Kemarin malam pikiran saya flashback sejenak ke tahun 2009. Hmmm…ada rutinitas yang secara alamiah saya lakukan di bulan Ramadhan lalu. Menonton (entah apa namanya…kayak semacam seri sinetron religi) Para Pencari Tuhan jilid 3. Seperti acara besutan Dedi Mizwar lainnya, acara ini sangat menarik untuk diikuti. Ringan, namun sarat makna. Sebuah dakwah yang disampaikan dengan cara yang membumi. Dan diluar itu, Bang Dedi sering menyampaikan nilai-nilai yang sedikit paradox dengan pemahaman umum yang dimiliki masyarakat ini.

Saya ingin mengambil 2 episode dalam acara Para Pencari Tuhan ini.

Pertama, peristiwa ketika Pak Jalal (diperankan oleh Jarwo Kwat), orang paling kaya dan satu-satunya orang kaya di desa itu yang sangat stress ketika orang-orang dikampungnya yang biasanya selalu meminta bantuan kepadanya tiba-tiba tidak lagi membutuhkannya. Entah itu karena benar-benar tidak butuh, atau secara tidak sengaja terskenariokan tidak butuh. Pak Jalal tidak divisualisasikan sebagai si kaya yang sempurna. Bahkan cenderung nyebelin. Tapi justru dibalik sifat nyebelin itu, dia menyimpan ketulusan.

Saya ketawa ngakak sekaligus miris ketika Pak Jalal sangat stress, sampai harus berkeliling desa hanya untuk mencari orang miskin yang mau menerima bantuannya. Sampai dalam doanya dia memohon kepada Tuhan sebuah permintaan yang nyeleneh. Meminta agar Tuhan memelihara kemiskinan di desa itu.

Kenapa? Alasannya ini yang membuat saya merinding.

“Jika sudah tidak ada lagi orang miskin, bagaimana saya bisa beribadah?”.

Ya. Seharusnya orang kaya beribadah dengan hartanya. Orang berilmu beribadah dengan ilmunya. Orang berkuasa beribadah dengan kekuasaannya.

Well. Sebuah potret yang bertolak belakang dengan apa yang terjadi di bangsa ini. Andai saja para orang kaya, berilmu dan berkuasa memiliki mind set seperti Pak Jalal, mungkin sudah sejahtera bangsa ini.

Cerita berikutnya adalah cerita tentang Baha (diperankan oleh Tora Sudiro), seorang pemabuk, sahabat Asrul. Suatu ketika Asrul menemui Baha tengah mabuk. Karena tidak lagi mampu menasehati, Asrul membawa Baha ke Om Jack yang diperankan oleh Dedi Mizwar. Bang Jack meminta Baha untuk tobat. Menjalankan sholat tobat. Alih-alih mau sholat, Baha malah menemukan bukti melalui kompas yang dibawanya bahwa mushola desa itu kiblatnya melenceng beberapa derajat. Dan desa itupun gempar. Karena selama ini mereka sholat tidak menghadap kiblat, tapi ke Stadion Manchester United :).

Hampir semua orang di desa itu tidak menerima realita itu. Dan yang paling tidak diterima adalah, kenapa pesan itu, kebenaran itu lahir dari mulut seorang Baha yang notabene seorang pemabuk.

Lagi-lagi, Dedi Mizwar menyentil budaya yang berlaku dibangsa ini yang cenderung hanya mau menerima kebenaran agama dari orang berjenggot, berjubah dan berdahi hitam. Hanya mau mengakui kepintaran dari sederetan gelar akademis yang tersambung di nama seseorang. Yang cenderung lebih menghormati orang yang kaya, berkuasa, dan pintar berdasarkan simbolitas-simbolitas. Kalimat bang jack waktu itu sungguh menyentuh

Kenapa Tuhan sampai harus menyampaikan pesan kebenaran dari seorang Pemabuk? Justru yang perlu dipertanyakan bukan Baha, tapi ada apa dengan kita sehingga Tuhan enggan menyampaikan pesan kebenaran melalui kita?”

Betapa banyak simbolitas-simbolitas yang telah kita Tuhankan. Simbolitas materi, kekuasaan, status sosial, pekerjaaan , dll. Betapa banyak orang di negeri ini yg di permukaan tampak begitu peduli (dalam segala bentuknya), tapi tak banyak yang bener2 melakukan tindakan berarti untuk mewujudkan kepeduliannya dalam bentuk nyata. Bahkan banyak yang ikutan gerakan kepedulian A, B, hingga Z, tapi sekedar penggembira saja, buat keren2-an, buat gaya2-an doang. Apa memang kebenaran bisa dimanipulasi? Saat suatu kebenaran dikemas dalam kekerasan, kebenaran dibungkus oleh kebohongan yang manipulasi untuk dipolitisasi. Apakah itu bisa disebut kebenaran? Atau sebaliknya, saat suatu ketidakbenaran dikemas dalam bungkus yang indah, menarik dan santun, sehingga diterima sebagai kebenaran? Apakah kebenaran yang sesungguhnya?

