Kalo kumat isengnya, aku jalan2 menelusuri list friends-ku. Kadang aku bertemu dengan teman-teman dari bermacam kota, dan juga beberapa di negeri seberang. Hmmm… sebagian dari mereka sudah ke “mana-mana”. Ada yg kuliah di negeri seberang, ada yg berfoto dg latar belakang tembok raksasa Cina, ada yg berfoto dengan latar negara-negara Eropa sono….

Entah ada angin apa, tiba-tiba ada seorang teman yang “njumbul” (nongol) dan langsung curhat kayak gini : “Aduh maaaak, jebul aku baru sampai di sini-sini saja to? Bertempat tinggal di Jogja yang katanya suasananya damai dan tenteram. Padahal sekarang macetnya sudah mulai tak tertahankan, dan panasnya juga cukup menyengat. Ora Penak Blass”. Intinya, teman saya ini mengeluh karena hidupnya cuma itu-itu dan nggak ada perubahan yang significant.

Hehehe… ya, memang setiap orang tuh selalu punya kecenderungan untuk menganggap orang lain hidupnya jauh lebih enak. Lebih tenteram. Lebih indah. Lebih bahagia. Menganggap kalau hidup di luar negeri itu lebih mulyo, lebih enak. Apa iya sih?

Jujur saja, aku kadang juga berpikir begitu. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah “Lha njuk ngopo?” (Lha, pinginnya apa).

Aku jadi ingat cerita Mas X kemarin tentang temannya yg kaya raya–sugih mblegedu. Belum lama mereka mengobrol dan akhirnya temannya yg kaya itu akhirnya mengatakan bahwa hidupnya hampa. Memang sih segala fasilitas mereka punya. Gampangannya, duit selalu “ngetuk” dan tinggal mengeruk di ceruk lemari. Enak to? Tetapi mengapa hampa? Aku ndak tahu, je.

Pertanyaannya lagi: “Apakah hanya orang kaya yg bisa merasa hampa?” Wo, jangan salah. “Penyakit kehampaan” itu bisa menimpa siapa saja. Kurasa masalah hampa atau tidak hampa itu masalah bagaimana orang melihat hidup, bagaimana perspektif hidupnya, dan bagaimana imannya. Itu menurutku lo… (yg bukan siapa-siapa ini, hehehe).

Lalu, aku jadi ingat lagi kisah tentang seorang pemuda kaya yang bertanya kepada Rosul, “Ya Rosul, bagaimana sih supaya aku dapat memperoleh hidup kekal?” Pertama-tama Rosul meminta supaya anak muda itu menuruti perintah Allah; mulai dari jangan membunuh sampai mengasihi sesamamu manusia. Ternyata anak muda itu sudah menuruti semua itu. Akhirnya Rosul bilang, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutilah perintah-perintah ALLAH.”

Kupikir-pikir dunia ini menawarkan begitu banyak pilihan kepada kita sehingga kita bingung harus memilih yang mana. Bahkan untuk sesuatu yang jauh lebih berharga, kita sangat sulit untuk membuat pilihan yang tepat. Seperti pemuda kaya itu, kupikir yang dimaksud Rosul adalah agar pemuda itu tidak meletakkan hatinya kepada seluruh kekayaannya. Melepaskan segala kelekatannya dari seluruh kepemilikkannya yg fana.

Sulit memang. Dan aku pun masih belajar untuk itu. Padahal hartaku enggak banyak2 amat. Hehehe. Gimana kalau banyak ya?

Nah, kupikir-pikir, kita ini sebenarnya kan cuma pengen seneng. Hidup senang. Bahagia. Kalau bisa, semuanya lancar. Pekerjaan lancar. Cari jodoh juga lancar. Kita pengen bisa tertawa lepas. Kita pengen bisa tersenyum tanpa ada yang disembunyikan di belakang. Lalu ketika melihat orang yang tertawa lepas dengan memakai baju bagus, mobil,notebook atau HP keluaran terbaru, kita berpikir, “Wah kayaknya enak ya kalau punya barang2 bagus. Aku pasti bahagia.”

Tapi apa bener begitu?

Tadi pagi, aku baca artikel yang mengatakan bahwa pendorong yang paling sehat dalam hidup ini adalah Tuhan. Maksudnya, jadikanlah Tuhan itu sebagai metivator utama dalam hidup kita. Kita cukup mengarahkan hidup demi dan semata-mata hanya untuk Dia. Bahwa semua orang yang bahagia mempunyai TUHAN didalam diri mereka.

Wah, kok kayaknya hidup ini jadi paradoks ya? Lalu, sebenarnya aku ini pengen apa sih? Apa sih yang jadi pendorong terbesarku? Apa coba?

(Padahal aku baru saja merasa agak-agak jealous dengan temanku yang kariernya cemerlang kaya bintang di atas langit sono …. Hehehe).

Pilih mana? Tua ato Dewasa...!!!

Iklan