Tak terasa sudah dua tahun saya menghabiskan banyak waktu di kota ini, kota yang di juluki dengan bumi delta, kota yang menjadi sorotan internasional karena sumber daya migasnya yang begitu luar biasa. Ya, kota itu adalah Sidoarjo. Dimana pun Allah menempatkan langkah kaki saya berpijak, di situ saya akan belajar banyak hal tentang segala “pembelajaran” yang sebisa mungkin saya gali dan diambil hikmahnya.

Dalam rentan waktu dua tahun itu, saya mengenal seorang sahabat yang bernama Amala Machfudia. Saya mengenalnya sebagai seorang yang “cacat”, cacat bukan dalam artian fisik. Cacat yang saya maksud di sini adalah sejak kecil, bahkan sejak lahir, ia tak pernah sekalipun mengenal apa itu figure ayah. Jadi bisa saya simpulkan bahwa sahabat saya ini, dibesarkan dengan kondisi psikologis keluarga yang jauh dari sempurna. Walaupun dia mempunyai seorang kakak yang sangat menyayanginya, tapi toh sang kakak tersebut harus “pergi” karena panggilan Allah. Mungkin dengan kepincangan kasih sayang itu, ia merasa sebatang kara, hanya mempunyai seorang ibu yang semakin beranjak rentah. Ketika ia mencoba mendapatkan kasih sayang dari lingkungan pergaulannya, atau kawan-kawannya, tidak jarang justru hal sebaliknya yang ia peroleh. Suatu justifikasi negatif sebagai seorang yang dibesarkan tanpa ayah. Hal tersebut juga membuatnya sedikit trauma dengan makluk yang bernama laki-laki. Banyak orang yang baik dan care terhadap ia, namun sungguh menyakitkan ketika akhirnya tau bahwa semua kebaikan itu, bukan berdasarkan suatu penerimaan terhadap kondisi dia yang apa adanya, tapi lebih karena tendesi atas dasar “kasihan”. Ya, sangat menyakitkan memang, jika kita harus dispesialkan karena orang lain memandang kita lemah, dengan presepsi rasa kasihan itu. Saya juga tak bisa membayangkan, seperti apa rasa sakitnya dia, ketika di dera rasa iri melihat kesempurnaan kasih sayang dan keutuhan keluarga teman-teman sebayanya. Tulisan kali ini memang saya persembahkan untuk sahabat saya ini. Karena besok 9 Mei, ia akan berulang tahun. Semoga ia menyempatkan untuk membaca tulisan ini.

Dalam pandangan saya, menjalani hidup sendiri bukan berarti kita tidak bisa bahagia. Bahagia itu diciptakan, bukan pemberian, Janganlah kita mengeluh karena kita “merasa” sendirian. Jangan menggugat karena Allah menciptakan kita terlahir tanpa kasih sayang keluarga yang utuh. Hidup akan jauh lebih bermakna ketika kita menjalani semua yang sudah Allah beri dengan keikhlasan luar biasa, meskipun yang Allah beri ternyata adalah kesendirian. Ada maksud di balik semua penciptaan takdir dalam hidup kita, tapi seringkali kita tidak sabar untuk menterjemahkannya.

Yang terbaik bagi kita hanya kita yang tahu, oleh karena itu jangan pernah menggunakan kacamata orang untuk menilai hidup kita. Gunakan kacamata kita sendiri, niscaya kita akan selalu bersyukur tentang apapun yang pernah, sedang atau akan kita jalani. Tapi ketika pengalaman mengajarkan saya sesuatu, maka saya harus lebih bijaksana dalam memaknai proses pembelajarannya itu. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil langkah yang akan saya ambil atau tidak sembrono dalam memilih pijakan yang akan saya titih adalah hal yang banyak diajarkan oleh pengalaman. Pengalaman yang saya maknai kali ini bersama orang-orang di sekitar kehidupan saya. Mungkin itu keluarga, rekan kerja, teman, sahabat, atau guru saya.

