Seorang teman baik saya pernah bilang, saya terlalu peduli dan pakai hati. Ketika ada temen saya yang menceritakan tentang masalah mereka, peran saya bukan sekedar menjadi pendengar yang baik. Saya ikut mikirin kira-kira solusi apa yang bisa jadi jalan keluar. Padahal katanya orang yang lagi curhat biasanya memang cuma perlu didengerin aja. Tapi saya nggak bisa kaya gitu. I care too much to just be a good listener. Buat saya, kaya jadi tanggung jawab moral aja untuk ikut mikirin pemecahannya harus seperti apa.

Hari ini, satu orang lagi yang bilang saya terlalu peduli. Terlalu mikirin hal yang seharusnya nggak perlu diributin, something that is beyond my control.  Apalagi kalau hal yang diperjuangkan itu nggak ada benefitnya buat saya secara lagsung. Istilahnya, untuk apa ngeributin sesuatu yang cuma bikin capek pikiran dan apapun hasilnya nggak pengaruh sama kehidupan saya?

Sampai batas apa ya kepedulian itu menjadi terlalu dan menjadi salah? Dari dulu saya percaya kalau mengerjakan segala sesuatu harus dengan hati, harus berangkat dari kepedulian. Dan saya memang yakin, kalo kita pakai hati, hasilnya akan lebih baik. Kalo kita nggak melibatkan hati dan perasaan, bukannya semua hanya akan jadi rutinitas? We will only do something because we have to, not because we want to. Kalau kita nggak peduli, yang kita lakukan jadi hambar rasanya.

Benefitnya buat saya apa? Mungkin nggak secara langsung ke kehidupan saya, but the fact that I do my everything, buat saya sudah cukup. Knowing that saya sudah menolong dan melakukan semua hal yang saya bisa dalam kuasa dan kapasitas yang saya punyai, bisa bikin saya tidur dengan nyenyak.  Of course I do care about the end, but if that’s something beyond my control, then my fight on the way is enough.

Katanya, kita bisa ngerasain sebel atau suka sama suatu hal kalo kita peduli. Iyalah, kalo kita nggak peduli, ya kita gak akan merasa apa-apa. The fact that saya masih bisa kesel, berarti memang ngebuktiin bahwa saya masih punya hati. Hehehe

Mungkin itu kali wujud konkret sikap kepedulian dalam diri saya, dalam berperilaku saya selalu peka dengan kondisi orang lain. Saya ndak bisa begitu saja mengacuhkan apa yang kelihatannya “menusuk” mata batin saya.

Nothing to lose

Iklan