Katanya, kalau kita sudah mengejar passion kita, rasa malas itu sudah tidak ada lagi. Kita tidak perlu mendorong diri kita untuk mencapai sesuatu. Kita akan tertarik. Energi yang dibutuhkan berbeda. Mengerjakan sesuatu dengan passion itu akan butuh energi lebih sedikit. Buat saya ini ada benarnya. Misalnya karena saya suka menulis, menulis email report hasil kerjaan dengan menulis postingan ini rasanya beda aja. Padahal sama-sama menulis, menghabiskan waktu, dan sama-sama ingin ‘menunjukkan diri’. I can’t wait to write for my blog, but I always fighting myself to not procrastinate sending emails.

Kedengarannya mengejar cita-cita itu indah ya, tapi sayang orang suka ketakutan mengejar passion-nya yang justru sebenarnya adalah cerminan unik dirinya. Saking uniknya malah seringkali tidak menemukan orang di sekitar yang bisa menguatkan untuk mengejar tujuan tersebut. Itulah yang membuat saya selalu kagum dengan orang-orang yang tetap kekeuh dengan cita-citanya apapun yang terjadi.

Life is about choices. You choose, act, and forget all options you had before!

Pilihan adalah sebuah cut off. Ini berarti kita mendedikasikan diri kita untuk apa yang kita pilih tersebut. Dan itu berarti, kita mengabaikan semua alternatif yang pernah ada sebelum pilihan itu diambil. Misalkan kita punya opsi A, B, C, dan D. Begitu kita memutuskan memilih A, opsi lainnya yaitu B, C, dan D berarti sudah menjadi tidak ada lagi.

Mempertimbangkan pilihan lain – meski kita menyatakan sudah memilih – berarti belum memilih. Hidup dengan keputusan yang tidak kunjung diambil, menurut saya menyiksa diri. Kita tidak bisa berkonsentrasi untuk dua hal yang bertolak belakang, karena opsi-opsi itu merupakan pilihan. Indecision is suffering.

Kadang kita takut untuk memilih!. Jika kita memiliki sejumlah opsi dan bisa berpikir untuk mempertimbangkannya, itu berarti di antara semuanya tidak ada pilihan yang buruk bukan? Sebuah pilihan jauh lebih baik daripada tidak pernah memilih. Tidak memilih membuat kita jalan di tempat, sementara dengan memilih, kita melangkah maju dan memikirkan apa yang akan sebaiknya kita lakukan untuk pilihan tersebut.

Kalo memilih, nggak perlu takut kalau akhirnya kita akan berbeda dengan lingkungan kita. Banyak orang2 takut memilih karena di anggap beda dengan pemikiran yang subyektif di sekitarnya. Let’s me say, Pada dasarnya Tuhan menciptakan kita sudah dengan segala ciri khas masing-masing yang melekat ke diri kita, dan tentunya karena itu semua adalah suatu yang khas, pada akhirnya akan membawa ke perbedaan antara satu dengan yang lain. Dari yang paling dasar saja, jenis kelamin sudah dibedakan, letak geografis yang mendasari terciptanya suku bangsa dan bahasa, juga berbeda; kita pun mempunyai cara yang berbeda-beda untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah kehidupan akan lebih damai saat yang berbeda itu dapat hidup berdampingan, tanpa curiga, tanpa rasa takut, tanpa iri hati dan benci? Bukankah yang berbeda itu ada untuk dapat saling mengisi dan melengkapi satu sama lain?. Saya yakin, jika memang Tuhan menghendaki, tak ada sulitnya membuat seluruh umat manusia seragam: satu agama, satu budaya, satu ras, sama mancung idungnya, sama warna rambutnya, dst… Lha, Dia yang berkuasa atas segala sesuatu kok, yang kehendak-Nya selalu terjadi… Tuhan membuat perbedaan supaya manusia belajar menghargai.

Perbedaan itu membuat kita belajar..

Perbedaan itu menjadikan kita mendengar dulu baru bicara..

Perbedaan itu indah saat semua melepaskan sekat2 yg ada dalam dirinya

Perbedaan itu tidak akan jadi perbedaan jika kita punya kesamaan niat untuk percaya, kita di bawah langit yang sama..

Make life of others more colorful and meaningful..rite?