Ya…tergantung perspektif kita tentang kebenaran sih. Menurut saya, sometimes, toh sesuatu dianggap benar dalam konteks sosial ketika mayoritas dari masyarakat mengakui kebenaran sesuatu. Sebuah kebenaran komunal. Dan dalam komunitas/masyarakat, toh sangat di mungkinkan pihak-pihak dengan kemampuan dan kekuasaan tertentu mengarahkan pendapat publik. Nah, problemnya, kebenaran macam apa yang ingin kita cari? Dan apakah kita sudah memanfaatkan seluruh kelebihan yang diberikan Tuhan, dan umur yang kita gunakan untuk mencari kebenaran itu sendiri. Lagi2, ini cuma pendapat saya. Ibarat proses pencarian yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim, sometimes saya berfikir, proses pencarian kebenaran itu akan terjadi secara terus menerus, sampai ditemukan kebenaran yang hakiki. Inilah perspektif saya tentang realita masyarakat. Tentang sebuah kebenaran komunal.

Negara ini katanya memang negara hukum. Tapi sepertinya hokum pun ternyata tidak saklek dan tetap saja bisa diperspektifkan. Mungkin benar negara ini negara hukum. Hukum opini. Hukum kekuasaan. Atas nama kebenaran. Entah kebenaran siapa. Entah kebenaran yang mana. Semoga saya tidak salah menilai hal itu.

Hal ini cukup menyentil pemikiran saya, ketika kemarin malam saya menyaksikan acara “Mata Najwa” di Metro TV yang membahas topik “standart moralitas”. Dalam acara tersebut di ulas tentang polemik timbulnya peraturan baru menteri dalam negeri tentang syarat moral yang harus dipenuhi ketika seseorang ingin maju menjadi kepala daerah. Ya…semua pasti tahu kalo peraturan ini sangat “menghantam” mbak jupe dan Maria Eva (calon Pemilu Kada asal Sidoarjo)..Ok, saya tak akan ikut berkomentar mengenai hal itu, karena itu bukanlah porsi saya. Bagaimana kita harus menyikapinya? Bagaimana kalau ternyata, ya yang begini inilah yang memang jati diri Masyarakat Indonesia? Haruskah kita mengikuti arus? Atau tetap menyuarakan perbedaan?

Banyak para wakil rakyat, iklan politik di tipi2 atau pun spanduk2 pemilu legislatif menyuarakan tentang Pembaharuan??? Perubahan????. Sayangnya, banyak orang tidak siap dengan perubahan. Tidak banyak orang yang siap dengan perbedaan. Lebih banyak orang nyaman pada confort zonenya. Pada pembawa perubahan sering menjadi musuh bagi “masyarakat” atau “golongan” tertentu saat itu (ya…misalkan saja mereka dikriminalisasikan atau di-Munir-kan ).

Seorang yang berbeda memiliki resiko dalam hidupnya. Disisihkan, dibenci, bahkan bisa ditinggal oleh orang-orang terdekatnya. Dan yang lebih sering lagi, berperang dengan dirinya sendiri, untuk konsisten atau mengikuti pendapat mayoritas. Tidak semua orang kuat menjadi seperti itu. Kalo soal hal ini, saya jadi teringat kata-katanya Om Susno : “Lebih baik perpecahan menuju kebaikan, daripada bersatu membikin suatu kejahatan .” Intinya, apapun kebenaran itu, kita harus obyketif, melihat esensi yang sebenarnya, bukan menilai “apa” dan “siapa” yang melontarkan kebenaran itu. Semoga para pembaharu diberi kekuatan dan konsistensi. Namun tetap membuka mata, membuka telinga agar pembaharuan yang dibawa tidak menjadi racun yang membunuhnya sendiri. Agar dia tidak mati oleh nilai yang dia bawa sendiri. Terjebak dalam pembenaran-pembenarannya sendiri.

Tapi gini yah …..persoalan perspektif dan sudut pandang seseorang terhadap setiap permasalahan memang beda2 toh. Tapi perbedaan perspektif itu kan mesti disikapi secara toleran; tidak harus diseragamkan. Persektif anomali itu menurut saya ya hanya dimiliki oleh mereka2 yang punya otoritas mengambil keputusan. Nasib wong cilik sejak dulu memang ndak pernah dianggap. Nah, repotnya, justru perspektif anomali yang menghinggapi kaum elite di negeri ini yang mesti dianut, “the show must go on”. Apa pun yang terjadi, kebijakan, mesti bertentangan dg mainstraim rakyat dan tidak populer, tetap jalan terus. Kayaknya ini juga sudah menjadi masalah kultural juga yah.

Memang, dalam menjalani hidup kita harus dihadapkan pada pilihan, mati melawan arus atau ikut hanyut terbawa arus…Kebetulan sekali belakangan ini saya merasa kegelisahan yg kentara. Selama hidup gelisah pasti datang dan pergi. Pikiran, energi, konsentrasi seakan disedot. Hati ingin seperti ini, tapi pikiran melayang jauh entah kemana. Seolah ga ada titik temu, menghapus keberadaan diri sendiri dari kenyataan.

Kenyataan yg menggembirakan saya, ternyata kita bisa membuat “perdamaian” dengan diri sendiri. Apa yg hati rasakan dan apa yg pikiran inginkan seolah menyatu. Di saat ini entah kenapa perasaan lega muncul dengan sendirinya (seperti menjetikkan jari). Sangat menyenangkan ketika kegelisahan berubah seketika menjadi kelegaan. Ah, saya terlalu beruntung karena Allah selalu dekat dengan di dalam hati dan pikiran saya.

Setidaknya satu tahap sudah saya lewati, “damai” dengan diri sendiri. Tahap berikutnya mungkin bagaimana “berdamai” dengan orang lain. Barokallohu fi’ikum

What's Wrong



Iklan