Serius nggak neh buat menikah ?

Love anything......

Menikah adalah moment yang paling membahagiakan dalam hidup. Siapapun yang akan menikah pasti akan menantikan moment ini dengan sangat bahagia sekaligus debar-debar cemas. Dulu ketika hendak menikah, ada banyak rasa yang mengaduk-aduk dalam hati saya, dan ada banyak hal yang berkecamuk dipikiran saya.

Bagaimana jika ternyata dia bukan wanita yang baik,

Bagimana jika kali ini pilihan saya bukanlah yang terbaik,

Bagaimana jika dia tidak bisa akur dengan saudara-saudara saya.

Bagaimana jika dia hanya peduli pada ibunya daripada saya.

Bagaimana jika ibu mertuaku lebih menguasai dia daripada aku.

Bagaimana jika ibu mertuaku kejam dan cerewet.

Bagaimana jika dia tidak sayang sama orangtuaku.

Bagaimana jika tahu-tahu dia berubah menjadi pribadi yang kasar

Bagaimana jika dia tidak bisa memuaskan aku ditempat tidur

Bagaimana jika nanti dia membatasi kebebasanku.

Bagaimana jika dia nanti berselingkuh karena standar kebahagiannya terlalu tinggi.

Bagaimana jika nanti kami punya anak, apakah kami masih akan tetap mesra.

Dan sejuta ‘bagaimana jika’ yang terus saja berputar dikepala.

Menapaki pernikahan

Pada umumnya, hampir semua orang pasti akan mengalami hal yang sama dengan yang saya alami ketika akan memasuki jenjang pernikahan. Ketidak pastian akan masa depan terkadang membuat membuat bimbang atau ragu untuk melangkah.

Saya sendiri malah nervous banget ketika itu. Deg-degan banget. Makan tidak enak, tidur tidak tenang, berat badan susut, kulit jadi kusam karena kurang tidur, dan bawaannya jadi gampang emosi, mood fluktuatif sekali. Belum lagi pertengkaran keluarga besar, hanya gara-gara tidak setuju sama susunan acara, dsb. Atau perselisihan antar tamu yang dari pihak laki-laki dengan pihak perempuan karena baru seragam yang mereka dapet gak sebagus baju seragam yang dipake pihak ‘sebelah’. Masih banyak lagi urusan seperti catering, jumlah undangan untuk pihak laki-laki dan perempuan yang terkadang bikin ribut, dsb. Pokoknya tiap hari rasanya jantung gak pernah berdetak dengan normal, dan mood rasanya tidak pernah berhenti. Capek lahir batin pokoknya. Ok, kembali ke kedua calon pasangan yang akan menikah.

Sebetulnya hal yang paling utama dipersiapkan adalah HATI.

Sudah siapkah hati kita menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita kelak, tidak hanya dibibir, tapi betul-betul datang dari HATI. Karena apa yang tampak indah pada saat pacaran, believe me, tidak akan seindah itu ketika sudah mengarungi bahtera rumah tangga. Kalau kata orang, “itu khan hanya screen saver-nya doang” :). Emank sih kalo tampilan sekilas lebih bisa membuai daripada tampilan yang sebenarnya. Salah satu sahabat saya pernah curhat sambil menangis, katanya begini,

“Gue bingung mo jadi nikah sama dia apa enggak. Sekarang gue baru tahu kalo dia itu orangnya tidak punya perhatian sama sekali. Kesel banget tahu gak. Dia emang sayang sama gue, sayang banget malah… Tapi dia gak peduli banget sama orang tua gue. Masak nyokap gue masuk rumah sakit dia gak pernah nengokin, alesannya sibuk banget. Boro-boro nengok, nanya aja basa basi banget. Sebel gak sih? Padahal dia tahu banget, nyokap gue itu orang yang paling gue sayang didunia ini. Kalo dia sayang sama gue, mestinya khan dia juga sayang dong sama nyokap gue???”

Hmmm, saya setuju dengan apa yang dia bilang, tapi kalau saya mengiyakan, dia akan makin senewen dan makin ragu untuk melangkah. Cuma dalam hati saya sempat bingung kenapa dia baru menyadari dan mengeluhkan ini justru ketika undangan sudah disebar dan ini sudah mendekati hari H pernikahannya.