Ok, saya punya sedikit cerita dan pengalaman menarik :

Saya terlahir dari keluarga muslim. Om saya dulunya pengajar musik. Muridnya kebanyakan ibu-ibu & orang kantoran. Banyak juga yang meminta om ngajar di gereja. Om menyanggupi, ga masalah tuh. Saya juga sering nemenin om ngajar di gereja. Kalau lagi lebaran murid-muridnya om semuanya silaturhami ke rumah. Pas natal pun om juga diundang (tapi mereka juga ngerti untuk tidak melibatkan di acara keagamaannya).

Inget banget pas adik sakit, salah satu dari mereka yang kebetulan chinese habis dari rumah (kirain pulang) ternyata mampir dulu ke apotik & balik lagi ke rumah untuk nyerahin obat. Padahal kita ga cerita & ga minta dibeliin. Cuma pertanyaan (yang kami kira basa-basi) kepada om saya, “putranya batuk ya pak?”.

Terharu & keinget terus sampe sekarang kebaikan mereka..

Eniwei, yang terlahir di dalam keluarga yang “warna-warni” pasti paham. Walau kadang ada selisih-selisih paham karena beda pandangan tapi yah wajarlah … Universe in Diverse. Belajar dari hal yang berbeda itu memperkaya diri kita. Berdamai dengan orang lain dengan segala perbedaannya. Memang benar adanya, dengan segala perbedaan akan semakin indah jika kita saling mengerti dan menghormati sesama…

Intinya, dengan passion, saya belajar membuat pilihan, dalam perbedaan-perbedaan komplek yang mewarnai kehidupan saya. But everybody is unique, have their own desire. It’s ok, don’t look back, watch your step, always do reconciliation, don’t blaming each others. Kita suka lupa bersyukur sih ya? Lupa betapa berharganya semua yg kita miliki, lupa bahwa gak semua orang cukup beruntung memiliki apa yg kita miliki. Kadang juga menganggap kalo rebellious is a cool way of life. Nggak usah dipercaya hal itu, karena hanya pemikiran subyketif saya. Toh, hidup itu bukan dicari. Tapi diciptakan. “Life is not about how we search and find it, but it’s about how we create it.”

Bila ada sebentuk pemikiran saya yang keliru, mohon dibenarkan. Kalo ada penjelasan saya yang masih kurang dalam artikel ini, harap di tambahkan. Dengan kefakiran ilmu yang masih saya miliki, ketika menulis sesuatu, intinya saya hanya ingin berbagi. Berbagi cerita. Berbagi pengalaman. Berbagi kebahagiaan. Berbagi pengetahuan. Berbagi ilmu. Berbagi inspirasi. Berbagi informasi. Berbagi apapun yang bisa saya bagi dalam bentuk tulisan. Bukan hanya dalam sepenggal status fb. Bukan hanya dalam 140 karakter twitter. Melainkan dalam uraian alinea yang tertuang di sebuah blog. Hasilnya, dengan berbagi saya merasa lebih berguna dan bahagia. My blog is growing up and getting mature, just like me. Blogging is not merely about what I do, think, or feel. It’s about what I can share to others. And surprisingly, I just found my lost PASSION. Blogging, it is.

“Happiness is not so much in having as sharing. We make a living by what we get, but we make a life by what we give.” Oliver Wendell Holmes

Bagi siapapun yang telah meluangkan waktunya untuk mengunjungi blog ini, saya ucapkan banyak terima kasih. Terima kasih telah mampir di blog yang sederhana ini, yang mana blog ini adalah tempat saya berbagi pengalaman, bertukar ilmu & pengetahuan, menyumbangkan ide & pikiran, memberi motivasi & inspirasi, yang mudah2an berguna bagi orang lain dan diri saya sendiri. Ternyata sesuatu yang menurut kita biasa saja, bisa menjadi berguna bagi orang lain lho. Sesuatu yang menurut kita “ah, itu sih semua orang juga tau!”, belum tentu semua orang tau. Sesuatu yang menurut kita nggak ada gunanya untuk dibagi, siapa tau justru menjadi inspirasi. Yang kita perlu hanyalah “berbagi”

“You’re happiest while you’re making the greatest contribution.”

Robert F. Kennedy

Diversity

Iklan