Membela Tuhan?

Beberapa waktu yang lalu, aku membuka sebuah blog. Isinya sempat membuatku bergidik. Gimana nggak merinding, kalau yang ditulis di situ isinya memojokkan iman. Di situ tertulis beberapa hal yang mendiskreditkan kepercayaanku.

Aku sempat berpikir, “Wah kok kayaknya semakin banyak saja ya, orang yang fundamentalis. Fanatik. Dan saking fanatiknya, mereka akhirnya menjelek-jelekkan kepercayaan orang lain. Lagi pula, di negara ini, sepertinya jarang banget keadilan ditegakkan. Sampai-sampai kerbau yang biasanya di sawah malah ikutan mengaspirasikan suaranya “gabung ikut demo”. Kebangetan banget kan penegakan hukum di negeri ini. Salah-salah kita yang ndak tau apa-apa ini malah kena hukuman.”

Aku masih memelototi blog itu. Lalu, aku tergelitik dengan sebuah tampilan komentar yang sepertinya ditulis oleh orang beragama X (kalau dilihat dari namanya). Dan sepertinya dia orang beragama X beneran menilik dari isi komentarnya. Tapi yang justru membuatku geli campur sebel adalah, dia menulis komentar yang isinya balas menjelek-jelekkan.

Lha terus, apa bedanya antara si pemberi komentar dengan si penulis artikel?

Di situ aku tidak menemukan “yang baik”. Merasakannya barang secuil pun tidak. Padahal, jika dilihat sekilas, keduanya menganut agama tertentu. Lha, kok ternyata yang ada malah perang mulut eh, perang tulisan ding! Debat kusir. Duh, capek deh!

Jika ditelusuri lebih jauh, apakah mereka enggak pernah belajari untuk berbuat ‘baik’ ya? Untuk saling menghargai perbedaan yang dalam ini di anggap musuh. Untuk menghormati orang yang memiliki pendapat atau keyakinan berbeda. Apakah mereka mau membela Tuhan? Kalau itu maksudnya, kayaknya percuma deh. Soalnya Tuhan itu ibarat samudera raya, dan kita cuma titik-titik air. Kalau mau membela TUHAN, apakah bisa? Tuhan kurasa tidak perlu dibela. Dia sudah jauh lebih berkuasa daripada kita. Kalau Dia mau, Dia bisa langsung menghukum orang yang justru berbuat merendahkan sesamanya. PR besar kita adalah hidup selaras dengan kehendak-Nya. Hidup saling mengasihi. Toh, kita ini kan sodara satu sama lain. Lagi pula yang selama ini saya pahami, perbedaan justru malah menjadi berkah bila kita sanggup menyikapinya secara dewasa.

Saya setuju dengan pendapatnya Dee : “kalo kita berbicara tentang perbedaan keyakinan, seperti halnya menguraikan benang kusut. Semakin di uraikan akan semakin kusut dan rumit dan tidak ketemu ujungnya”.


Bagiku, ini adalah kegelisahan yang kurasakan akhir-akhir ini. Aku percaya bahwa di Indonesia tercinta ini orangnya baik-baik. Aku percaya, bahwa hampir semua dari kita percaya akan adanya Tuhan. Tapi kok bisa dibilang tidak terjadi perubahan yang positif di masyarakat ya? Orang masih saja cuek dengan lingkungan dan sesama, boros, tidak empati, dan sebagainya. Intinya sih, orang tidak lagi tumbuh dalam takut akan Tuhan. Tuhan cuma ada pada hari-hari besar keagamaan atau saat kita berdoa, melakukan ritual keagamaan. Selanjutnya? Taruh saja Tuhan di sudut meja tempat kita meletakkan Kitab Suci atau buku doa kita.

Yah, kata orang kalau menginginkan perubahan, kita sendiri dulu yang mesti berubah. Jadi, hari ini, aku mungkin perlu “kaca besar” untuk bercermin, apa saja yang perlu dibenahi dari diriku, sehingga aku nggak cuma bisa nulis dan mengeluh terus, hehehe.

Btw, yuk kita introspeksi bareng-bareng 😀

note ini di tulis saat perjalanan berangkat kerja

Iklan