Hidup tak tampak rumit di sini. Sungguh hidup itu jauh berbeda satu sama lain,yah itu lah yang namanya colorful of life. Tapi seperti juga, saya memilih untuk menjalani setiap bentuk dan variasi kehidupan, menikmatinya setiap keunikannya dengan rasa syukur, menjelajahi setiap rasa penasaran kita, dan terus rajin menulis..

Cuma akan mengikuti alur perjalanan hidup yang sudah Allah siapkan. Saya yakin skenario Allah selalu indah buat saya. Just keep on fighting till the last blood drops!. Tidak ada rahmat Allah yang saya sangsikan. Semuanya saya syukuri baik yang membuat bahagia maupun yang membuat sedih. Saya sadar, perasaan sedih mungkin karena pemahaman saya terhadap maksud Allah yang agak berbeda. Allah tahu yang terbaik buat saya, jadi ketika sesuatu yang saya harapkan tidak terkabul dan membuat saya sedih, justru Allah sedang menyelamatkan saya. Tidak pernah Allah menzhalimi umatnya. Itu yang saya yakini.

Ketika tadi pagi saya memulai beraktifitas, saya mengecek email terdahulu, yang sudah terkubur di inbox saya dari beberapa tahun yang lalu, dan saya secara tidak sengaja menemukan email seperti ini :

For my beloved one “heriyatno”

I’ve an amazing years with you and now it’s time to try and thanks to you who’s helped myself and the lads out in the past. I could never repay you for your love and care and support over the past years. To you I owe everything. Thanks for just being there, its been pleasure growing up with you. By just being you!!!I’m so proud to have such a funny, trustworthy, nice person to help when I need someone and you know i’ll always be there for you too.

I know we had some good times, its sad but now we gotta say goodbye. You know I love you, I cant deny. I cant say we didn’t try to make it work for you and I. I know it hurts so much but it’s best for us. Somewhere along this windy road we lost the trust. So i’ll walk away so you don’t have to see me cry. It’s killing me so, why don’t you go.

If love was a sport, we’re not on the same team. You and I are destined to lose. If love was an ocean then we are just a stream, Cause love isnt for me and You.

If love was a a bird, then we wouldn’t have wings. If love was a sky we’d be blue. If love was a choir, You and I could never sing. Cause love isn’t for me and you. Separated.

So why don’t you go your way and i’ll go mine. Live your life, and i’ll live mine. You’ll do well and i’ll be fine. Cause we’re better off, separated.

Footnote :

Di hari perpisahan itu, ia memberi saya hadiah kenang-kenangan berupa tasbih. Di dalamnya terselip lipatan kertas yang ditempeli hiasan hati dari beludru. Dia menulis : “Ini aku gunakan sebagai tanda cintaku pada Yang Maha Hidup dan kali ini aku berikan kepada seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupku”.

a form of dhikr that repetitive utterances of glorifying God

Pelajaran yang coba saya petik dalam hal ini adalah, jangan malu belajar pada sesuatu yang dianggap remeh, karena tanpa sadar karena keremehannya itu dapat menjadikan kita lebih dewasa. Dewasa itu indah meski kekanak-kanakan seringnya menyenangkan. Memilih jalan hidup itu pasti whole package, jadi gak semua berjalan manis tapi pasti ada paket getirnya juga. Hidup itu paket lengkap yang akan mendewasakan kita semua dengan caranya masing-masing dan unik. Just be carefull in your actions, think deeply before you acts and be a responsible person! At least to yourself and to the God who’ve created you. Lets coloring our life with our believeness in everything, in a positives way of course.

