menjerumuskan. Karena hanya akan menumbuh-kembangkan rasa iri hati, dengki, dan sebagainya. Dan salah satu impact yang paling fatal menurut saya adalah : jadi kehilangan jati diri. Ingatan saya kembali kemasa kecil. Semasa SD, semasa TK. Saya memang dibesarkan dalam berbagai kesulitan. Ingat betapa irinya saya melihat banyak teman-teman diantar ke sekolah oleh orang tuanya. Saya? Hmm… boro-boro. Himpitan ekonomi membuat orang tua jelas tidak punya waktu mengantar saya sekolah. Yang ada saya bahkan harus ikut bangun pagi, menyiapkan gorengan, kacang ijo dan ketan hitam untuk diantar ke kantin beberapa sekolah, sebelum saya sendiri sekolah.

Hal ini berlanjut sampai SMA. Uang 3000 perak untuk naik angkutan jarang saya gunakan. Sayang, mending buat jajan. Jadi untuk solusi hal itu, saya lebih milih pake sepeda, selain tiap pagi bisa olah raga melatih otot kaki, juga murah pastinya. Beruntunglah kampung halaman saya di Malang sana sangat sejuk. Bersepeda atau berjalan kaki di sana justru sangat nyaman. Begitupula ketika banyak teman ikut kursus ini itu. Saya? Hehehhe.. Ngga ngimpi deh :. Ya walaupun ketika saya menginjak kelas 1 SMA, ada seorang teman yang menawarkan kursus gratis, dengan 1 syarat, yaitu saya harus membantu dan tinggal bersama ia di panti asuhan/ semacam kayak yayasan sosial gitu lah.

Mundur di akhir SMP, saya mengenal yang namanya pertama kali jatuh cinta. Dan wanita yang bikin saya jatuh cinta adalah anak salah seorang dokter spesialis terkenal di Malang. Cantik jelas. Dan kaya. Berkenalan dengannya membuat saya mengenal kehidupannya. Kembali, rasa iri itu hinggap. Keluarganya sangat harmonis. Hangat. Pendidikan mereka pun diperhatikan dengan baik. Berbagai kursus yang berbiaya tidak rendah dia ikuti. Senyum, cinta kasih, terhampar dirumah itu. Dalam hati, saya cuma bisa bilang “enak sekali yah, hidupnya…” Dari SMP sampai SMA, Saya jarang membawa teman wanita ini kerumah. Malu. Ngga pede. Padahal rumah sering jadi markas nongkrongnya anak-anak. Dia cuma pernah datang 2 kali, itupun waktu lebaran. Dan satu ketika, dia tiba-tiba nyelutuk “Enak banget kamu ya Her…”.

Nah lo. Saya bengong. Lha kok bisa tho? Rumah saya meski ngga jelek tapi jelas rumah tua di lingkungan pasar nan padat dan agak kumuh beberapa tahun yang lalu sebelum keluarga kami akhirnya pindah ke lingkungan yang lebih nyaman dan bersih dari suasana kumuh. Dia tajir, saya ngga. Kemana-mana diantar jemput, saya jalan kaki. Dan sejuta alesan lainnya. Saya bertanya padanya, kok bisa? Lalu dia menjawab.

“Iya. Kamu enak. Orang tuamu tidak pernah melarang kamu ngapain. Ikut ini itu, pulang jam berapa aja, terserah. Naik gunung seenak udel gak dimarahin. Trus kamu pinter, so ngga harus ikut kursus ini itu yang membosankan. Kamu tiap hari bisa pulang bareng teman-teman, jalan kaki dan nongkrong di puncak Kota Batu sampe sore sementara aku pulang sekolah udah dijemput dan harus kursus, bla bla bla…” Tiba-tiba dia nyerocos panjang lebar tentang betapa indahnya hidup saya. Dan saya? Cuma bisa bengong ngga habis pikir.

Saya ingat betul peristiwa itu.

