Siang kemarin saya berkesempatan hadir dalam sebuah rapat kerja, sebelum rapat kerja dimulai awalnya saya sempat berfikiran kalau rapat kerja ini pasti akan kacau karena kantor rapat kerja persis di sebelah ruang produksi, ditambah lagi ruangan rapat kerja persis di pojokan dekat lokasi mesin-mesin produksi di posisikan yang suaranya luar biasa berisik!!!!. Sebenarnya ruangan itu adalah ruang pengawasan yang biasa di tempati para pengawas, karena berhubung saat itu para pengawas sedang ada training dan diklat rutin, kami di ijinkan menggunakan ruangan itu. Sebelum rapat kerja dimulai, pintu ditutup…suasananya sangat sepi!!! so quite!!!…kebisingan luar tidak terdengar lagi kelihatannya ruangan itu kedap suara. Rapat kerja dimulai dan ternyata ruangan mulai menjadi bising!!!!, bising karena argumen-argumen dari kawan-kawan yang saling menyalahkan sebagai akibat target yang tidak tercapai. Saya bisa melihat masing-masing dari mereka meluapkan kemarahan, ada yang menyalahkan dan ada yang defensive karena tak mau disalahkan. Saya yang bertugas sebagai notulensi cuma bisa mengelus dada dan tentunya sambil menulis cerita ini buat bahan pajangan di blog, itung2 hasil jurnal dokumentasi rapat kerja. Sampai sore rapat kerja belum menemukan titik temu, dan rencananya akan dilanjutkan esok lusa hari senin.

Usai rapat kerja banyak kawan-kawan yang masih ngrundel dan marah-marah karena dipersalahkan,bahkan ada yang mengobarkan rasa dendam sambil ngrundel “awas aja besok, gue bakal cari data sebanyak-banyaknya buat jatuhin lu!!!!”. Wah kayaknya dia dendam nih….Saya tak begitu menggubrisnya, malahan pikiran saya menerawang mencari obat rasa penasaran tembok kedap suara buatan itu. Sesekali saya mengetuk ngetuk dinding, dan saya merasakan kalau dinding dalamnya bukanlah tembok, melainkan seperti papan yang didalamnya ada semacam bahan yang saya tidak tahu jenisnya. Saat melewati pintu akhirnya saya menemukan obat dari rasa penasaran saya.

Disela 2 dinding itu, saya sangat tertarik dengan bahan yang terselip didalamnya, bentuknya menyerupai fiber yang tak beraturan bernama peredam suara. Konon, bahan ini mampu mengkonversi kebisingan mendekati titik nol sekencang apapun teriakan tak akan mampu merusak fiber ini…sesaat saya teringat dengan kemarahan teman-teman saya dirapat kerja tadi…hufff…Seandainya saja fiber ini terpasang dihati mereka, sebesar apapun marah/dendam, fiber ini akan mengkonversinya mendekati titik nol!!!

sudah terbukti, fiber ini mampu menelan kebisingan luar dan membuat ruang rapat kerja menjadi sepi. Anggap saja kebisingan adalah gambaran dari kemarahan; maka fiber itupun akan mengkonversi mendekati titik nol sebelum mencapai hati kita. “Memangnya ada ya orang-orang seperti ini?” saya jawab ada; orang-orang ini sering menasehati kita “Jangan dimasukin hati lah, wataknya kan memang seperti itu”.

Dengan membalas marah mungkin bisa menggertak lawan dan menciutkan nyali lawan. Tapi anda lupa bahwa pihak yang kalah karena dimarahi, biasanya mengkonversinya menjadi dendam. Dendam inilah yang justru lebih berbahaya; suatu saat dendam ini akan membantunya menerkam anda disaat lengah!!!. Dan kalau lawan anda berhasil melalukannya maka rasa dendamnya akan pupus!!!. Sayangnya justru andalah yang kemudian hari akan mengkonversikan kekalahan anda menjadi kesumat!!!…dendam yang tiada ujung!!!!

Memuntahkan kemarahan bisa jadi memunculkan kemarahan lain yang tidak akan ada ujung pangkalnya, membalaskan dendam mungkin juga akan membuat anda puas tapi dendam lain akan muncul dan siap menularkan kesumat kepada anda…

Dendam itu nular; kalau tidak ingin tertular, ya jangan mendendam, buang jauh dan redam dendam itu seperti layaknya fiber yang mengkonversi kebisingan mendekati titik nol.

Hindarilah berdebat walaupun benar, karena perdebatan yang banyak terjadi adalah mendekatkan kepada permusuhan.

Saya teringat ada seseorang yang pernah berkata seperti ini kepada saya : “Menghindar dari berdebat bukanlah suatu tindakan menghindar dari kebenaran melainkan menghindar dari peluang berkobarnya suasana permusuhan”.

Namun pernyataan itu segera saya respon dengan argumen sebagai berikut : “Manusia diberi kelebihan oleh Allah SWT dalam bentuk akal, nafsu dan ambisi.Ketika ketiganya berjalan disisi yang sama, yang diperlukan adalah sebuah kearifan”.

Bener gitu ndak ya?????

Ruangan rapat terlihat dari pojok jalan besar

Iklan