Mengenal, berteman dan menjalin hubungan sama dia bikin hidup saya tambah kaya. Kaya akan pengalaman-pengalaman baru (yang paling berharga adalah pengalaman spiritual, yang bikin saya jadi lebih cinta kepada Allah) dari cerita-ceritanya dia yang sering bikin saya takjub, bahagia menjadi seorang muslim, bangga memilih jalan hidup yang namanya islam, mengelus dada karena bersyukur menjadi lebih mengenal Allah. Ya, saya pada akhirnya juga sadar. Bagaimanapun kita tidak berhak untuk menentukan jalan hidup seseorang, apalagi pilihan jalan hidup itu dipilih dengan keyakinan yang sangat besar.

Disakiti dan patah hati adalah dua hal yang seringkali saya reguk dalam urusan perasaan. Disakiti kadang membuat saya meradang dan berang, tapi kemudian saya tersadar, dengan mengikhlaskan hati untuk sesuatu yang indah maka saya akan mendapat makna yang sesungguhnya akan kesetiaan. Perasaan tersakiti bisa menjadi sangat indah apabila kita memaknainya dengan benar, menganggapnya sesuatu yang akan mendewasakan dan bukannya mengkerdilkan jiwa. Dengan perasaan sakit itu saya dengan gagah bisa membawa diri saya terbang ke destinasi tahapan fase yang lebih tinggi dalam hidup. Tak hanya sekedar untuk menunjukkan pada dirinya bahwa saya bisa bertahan.

Ketika semua yang kita lakukan tidak bersumber dari hati, maka semuanya akan bermuara pada kesedihan, kebencian. Hati adalah awal dari semua kebaikan, semua rasa sehingga ketika hati kita berkata bahwa kita tidak bisa bersama lagi, kita harus mengikuti intuisi itu. Banyak hal yang tak bisa dilontarkan dalam bentuk kata, tapi bisa dimaknai dengan hati. Tak perlu bersusah payah mencari penyangkalan melalui suara. Cukup kita lihat dan raba hati kita maka kita akan tersadar bahwa pembelajaran yang paling baik adalah luasnya hati untuk menerima dan menampung segala kenyataan dalam hidup.

Tidak ada dalam hidup ini yang jauh lebih indah selain ikhlas dan berlaku bijaksana. Tapi kita semua belajar satu hal bukan? “Yaitu Allah pasti maha adil”, Hidup ternyata tidak selamanya gampang. Berkutat dengan prinsip yang terkadang luntur oleh keegoisan itu melelahkan, tapi mendewasakan. Membuat kita matang dalam mengambil keputusan. Ah…Allah memang selalu baik terhadap saya.

Apapun yang kita jalani, kita tak boleh benci ato dendam dengan orang lain, atas dasar penilaian orang itu pernah berbuat salah terhadap kita dan ia pernah membuat kita merasa redup. Kenapa kita terkadang sebagai manusia justru sibuk menghakimi dan menilai orang? Apakah tidak lebih baik bagi kita untuk bercermin, menelaah kekurangan kita sebagai hamba Allah. Tidak perlulah bertindak sebagai manusia Allah. Tidak perlulah membawa pengadilan Allah ke dunia, karena sebagaimana saya yakini bahwa pengadilan Allah itu pasti ada, dan hanya Allah yang berhak melakukannya, bukan manusia.

Saya kemudian teringat bahwa saya pernah berpikir kalau saya selalu memiliki solusi untuk orang lain tapi tidak pernah memiliki solusi untuk diri saya sendiri. Solusi yang saya berikan tidak pernah saya bisa terapkan pada diri saya sendiri, meskipun masalahnya relatif sama. Mungkin sudah hukum alam, itulah sebabnya dokter juga butuh dokter lain untuk menyembuhkan penyakitnya. Berkah Allah mana lagi yang akan saya sangsikan? Sekarang, ketika saya sudah berdiri seperti ini, saya tidak mau berpikir bahwa itu adalah hasil usaha saya sendiri. Semua berkat campur tangan Allah. Tuhan menyayangi saya dengan jalan-Nya. Seringnya kasih sayang Allah tidak bisa dinalar dengan logika yah…

Separated

Iklan