Maka sayapun bertanya, “Emang selama ini loe gak tahu kalo dia gak peduli sama nyokap loe?”

Dia jawab, “Gue udah tahu dari dulu, cuma karena dia sayang banget sama gue, gue pikir dia pasti sayang banget sama nyokap gue juga. Lagian kan dulunya nyokap gue belum sakit, jadi gue gak tahu apa dia bakal merhatiin nyokap gue juga atau enggak.”

“Ya tapi kan keliatan kali, apakah dia termasuk ‘family man’ atau bukan”

“Family man itu kayak apa sih?”

“Ya, orang yang sayang ama keluarganya. Keliatan kok, dari cara dia merhatiin adiknya, ibunya, papanya, atau cara dia menyapa nyokap loe, memperlakukan sodara-sodara loe, dsb”

“kalo itu sih gue liat dia perhatian kok sama keluarganya, tapi ama keluarganya doang. Dia gak pernah perduli sama keluarga gue, ama adik gue aja dia gak gitu akrab”

“Lahhh, trus kok loe mutusin mau menikah sama dia?”

Ups, salah ngomong saya sepertinya… Lalu buru-buru saya ralat.

“Ya sudah, kalau begitu gini ajah, loe bicara dari hati ke hati dengan dia, tanyakan mengapa dia tidak peduli pada ibu kamu, siapa tahu emang beneran dia sibuk”

“enggak kok, dia-nya aja yang emang gak peduli”

“Lah, loe udah nanya belum?. Salah satu kesalahan kita yang jarang kita sadari adalah, kita terlalu asyik bermain-main dengan pikiran kita sendiri, dan terkadang kita membiarkan pikiran negatif yang menguasai kita”

Dia terdiam… jadi saya melanjutkan lagi,

“Jangan berfikir negatif sebelum mengkomunikasikan apa yang ada dikepala loe dengan dia. Kalo udah khan enak, nanti kalian jadi sama-sama tahu kalian berdua maunya apa. Ini dah mo nikah loh, dan menikah itu gak gampang, mesti pinter-pinter mengelola emosi. kalo gak, alamat bentar-bentar kabur kerumah orangtua loe nantinya, atau malah ujung-ujungnya nuntut cerai melulu. Dan kunci dari semua itu ya komunikasi” 🙂

Dia hanya menghela nafas diam. Terlalu lelah sekedar mengiyakan apa yang baru saja saya katakan padanya.

Hmmm, terkadang kita terjebak dalam bujuk rayu pasangan yang menyatakan kalau dia sangat-sangat mencintai kita, dan akan melakukan apa saja untuk membuat kita mau menikah dengan dia.Tanpa berfikir apakah benar dia akan melakukan apa saja untuk membahagiakan kita. Apakah kita bisa ‘klik’ dengan kekurangannya kelak.

Ketika kita dihadapkan pada janji “Apa saja asal…” tadi, tiba-tiba laki-laki bisa berubah menjadi makluk yang amnesia mendadak, lupa pada janjinya untuk melakukan apa saja agar sang kekasih mau menjadi miliknya seutuhnya. Mencintai orangtua pasangannya misalnya.Padahal, menikah bukan hanya menyatukan dua orang saja, tetapi dua keluarga besar. Aku mencintai kamu berarti aku akan belajar mencintai keluargamu, papamu mamamu, kakak-kakakmu dan adik-adikmu seperti orangtuaku dan saudaraku sendiri.Mencintai pasangan berarti mencintai dia satu paket secara utuh, lengkap dengan keluarganya, dan segala kelebihan dan kekurangannya juga. Pertanyaannya adalah, “Siap gak kita untuk itu?” *sok wise:mode on*

Pada akhirnya, komunikasi yang intens dan harmonislah yang harus selalu dibina dan dijadikan habit bagi kedua pasangan yang akan menikah.Karena masalah apapun, seberat apapun, ketika dikomunikasikan dengan baik, pasti akan ketemu juga solusinya. Eh, balik lagi ke yang tadi. Jadi,… kalo pasangan gak peduli sama orang tua kita, lanjutin gak nih nikahnya?

a couple

Iklan