Kenal mainan Lego kan? Balok-balok plastik kecil yang bisa disusun untuk jadi apa saja. Ini mainan favorit saya sejak masih anak-anak. Waktu masih kecil banget, saya menggigiti balok-balok Lego sampai sompel-sompel. Begitu agak gedean dikit, saya baru tahu kalo benda warna-warni itu bukan untuk latihan gigit, tapi untuk disusun menjadi sebuah bentuk yang lebih besar. Yang pernah baca buku Sophie’s World atau Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder pasti ingat kalo Lego dijuluki mainan paling cerdas di dunia, karena karakteristiknya yang bisa menyesuaikan diri dan menjadi apa saja.

Dan dari mainan sederhana ini pula saya belajar yang namanya konstruksi. Entah itu konstruksi kenyataan, konstruksi kebenaran, konstruksi realita, dan konstruksi pola pikir. Dari kecil saya memang suka dengan yang namanya konstruksi, yang dulu pernah menginspirasi saya untuk bercita-cita menjadi tukang konstruksi bangunan(arsitek maksudnya), terus terjebak bersekolah dalam bidang teknik, yang menuntut saya belajar tentang enginee contruction dan endingnya saya sekarang melenceng jauh menjadi seorang programmer yang dalam hal ini berfokus mengkonstruksi program dan coding bahasa pemrograman.

Dulu saya biasa main Lego sama temen-temen saya. Kita gabungin semua balok yang kita punya dan rame-rame membentuk apa yang kita mau. Biasanya saya nggak tahu apa yang mau saya buat dari awal. Saya simply mengambil balok-balok yang deket saya, menyusunnya secara horisontal, vertical, upside down, dan cara lain yang kepikiran saat itu. Setelah selesai, baru saya lihatin si bentuk jadi dan berpikir, ‘ini apa ya?’ Hehe… dengan cara seperti ini, saya pernah membuat ‘Replika candi-candi’sampai ‘Tiruan Big Ben Tower’

Setelah dewasa, saya menyadari bahwa kebiasaan saya main Lego seperti itu ternyata disebabkan pola pikir tidak berkonsep. Saya tidak biasa melihat gambaran besar sejak awal. Yang saya lihat adalah bagian-bagian kecil, tidak pernah ‘the grand plan’ itu sendiri. Jelekkah? Hmmm…put it this way. Pola kerja atau pola pikir gini membuat kita memikirkan hal-hal kecil, tanpa bisa melihat hubungan korelasinya dan unsur keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Saya nggak bisa menerjemahkan keterkaitan antara satu balok dengan balok lainnya. Dan kalau sudah begini, mungkin saja saya memilih bagian kecil yang tidak perlu, yang tidak mendukung the grand plan itu. Balok Lego yang sudah saya pilih, mungkin ternyata nggak bisa dipakai. Kalau sudah gitu, kan jadi nggak efisien ya, kerja saya untuk membangun bentuk besarnya.

Dari Lego, saya belajar untuk melihat segala sesuatu secara utuh. Detail memang penting, tetapi keseluruhan konsep yang membungkus detail itu harus fixed dulu sebelum kita berpikir mengenai detail. Di kantor, yang pernah satu team sama saya mungkin sampai bosen ngedengerin saya ngomong, “jadi aliran cerita presentasi lo apa?” tiap kali kita ngediskusiin materi presentasi buat yang lain. Buat saya, don’t bother giving me all the details if you don’t know your story line yet. Karena saya nggak mau melihat potongan-potongan, saya mau tahu dulu apa benang merah yang menghubungkan semuanya. Habis itu baru kita bicara detail.

Terus terang, saya pun sebenernya masih dalam tahap belajar untuk selalu melihat the grand plan ini. Satu hal yang saya tahu, terkadang untuk mampu melihat keseluruhan hubungan kita harus melihatnya dari jarak yang agak ‘jauh’. Kalau terlalu dekat, lagi-lagi kita akan terkonsen terhadap hal-hal kecilnya saja yang sifatnya parsial, tanpa bisa melihat skema utuhnya secara integral. Kadang saya pikir, itu kenapa kita nggak boleh nonton TV terlalu dekat… hehe.. Selain ngerusak mata, kalau kedeketan nanti yang kita lihat cuma titik-titik semut yang nggak beraturan. Padahal kalo nontonnya agak jauh, lo bisa dapet gambar yang utuh dan jelas, yang dibentuk dari si semut-semut tadi. Itu juga kenapa kita perlu curhat ke orang lain tentang masalah kita. Karena ketika kita terlibat langsung, kita mungkin hanya akan melihat potongan-potongan masalah, tanpa tahu keseluruhan drama. Bukan begitu?

Lego 1

Iklan