I work, therefore I am…

Most of us will say, we work to make a living. Actually working is not only survival game. It can improve ones dignity by self realization (identity). It shapes who we are and the way we are perceived by others, yet most of all, the ‘rules’ of our work do have a powerful impact on the way we understand and give meaning to events shaping our lives and the lives of others.


For Moslem, talking about working is not only related to “dunyo” or about living in the world  but it is also about the day after (akhirat). It is emphasized to keep working, while one is over then start with another job. Working is a way to achieve the God’s love and this is a way to ”jannah” (heaven). It only happens if we are professional, “ikhlas” (it is only for God), to be honest and objective in every way, highly ethic, and obey the “syariah” (the Moslem rule*…in simple way*).


“Labora Ergo Sum” reflects a Moslem way… Let’s start our work today with a simple pray to God…Bismillahirrahmannirrahiim…*(Everything must started with the name of God)*. Praise to be Allah, Lord of the worlds. The beneficent and the merciful….

Pikiran dan hati saya sedang dirasuki tema tentang “bekerja”  sejak beberapa hari yang lalu. Entah karena keseringan memvisualisasikan saya dan pekerjaan, hingga tanpa disadari pagi ini saya terdiam, menyaksikan orang-orang yang mengawali hari dengan bekerja, lebih pagi dari saya, lebih pagi dari kebanyakan orang. Ibu-ibu penjual sayur yang dipagi buta telah pergi ke pasar, sopir-sopir angkot yang berlomba mengais rejeki, menjadi sopir antar jemput bagi ibu-ibu ini. Ketika fajar pagi baru naik dilangit, angkot-angkot ini digeber, melaju, membelah jalanan pagi untuk mengantar pekerja dan pelajar menuju tempatnya masing-masing.

Orang-orang tua mengatakan, “bangunlah pagi atau rejekimu hilang dipatuk ayam”.  Sepertinya perumpamaan yang terlampau berlebihan dan nampaknya perlu direvisi. Bukannya masing-masing telah memiliki rejeki masing-masing? Meski saya sepakat semakin pagi mengawali hari, semakin mudah bagi kita mengisi hari tersebut dengan efektif,  reward akan datang kemudian secara langsung ataupun tak langsung. Sementara itu juga tak bisa memungkiri bahwasanya ada sebagian diantara kita yang memang rejekinya datang di malam hari. Bukannya Tuhan juga memberikan contoh dari kehidupan kelelawar yang justru mendapatkan rezekinya dimalam hari?

Hm, banyak cara menjadikan hidup lebih bermakna, bekerja termasuk cara yang paling mudah untuk meraih tujuan itu. Entah dilakukan pada saat matahari benderang seperti kebanyakan orang atau disaat bulan yang muncul, atau bahkan disaat gulita tanpa kehadirannya, sebaiknya dipastikan saja, setelah usai dari satu pekerjaan segera melakukan pekerjaan yang lain dan ketika lelah menghampiri, segera beristirahat.

Bekerja menjadikan kita ada, dan berarti setidaknya untuk diri sendiri, itulah sebabnya saya menyukai plesetan cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada menjadi labora ergo sum, aku bekerja maka aku ada. Tentu tidak semua sepaham dengan saya dan itu berpulang pada masing-masing. Selamat bekerja!

Satu hal yang cukup penting. Dalam agama saya, bekerja merupakan salah satu jihad yang mulia. Jihad untuk mensejaterahkan nasib keluarga saya tentunya..

Tired after work....

Iklan