Saya yakin semua orang pasti pernah berjanji. Terlepas dari ditepati atau tidak, dengan demikian memperlihatkan bahwa janji itu jaraknya sangat dekat dengan mulut kita. Permasalahan janji itu muncul bukan karena menepati janji, tapi justru karena ingkar terhadap janji yang sudah dibuat.

Ternyata banyak ya…fenomena janji dibenturkan dengan skala prioritas. Atas dasar skala prioritas, maka janji lain yang bahkan sudah lama diagendakan akan begitu saja ditunda atau dibatalkan demi janji lain yang katanya lebih menjanjikan. Benarkah sika-sikap seperti itu? Entahlah…sekali lagi untuk saya itu berlebihan.

Buat saya, janji yang satu sama pentingnya dengan janji yang lain. Tidak bisa begitu saja ditunda atau dibatalkan. Kalau kita kembali pada pengertian janji adalah hutang, dan pada kesempatan yang sama kita membatalkan janji yang satu dengan alasan ada yang lebih penting (lagi-lagi ini tentang skala prioritas), maka sudah barang tentu pada kemudian hari kita harus menepati janji itu. Masalahnya adalah, apakah kita masih punya kesempatan untuk menepati janji? Bagaimana kalau seandainya 1 menit setelah kita melaksanakan agenda yang lebih penting itu kita meninggal alias mati? Maka jawabannya adalah kita akan punya hutang. Itu kalau yang ditunda atau dibatalkan itu 1 janji, bagaimana kalau yang ditunda atau dibatalkan itu banyak? Wah…jadilah kita sie penghutang janji.

Berapakah harga sebuah janji dan komitmen dimata anda?

Bagi saya, AMAT SANGAT BESAR!. Sebagai orang yang tidak memiliki apa-apa secara materi baik dalam bentuk harta benda, keunggulan fisik, dukungan “jaringan” atau network sebagaimana yang dimiliki oleh sebagian orang yang beruntung, ditambah dengan posisi sebagai perantau yang tidak bisa menggantungkan diri pada keluarga, saya selalu mengupayakan untuk memenuhi janji. Kenapa? Hanya itu yang saya miliki. Entah akan menjadi apa saya nantinya, jika satu-satunya yang bisa saya pegang tidak lagi saya bisa andalkan.

Ketidak-unggulan atas hal-hal yang terlihat dan terukur saya coba untuk dijadikan semangat dan pemacu, dengan meningkatkan kemampuan-kemampuan yang lain yang saya miliki. Saya sangat percaya akan hukum keadilan Tuhan. Saya percaya akan kasih dan sayang-Nya. Atas segala kekurangan yang saya miliki, saya mensyukurinya dengan amat sangat.

Ada pengertian yang sangat dalam bagi saya tentang janji. Janji dan komitmen itu bukan sekedar memenuhi apa yang telah kita janjikan. Tapi memenuhi janji adalah sebuah pekerjaan sepenuh hati, sekuat tenaga, sebuah kegiatan yang dipenuhi dengan nilai-nilai professionalisme, memberikan lebih dari apa yang kita janjikan. Memenuhi janji dan komitmen tidak bisa hanya dipenuhi dengan omongan saja, harus dari lubuk hati yang paling dalam, agar seluruh semesta bekerja untuk kita dalam memberikan yang terbaik. Janji dimata saya bukan memberi sejumlah yang saya janjikan, tapi janji adalah standard minimal yang harus dipenuhi. Sungguh sangat berat rasanya ; bahkan menyesakkan, ketika saya menyadari tidak mampu memenuhinya, sekalipun itu bukan janji dan komitmen saya secara pribadi.

Tapi ada hal yang mungkin saya lupakan, dan Tuhan telah mengajari saya secara langsung untuk memahaminya. Bahwa ada komponen lain diluar kerja keras dalam berkomitmen. Komponen tersebut adalah Kehendak-Nya.

Akan tetapi, saya tidak ingin berapologi atas kekuasaan Tuhan dalam berkehendak untuk menutupi janji dan komitmen saya. Berjanji dan berkomitmen juga bukan sesuatu yang harus ditakuti. Saya selalu memiliki respect yang dalam terhadap teman-teman saya yang mampu mengucap komitmennya. Dibutuhkan keberanian. Nyali. So, besarnya tanggungjawab atas janji dan komitmen bukan lalu untuk ditakuti dan dihindari. Tapi untuk dihadapi.

Jika saya sebagai pebisnis, maka saya harus berkomitmen terhadap client. Jika sebagai enterpreneur dan atasan, komitmen saya pada rekan-rekan yang bekerja dikantor adalah nyawa. Dalam hal beragama, maka janji dan komitmen ketika (contoh bagi seorang muslim) mengucap kalimat syahadat adalah nyawanya. Bagi yang sudah bersuami atau beristri, maka janji dan komitmen yang diucap ketika prosesi ijab qabul adalah nyawanya. Ngeri rasanya ketika membayangkan sudah berapa banyak komitmen terhadap rekan kerja yang saya ingkari. Komitmen terhadap client yang terabaikan. Komitmen terhadap Tuhan yang terlupakan oleh duniawi. Lebih ngeri lagi jika membayangkan berapa kali saya melakukan excuse, mencoba melakukan pembenaran dan menimpakan kesalahan pada orang lain atau apapun itu ketika saya tidak mampu memenuhi janji tersebut.

Semoga Tuhan selalu mengingatkan kita untuk tetap commited atas setiap janji yang saya ucap dalam peran hidup yang saya jalani. Bagi saya hal ini bisa menjadi ukuran standart untuk mengukur tingkat kepercayaan “trust” terhadap seseorang, ketika kenal orang baru, yang saya nilai adalah cara dia…apakah dia orangnya menjaga janji dan komitmennya? Jika tidak, paling-paling saya sekedar kenal saja “not more not less” , dan lupakan kalo memang dia tidak komitmen dengan janji dan ucapannya. Bagi saya, janji dan komitmen sangat penting, karena saya tak pernah menilai seseorang dari harta yang dimiliki nya. Kenapa hal ini sangat penting, karena setelah manusia tidak memiliki apa2 (mungkin harta dan kedudukan), maka janji dan komitmen nya lah yang bisa menaikan drajat dan menambah nilai dirinya, berani berjanji dan berkomitmen pun tidak kalah penting dan hebatnya dari menjalani janji dan komitmen itu sendiri, tentunya janji dan komitmen yang diucapakan dr hati tidak hanya di mulut saja, karena tidak semua orang mampu berjanji dan berkomitmen apalagi menjalani janji dan komitmennya itu.

Dulu saya bisa depresi dan jadi lumpuh saking stress karena gagal menepati janji. Akibatnya ya saya bisa tidak berfungsi dengan baik selama berhari-hari. Sekarang, kalau ada janji yang gagal saya tepati, saya coba cek dulu, apakah saya sudah memberikan usaha yang maksimal untuk memenuhinya ? Kalau belum, maka saya berusaha memperbaikinya (minta maaf, lalu minta kesempatan kedua). Kalau sudah, maka saya berusaha sabar menerimanya sebagai takdir dari Tuhan. Dua-duanya berat tapi ya itulah nasib jadi manusia. Makanya malaikat saja kagum kalau melihat manusia yang akhlaknya bisa tetap baik walaupun dihujani berbagai musibah & cobaan. Mudah-mudahan kita bisa terus gigih dalam berusaha, dan sabar dalam menerima hasilnya, aminnnn.

Value Commited and Promise

Iklan