Terlahir dengan anugerah sebagai orang yang selalu menjadi tempat curhat orang lain, membuat saya menjadi semakin kaya hati. Kaya pengalaman. Saya bisa belajar dari masalah teman atau kerabat, dan itu mendewasakan. Menjadi kuat dengan menganalisis masalah dan mencarikan solusinya, menjadi bijaksana dengan memecahkan masalah melalui banyak pertimbangan baik dan buruk. Menjadi lebih baik dengan menghindari masalah yang sama. Bukan hidup namanya kalau hanya dikasih senyum dan bahagia. Sedih dan air mata jadi paket lengkap dalam hidup. Saya berdoa agar Allah mengkonversi segala kesedihan dan ketidaksempurnaan dalam kehidupan sahabat saya ini menjadi hikmah dan bahagia. Bahagia dengan cara yang memang telah Allah gariskan buat dia. Bahagia yang ia rasakan bahkan ketika banyak hal yang tidak bisa ia raih. Bahagia karena ia yakin ia masih punya Allah yang tidak pernah meninggalkannya, memiliki orang-orang yang selalu mencintai dan mendukungnya, serta para sahabat yang selalu ada buat dia. Maka kebahagiaannya sudah lebih dari cukup, kalo menurut saya sebagai subtitusi kasih sayang tak pernah ia dapatkan dari sosok sang ayah. !

Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di depan. Setahun, dua tahun, entah apa yang akan terjadi. Jangan menutup hati kita untuk siapapun orang baru disana, siapa tahu kita menemukan seseorang yang lebih tulus untuk selalu mengajak kita tetap mencintai Allah. Karena seperti diri saya (sebagai seorang teman), sekarang kita sedang berjalan dalam track bersama untuk saling berlomba mengejar kebaikan. Saya berharap ia melakukan hal yang sama. Setidaknya mencoba membuka hati terhadap semua perubahan dan terpaan hidup.

Saya hanya bisa berharap semoga ia dapat mengalami transformasi lanjut menjadi sosok yang jauh lebih baik dari sekarang. Berubah menjadi seseorang yang hidup dalam kebenaran menurut Allah, bukan kebenaran yang menurut dirinya atau kehendak orang-orang yang selalu menekan perasaannya. Ya Allah, saya hanya ingin dia bahagia. Kalaupun bahagia menurutnya sangat sulit untuk dikabulkan, maka ijinkan ia meminta diberi kebesaran hati untuk berdamai dengan jalan yang telah Engkau gariskan. Ijinkan ia meminta perasaan sederhana yang terus bertambah subur dalam memaknai takdir yang telah Engkau tuliskan. Biarkan ia terus belajar mengerti bahagia yang telah Engkau tentukan.

Selamat ulang tahun kawan, I hope u always happy up there. Do your best, and let God do the rest. Segala permasalahan, kebahagiaan, kesulitan, kesedihan, intinya adalah sebuah proses pembelajaran. Belajar memaknai hidup melalui berbagi. Berbagi dengan siapapun yang bersedia, atau setidaknya berbagi dengan diri sendiri. Menjadikannya semacam testimoni dalam perjalanan hidup. Saya mengenal sahabat saya ini melalui suatu ketidak-sengajaan. Belajar mencoba mengenali jati dirinya. Mengorek detail relief hatinya yang seakan beku oleh banyak kekecewaan . Saya hanya yakin bahwa dibalik sikap tertutup yang dia pakai, saya akan menemukan “pembelajaran” baru yang lain tentang sesuatu kemaha besaran Allah.

Terima kasih Ya Allah telah mengajarkanku menjadi kuat dengan caramu. Terima kasih telah menjadikanku dewasa lewat banyak pembelajaran yang luar biasa.

Sometimes, life is quite funny enough and like a puzzle. Life learned me to always optimist. Positive on any part of life. Placed our dream on the highest placed that maybe we could not reach. Start now, from what kind of things that we can make it. Learned for the past, focus for what we wanna do, innovated on how we can do.

Life asked me to face any barrier, solve any problem, always try, pray, and then lets God to play Gods rules. Defendless for the result.

But sometimes life never stop to examine. Bring us to the limit. Then when the limit coming, we just have to choice, despondent, defenseless, or keep fighting. In this situation, life examine our endurance. Sometimes life push us much, to make us despondent. To make us never think positive anymore, to make us stop fighting, to feel weak. Or maybe life give a sign about what are we doing is right or wrong? Weak guy will give up. Strong guy will think, it’s a good news. Because after hard life, good life will coming. What a wise I will do? Maybe I will thinking. Introspection. Looking inside.

Then God will say : Yes. But it’s not the point. The point is, to make you understand that there’s a very great intangible and powerful things in this life.

When I’m in this situation, I just can say : ” let my heart pick the choice, let the foot bring me where, then let God place where I will end my life…. “ and try to keep smiling, although it’s not easy anymore…and always thankful to Allah …

Doa untuk dia

an

Iklan