Tulisan yang satu ini saya tunjukkan bagi saya sendiri khususnya dan bagi anda umumnya yang dalam hal ini pingin nostalgila ke masa-masa dulu ketika dalam dilemma dan gamang sewaktu masih beranjak dewasa. Di tanggal 21 april depan, ndak terasa kalo usia saya sudah menginjak dua puluh sekian, ini artinya saya ndak muda lagi. Ya meskipun kalo tampak sekilas, saya masih terlihat seperti anak SMA yang baru lulus dan mulai menginjak perguruan tinggi (ngeles.com).

Saat itu saya berumur 6 tahun, tahun itu adalah tahun dimana saya sedang senang senang bersekolah di sekolah dasar. Seorang guru bertanya kepada saya apa cita cita saya? Saya menjawab dengan enteng, saya ingin menjadi Dokter. Waktu itu yang ada dibayangan saya, dokter adalah orang yang pintar yang mampu menyembuhkan segala penyakit dan hidup enak (lama-lama nyali saya ciut sesaat mengerti kalo masuk fakultas kedokteran itu biayanya selangit…hehehehe). Setelah saya beranjak ke SMP saya merasa bosan dan ingin sekali cepat menjadi orang dewasa karena kalau saya SMA maka saya bisa bawa motor ke sekolah dan kayaknya wajar jika pacaran 🙂 (bisa gandeng gandengan he,,he).

Beberapa tahun setelahnya saya menginjak dewasa dan masuk ke salah satu SMA favorite di Malang… Sangat menyenangkan, apalagi waktu itu dah bisa pacaran he,,he. Tapi patah hati diputusin gara-gara jerawatan 🙂 Waktu SMA rasanya ingin saya cepat kuliah.

Kelihatanya kuliah adalah hal yang menyenangkan, saya bisa pakai pakaian bebas tanpa diikat oleh seragam seperti layaknya saya waktu SMA dulu. Dan memang benar saya merasakan satu kebebasan disana. Masuk di Universitas yang terkenal mahal di Malang, dan banyak teman serta kuliah dan sesekali bersenang senang.

Cukup lama saya kuliah dan saya sampai lupa tujuan awal yang saya niatkan untuk kuliah!!!!. Saya hampir DO untungnya saya bisa selamat mengerjakan TA dengan waktu yang tepat dan cepat. Masalah terselesaikan!!!!. Datanglah waktu wisuda, dengan sedikit membusungkan dada saya menunjukkan pada dunia saya berhasil!!!!.

Tapi nyali saya jadi sedikit ciut ketika seorang kawan memberikan selamat sambil bertanya “Selamat ya mas, semoga setelah ini mas bisa bekerja di tempat yang layak”. Saya tersentak…!!!! Saya lupa kalau saya punya masa depan yang sama sekali belum terbayang..!!!! Dengan tergopoh gopoh saya bertanya sana sini dan menanyakan kesemua orang tentang lapangan kerja, saya merasa gundah bagaimana jika saya tidak mendapatkan pekerjaan? Bagaimana jika semua orang mencemoohku sebagai sarjana pengangguran?

Kegundahan saya agak surut, setelah saya mendapatkan pekerjaan disebuah perusahaan besar. Gajinya lumayanlah untuk seorang pemula seperti saya. Tapi kegundahan itu muncul kembali, kegundahan lain datang ketika umurku bertambah dan saya mulai dipojokkan dengan pertanyaan “kapan menikahnya?”…kegundahanku beralasan mengingat orang yang saya cintai “tidak memberikan kepastian yang mantap untuk menapak ke jenjang pernikahan”. Padahal disisi lain orang tua saya sangat berharap mengenalkan orang yang saya cintai kepada mereka, dan berharap kami segera menikah. Sayangnya saya tidak bisa mengenalkannya ke mereka, karena dia selalu berjanji tapi tidak pernah menepatinya. Sampai akhirnya kedua orang tua saya menawarkan pilihan mereka kepada saya, dan sayapun hanya tertunduk diam!!!! Tidak mengiyakan dan tidak pula menolak….

Kegundahanpun bertumpuk lagi ketika saya memikirkan tentang masa depan yang saya hadapi. Saya sama sekali tidak siap dengan masa depan karena “planing yang terlambat”. Bagaimana jika saya menikah nanti? Uang darimana? Bagaimana jika nanti uangku tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Bagaimana saya bisa membeli rumah? Bagaimana jika saya punya anak nanti? Bagaimana jika saya nanti di PHK dll..? Semuanya terlihat begitu suram untuk kuhadapai, ingin sekali saya mundur dimasa saya tidak memikirkan semua ini…yah “masa kecil”

Tapi kembali ke “masa kecil” terkesan begitu konyol ya?

Sepertinya saya terlalu khawatir akan semuanya, hal itu belumlah terjadi kenapa saya harus khawatir? Dan sepertinya semua yang saya khawatirkan hanyalah berlandaskan materi saja. Kegundahanku agak mulai surut ketika saya ada pengalaman seperti ini.

“Sore itu, layar pesawat televisi saya dirubungi begitu banyak semut. Sehingga, gambarnya menjadi tidak kelihatan. Setelah channel dan kabelnya diotak-atik pun semut-semut itu tidak hendak beranjak pergi. Namun, ketika saya melihat keatas genteng, ternyata posisi antenna TV itu sudah bergeser, hingga arahnya berlawanan dengan posisi selama ini. Ajaibnya, ketika arah antenna itu diperbaiki, seketika itu juga para semut elektronik itu kabur menyisakan tampilan layar kaca yang jelas, jernih, lagi bening”

Yang bisa saya tangkap dari hal itu adalah, kita harus mampu memposisikan diri bagaimana caranya agar “tampilan masa depan layar kaca yang jelas, jernih, lagi bening” dan terhindar dari gambar buram (hal buruk yang terjadi dimasa datang). Mulai dari sekarang sepertinya saya harus mempunyai planning yang jelas tentang gambaran masa depan saya. Membuat rencana-rencana strategis jangka panjang. Dan, mengkalkulasikan resiko-resiko yang mungkin menghadang selama dalam perjalanan.

Ketika kita berjalan di masa kini dan mencoba menempatkan diri di ranah masa lalu, maka tidak akan pernah berhasil, karena masa kini adalah masa kini dengan segala eksistensi dan kekiniannya, dan masa lalu itu telah berlalu dengan segala cerita dan kenangan terdahulunya. Mencoba menghadirkan kembali kenangan masa lalu, mungkin bisa saja, tetapi tetap dengan nuansa kekinian yang ada, yang nyata di depan mata kita. Sama seperti kita yang mencoba membayangkan masa depan dalam ranah masa kini, pun tidak akan pernah bisa melahirkan keadaan ”rasa” yang sesungguhnya yang mungkin nanti akan terjadi bila itu benar-benar terjadi. Bisa jadi lebih dari yg kita bayangkan atau mungkin jauh dibawah ekspektasi kita.

Jadi yang paling berharga yang kita miliki adalah masa sekarang ini lah, karena itu harus kita syukuri, dan biarkanlah masa lalu itu bersemayam di dalam lemari memori penyimpanan, yang berdinding bening dan telah terkunci dengan sangat rapat, yang bisa kita lihat kapan pun bila kita mau dan ingin belajar darinya, tapi tetap tak bisa kita buka lagi, karena kunci nya telah tertelan dan dibawa oleh sang waktu yg takkan pernah kembali…

Itulah fase yang sudah saya lalui untuk bermetamorphosis ke masa yang sekarang. Bagaimana dengan fase perjalanan anda????

Menghitung Mundur

Iklan