Ya, mereka (ortu) memang seperti membebaskan saya berbuat apa saja. Sebenarnya bukan karena orang tua percaya atau bagaimana. Tapi mungkin karena mereka tahu saya orangnya keras kepala. Makin dilarang makin jadi. Pernah dilarang nginep dirumah teman, saya malah ngga pulang 1 minggu dan nginep dirumah teman tiap hari. Pernah dilarang naik gunung, dan selama 4 hari saya digunung dan bolos sekolah. Pernah ibu mengingatkan untuk tidak baca komik, dan persis 1 hari sebelum ujian saya sewa komik 20 biji dan seharian cuma baca komik. So sebenarnya bukan dibebasin, tapi karena mereka capek. Lagian, ibu dan bapak sangat sibuk. Ya, buat cari makan tentunya.

Saya juga baru “ngeh” betapa adil Tuhan. Saya tidak ikut kursus ini itu. Ngga mampu bayar. Jarang beli buku (karena emang ngga mampu beli), nyatet juga jarang (Saya baru rajin nyatet pas SMA karena tiba-tiba beberapa teman wanita pengen pinjem buku catetan). Tempat duduk favorit meja paling belakang dekat pintu keluar supaya kalau lagi malas, guru tidak melihat saya keluar kelas. Alhamdulillah memang, saya relatif tidak pernah lepas dari 3 besar. Lomba matematika udah langganan dari SD. Dapat angka 7 ulangan matematika bisa bikin saya uring-uringan seharian. Yah, alhamdulillah emang ngga bego-bego amat.

Oh ya. (semoga ini tidak dilihat sebagai pembelaan) sebenarnya saya ngga nakal-nakal banget sih. Cuma sekali lagi memang keras kepala. Kalau ibu datang ke kamar untuk mengecek apakah saya belajar atau tidak, saya malah baca komik. Dan ketika beliau tidur, baru belajar. Tengah malem. Makanya, kalau saya susah tidur sampai sekarang sepertinya memang sudah bawaan dari jaman dulu. Omongan “pacar monyet” dulu itu membuat saya berfikir. Ya. Kapan saya terakhir kali mensyukuri hidup?.

Saya memang tidak dibesarkan dalam cinta kasih dalam perspektif pada umumnya. Tidak ada yang namanya ulang tahun dirayakan. Tidak ada yang namanya dianter kesekolah. Tidak ada yang namanya diberi hadiah meski tiap cawu atau semester selalu juara kelas, atau dapat beasiswa, atau menang lomba karya ilmiah, olimpiade matematika, dan berbagai prestasi lainnya. Tidak ada yang namanya orang tua menemani ketika saya mengambil raport, dan berbagai macam hal yang saya lihat diberikan oleh orang tua lainnya pada anak-anak mereka. Lucunya, saya tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang. Kasih sayang dalam hidup saya bertumpu pada Allah.

Buat saya, mereka (ortu) telah mengajari banyak hal. Tanpa bicara, tanpa meminta. Mereka justru telah mengajari saya tentang banyak hal yang saat ini saya rasakan jauh lebih esensial dan fundamental. Mereka mengajari dengan perbuatan, dengan peristiwa. Entah itu tentang peristiwa baik ataupun tidak baik. Bahkan dalam ketidakberdayaan dan ketidakmampuan, saya telah diajari. Tentang hidup….

Saya ingat betapa saya sering sebal ketika lagi jalan kaki, lalu ada teman bilang “duh panas banget nih” atau “duh pegel nih”. Atau kalau misal kita ada latihan PBB (latihan baris berbaris) harus sampai malem karena udah deket waktu lomba dan ada yang bilang “duh, jangan malem dong, takut nih” atau “ngga boleh sama mama” . dalam anggapan saya, Ih, manja banget sih!. Begitu pula ketika saya misal harus jalan keluar kota dan ada yang tanya “ih, ngga takut kamu? Emang punya sodara disana?“. Tanpa disadari perjalanan hidup itu telah membuat saya survive. Dan itu adalah hasil didikan mereka, kedua orang tua saya yang begitu saya banggakan.

