Beberapa hari yang lalu, kebetulan gak ada kerjaan, pulang dari jalan-jalan, seperti biasa, sabtu dan minggu saya nonton salah satu acara reality show di sebuah tv swasta, dg tajuk “Andai Aku Menjadi”. Sebenarnya saya sudah lama mengikuti acara ini. dalam setiap episode selalu berganti-ganti topik, tapi intinya adalah bagaimana kita mengikuti “kesusahan” dari hidup seseorang dan keluarganya. Terlepas dari adanya unsur eksploitasi “kemiskinan” untuk dijadikan komersil, tapi saya melihat salah satu sisi positif dari tayangan acara ini. Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering mengeluh, kadang dalam hati, kadang saya sampaikan sama teman di kantor atau kepada istri tercinta di rumah. Keluhan saya selalu seputar ketidak-puasan saya atas apa yang sudah saya dapat selama ini. Intinya sih saya selalu merasa tidak puas….Tapi setelah melihat tayangan acara ini saya jadi berfikir….Ternyata masih ada yah orang yang justru hidupnya lebih susah dari saya. Bahkan, bisa makan sekali dalam sehari pun mereka sudah bersyukur. Saya coba membandingkan dengan diri saya yang sampai dengan saat ini masih bisa 2 – 3 kali dalam seminggu makan di restoran cepat saji atau jalan-jalan di mall. beli barang2 yang kadang saya sendiri tidak terlalu membutuhkannya. Bandingkan dengan mereka yang harus “jungkir balik” kerja seharian demi mendapatkan beberapa lembar uang ribuan…
“…ahh..saya ini betul-betul tidak tahu diri….!!”
“saya selama ini masih bisa pergi ke kantor naik mobil bis kota ber AC, walaupun itu kadang-kadang…”
“masih bisa beli baju baru…”
“masih bisa makan di restoran warteg…”
“masih bisa pake HP…”
“masih bisa punya laptop…”
“masih bisa internetan tiap waktu…”
“masih bisa beli buku…”
“masih bisa bawa istri jalan-jalan ke mal atau ke luar kota setiap minggu bulan…”
…..
“…bandingkan dengan saudara2 saya yang harus membanting tulang untuk bisa makan…itupun makan dengan lauk seadanya…”
“tidak punya HP,…”
“tidak punya televisi,…”
“tidak punya komputer,…”
“tidak punya yang lainnya yang kita punya…”
“tapi mereka masih bisa mensyukuri untuk hidup yang bisa mereka jalani sehari-hari…”
…….
“…cobalah kita syukuri itu …!!!”

Lalu saya berfikir, “sebenarnya, apa sih yang bisa membuat manusia merasa cukup….???”

Saya cuman bisa terdiam…hati kecil saya terus mengejek “rasa ketidakpuasan” saya…

Ahhh…kepuasan pada diri setiap manusia memang relative…”

Tuhan selalu menjawab doa kita. Dengan caraNya sendiri. Walau kadang Ia tidak mengabulkan doa kita, tapi Ia akan selalu menjawab doa yang kita panjatkan.

Saya jadi teringat, saya sering menggugat Tuhan karena doa saya tidak terkabul. Saya sering lupa, menjawab tidak sama dengan mengabulkan. Tuhan berjanji untuk selalu menuliskan jawaban atas doa kita. Entah itu dengan memberikan hal lain yang lebih baik atau justru ‘memoles‘ sesuatu yang kita inginkan hingga tiba saatnya nanti dikirimkan pada kita dengan penuh senyum…

Sekarang,kita tidak perlu memaksakan diri untuk mencerna semua jawaban Tuhan atas doa yang kita panjatkan selama ini. Nikmati saja hidup ini, lakukan semua yang harus kita lakukan, dan berdoa untuk semua yang kita inginkan (karena kadang kita tidak pernah mengerti apa yang kita butuhkan, maka sah-sah saja berdoa untuk sesuatu yang kita inginkan). Setelah itu, akan datang sendiri, sebuah momen “yang tak pernah kita duga” saat kita menyadari dan memahami jawaban Tuhan atas doa kita (seperti berkata “Oooh, ini toh maksudnya” lalu tersenyum kecil). Jawaban atas semua keinginan yang dengan baiknya dijawab Tuhan dengan sesuatu yang kita butuhkan…

Tuhan itu maha adil koq. Doa belum terkabul itu karena Tuhan menunggu kesiapan kita.

God is great. God is good. Karena Dia akan memberikan yang kita butuhkan, bukan sekedar yang diinginkan. Thank God, I know YOU are the GREATEST Script Writer!! So, all I need is just believe in YOU, and stay on YOUR path.

Thankful to Allah

Iklan