Dalam keseharian.. dengan mobilitasku yang tinggi, saya seringkali harus sholat dimana saja… ada POM bensin jadi.. ada Mushola jadi… ada Mesjid jadi… ya.. dimana saja… saya tak bisa tunda menunggu tiba dirumah… karena bisa-bisa waktu sholatku terlewat…

Yang menjadi catatan penting buatku adalah.. pertama.. seringkali tempat-tempat sholat tersebut tak layak disebut sebagai “Tempat Beribadah”.. Bisa karena.. kebersihan kurang terjaga, suasananya yang cenderung kusam dan gelap, fasilitas yang seadanya.. (tak ada sajadah dan mukena bersih, pembatas antara laki-laki dan perempuan yang hanya sebatas lutut, tempat wudhu perempuan tak dipisahkan dengan para lelaki, bahkan letaknya.. seringkali nyempil.. terjepit diantara gedung megah dan tinggi.)

Yang Kedua.. (ini yang mengagumkan untukku) seringkali ada beberapa “gelombang” jama’ah sholat.. Dan.. Subhanallah.. di setiap gelombang selalu ada seorang Imam.. pemimpin sholat berjamaah. Hebatnya.. pemilihan pemimpin ini dalam waktu yang singkat.. (kadang kesannya jadi “asal tunjuk”) Sekali lagi “subhanallah”..

1. Jarang orang menolak ketika dirinya diminta menjadi Imam Sholat

2. Saat memimpin.. Subhanallah.. jarang ada yang terus komplain dan menuntut Imam Sholat yang telah terpilih secara aklamasi dadakan untuk diganti..

3. Dan.. Subhanallah lagi.. menurut “arahan” ketika sang Imam melakukan kesalahan..

a. Jika diketahui oleh para “Ma’mum”.. (yang dipimpin oleh sang Imam).. wajib bagi ma’mum untuk mengeraskan suaranya mengingatkan sang Imam yang tengah terlena…(misalnya karena salah membacakan ayat-ayat suci atau urutan ibadah). Sang Imam gak boleh marah… tapi menerima dengan lapang dada, kemudian beliaupun membetulkan kesalahannya saat itu juga.

b. Jika diketahui hanya oleh sang Imam.. bahwa dirinya “tak pantas” (misalnya batal sholat karena buang angin) menjadi Imam lagu.., sang Imam akan mundur selangkah.. dan orang dibelakang beliau (yang disebelah kanan) akan secara otomatis maju, menggantikan posisi sang Imam. That’s nice…

Begitulah mestinya “kesadaran” yang dipimpin dan memimpin. Yang dipimpin.. telah melakukan pemilihan terhadap Imam yang akan memimpin sholatnya.. Kadang tak terlalu tahu siapa orang yang terpilih itu, darimana asalnya, bagaimana kemampuannya. Tapi tak pernah seorang ma’mum pun yang serta merta berusaha menggantikan kedudukan imam ataupun ingin menggantinya dengan orang lain, pada saat proses kepemimpian sholat jamaah berlangsung tanpa alasan atau sebab yang jelas. Patuh.. dengan semua “komando” sang imam.. sejak awal hingga akhir. Tertib pula. Satu hal lagi, tetap melakukan “waskat” (pengawasan melekat) pada sang Imam. Bersedia memberikan masukkan dan mengingatkan sang Imam ketika sang Imam “keluar dari jalur” kepemimpinannya sebagai Imam Sholat. Luar biasanya lagi.. setiap orang selalu berusaha mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, jika sewaktu-waktu diperlukan mereka akan dapat segera mengantikan sang pemimpin

Sedang Yang Memimpin.. juga penuh perhatian pada sang ma’mum. Tak sewenang-wenang memilih ayat-ayat yang panjang sehingga menyusahkan ma’mumnya. Mau diingatkan ketika melakukan kesalahan penipuan massal. Jujur dan terbuka ketika ternyata dirinya tak lagi “pantas” sebagai pemimpin. Bahkan dengan sukarela “turun” lengser dari jabatannya, menyerahkan pada orang-orang yang lebih mampu. Ketika sholat Jama’ah telah berlalu, sang Imam juga tidak ngotot untuk terussss menjadi Imam.. (he he he.. mau jama’ah-an jilid 2…) Kecuali jika nantinya dalam sholat berikutnya, beliau diminta menjadi Imam lagi… ini lain persoalan… beda waktu sholat.

Seandainya saja, setiap pemimpin di dunia nyata menggunakan filosofi pemimpin Imam sholat jamaah… mestinya dunia negara ini akan memiliki pemimpin-pemimin yang handal yaaa????Amiiiin.

Itulah peljaran sederhana yang bisa saya pahami dari realitas shalat. Shalat berjamaah adalah gambaran kecil dari kondisi bernegara. Ada obyek yang harus dipimpin dan tentunya ada pula subyek yang harus memimpin.

Ketika saya berjamaah

Iklan