Terlalu banyak hal yang saya rasakan dalam hidup. Tapi terus terang, mereka, orang tua saya, adalah guru terbaik yang pernah saya punya, tanpa sering mengajari, tanpa sering macem-macem. Meskipun saya jarang mendapatkan apa yang pada umumnya diperoleh anak-anak diusianya dari orang tua mereka. Mereka mungkin jarang memberikan apresiasi, tapi saya tahu mereka bangga akan saya. Mereka jarang mengajari, namun memberikan pelajaran hidup sepanjang hidupnya. Mereka jarang mengungkap kata cinta. Tapi saya sampai saat ini dapat merasakan cinta yang luar biasa dari mereka. Saya percaya, sepanjang hidup mereka, mereka memperhatikan saya.

Apakah saya mengidolakan mereka?Jelas.

Am i proud of them? Off course.

Namun atas berbagai peristiwa yang saya alami, seberapa besarpun pengaruh mereka atas hidup, saya menyadari bahwa saya adalah saya, mereka adalah mereka. Saya memang belajar banyak hal atas mereka. Dan sama halnya dengan proses pembelajaran yang saya alami di berbagai episode dalam hidup ini, mereka adalah warna. Siapa saya tetap saja ditentukan oleh saya sendiri.

Saya juga tidak bisa men-judge bahwa pola dan cara mereka mendidik yang menurut saya tepat, dapat saya terapkan ke anak-anak saya nanti misalnya. Atau konsepsi yang saya pahami dari mereka, bisa saya generalisir terhadap orang lain. Setiap generasi memiliki masa-nya sendiri. Setiap induvidu, dan peristiwa, memiliki ceritanya sendiri. Itulah salah satu ke-Maha-Dahsyat-an Nya dimata saya, Sang Maha Sutradara yang mampu menciptakan cerita yang tak pernah sama.

Saya merasakan bahwa tidak ada yang bisa dipaksakan. Justru perlu banyak parameter lain agar kita dapat menemukan kombinasi yang tepat untuk setiap hubungan dan peristiwa. Toh ada banyak orang yang berhasil atas berbagai fasilitas yang berlimpah yang mereka rasakan, sebagaimana juga ada banyak orang yang rusak atas fasilitas yang berlebihan tersebut. Begitu pula orang-orang yang mengalami peristiwa hidup seperti saya.

Saya selalu meyakini 1 hal, bahwa default-nya semua orang tua menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. So, disinilah pentingnya mengenali diri sendiri, yang terus berevolusi dalam pencarian jati diri. So? Always learning, be your self, and understand each other. Ah..Sepertinya hari ini saya sedang mellow. Tiba-tiba saya rindu dengan mereka. I love you Mom… Dad… Wish all the best for both of you…Semoga Allah selalu menjaga kalian…

Dari mereka berdua saya banyak belajar terutama tentang apakah itu jati diri. Dan setiap falsafah dan filosofi mereka selalu saya pegang hingga hari ini, kebahagian akan saya raih ketika saya selalu bersabar dan bersyukur. Kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati, budi dan ilmu. Kebahagiaan hakiki adalah ketika hidup saya bermanfaat bagi orang lain dan mampu membuat orang lain lebih bahagia dari saya. Destinasi tertinggi dalam hidup saya adalah ketika saya menjadi hamba Allah dengan sebenarnya. Kebahagiaan itu ada dalam hati, jiwa dan ruh, bukan sesuatu yang berada diluar kita. Tidak ada yang instant atau serba cepat di dunia ini, semua butuh proses pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati dan kecewa dengan yang serba instant itu . Saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya, tapi saya harus dapat melakukan kebaikan untuk orang lain. Shalat malam, berdoa dan bermunajat di dalamnya adalah sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan ini. Dengan kekuatan itu saya berani hidup dan berani menghadapi semua resiko kehidupan. Ilmu tidak akan bermanfaat kecuali apabila dibarengi pengamalan, dan pengamalan tiada arti tanpa disertai keikhlasan. Tidaklah penting apa yang saya miliki, tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya .Yah, seperti itulah jati diri saya.

Tentang Mereka (Jati Diri)

Iklan