“Bete deh…! Kerjaan banyak banget, gaji kecil, nggak ada lemburan lagi! Duuhhh pokoknya udah capek gue kerja dikantor ini. Pengen pindah deh!” adalah kalimat yang sering terdengar saat ngobrol2 dengan para karyawan lain di tengah jam istirahat. Tapi bahkan setelah 2 tahun, orang itu masih tetap tercatat sebagai karyawan dari perusahaan yang sama. Kalau ditanya kenapa nggak pindah2 juga kalau memang sudah begitu banyak keluhan, mereka hanya akan ngeles, “yah belom dapet yang cocok” atau “yah ini juga masih nyari2”.

Dari observasi saya terhadap teman penggerundel saya, bahkan termasuk diri saya sendiri, orang2 seperti ini sebenarnya adalah orang yang enggan keluar dari comfort zone mereka. Menurut Wikipedia, Zona Comfort atau yang biasa kita dengar sebagai Comfort Zone adalah suatu tempat dalam diri seseorang yang bebas dari rasa kegelisahan. Zona netral yang sudah sangat familiar bagi individu2 masing2. Intinya, zona nyaman adalah suatu area yang aman. dengan resiko yang paling kecil.

Sebenarnya Zona Nyaman tidak selalu benar2 nyaman. Tapi dengan mengeliminasi faktor resiko dan kegelisahan yang ditimbulkannya, zona ini bisa membuat seseorang merasa cukup nyaman di dalamnya. Siapa bilang manusia adalah mahluk yang suka pada perubahan? Manusia  menyukai suatu kondisi yang familiar yang bisa mereka control dengan baik.

Apa hubungannya obrolan saya diatas dengan karier? Ada?.

Mahluk2 pekerja biasanya sudah akan merasa nyaman dengan pekerjaan yang ia lakukan sekarang. Terbiasa dengan rutinitas-rutinitas mereka yang sudah sangat mereka kenal. Disini bisa saja  berupa pekerjaan2 yang sudah biasa mereka lakukan setiap hari, atau bertemu dengan kolega2 kantor, client ato para costumer yang sudah mereka kenal, atau mengetahui kebiasaan2 boss mereka. Jadi biarpun mereka mengeluh betapa tidak memuaskannya pekerjaan mereka, mereka tidak mau (atau tidak berani) keluar dari zona nyaman mereka. Karena hal yang baru, diluar comfort zone mereka, menimbulkan kegelisahan2 baru yang sama sekali asing, yang tidak mereka kenal. Dan itu sama sekali tidak nyaman untuk mereka.

Sayangnya, comfort zone ini bisa jadi penghambat bagi seseorang. Saya kenal dengan seseorang yang memiliki potensial besar yang pasti bisa jadi lebih sukses bila dia sedikit berani melangkah keluar dari comfort zonenya, dan menggapai kesempatan2 yang baru. Sebut saja namanya, Rina. Rina memiliki semua yang dibutuhkan untuk jadi orang sukses. Otak yang brilliant, talenta yang luar biasa, ketekunan dan keuletan yang jempolan. Hanya saja, ia tidak berani menghadapi kegelisahan2 dan resiko2  yang akan muncul seiring dengan keluarnya dari comfort zone. Dalam hal ini, mencari pekerjaan lain yang lebih berprospek. Akhirnya ia hanya terkungkung di tempat kerja lamanya, dengan gaji seadanya yang hanya cukup meng-cover kehidupan setiap bulannya. Intinya, pekerjaan yang seharusnya dikerjaan oleh orang2 yang berada 2 level dibawahnya.

Betapa ruginya…

Seperti kata penjudi sejati, berani pasang besar untuk menang besar! Begitu juga dengan karier. Meninggalkan comfort zone bisa menjadi suatu langkah yang besar untuk kita. Ya, memang menakutkan. Ya, memang beresiko. Tapi untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar, kenapa tidak?

Yang harus di lakukan?. Zona nyaman tidak akan hilang. Seiring berjalannya waktu, zona nyaman akan kembali pada kita. Hanya kadang dalam bentuk yang berbeda.Jangan hanya puas dengan apa yang kita  miliki. Tapi cari tahu apakah yang kita  miliki sudah sesuai dengan apa yang sepantasnya kita miliki.

Comfort zone tidak akan pergi kemana2. Ia akan selalu berada di sekeliling kita. Sekarang hanya terserah kita memilih. Apakah kita ingin comfort zone menjadi zona yang benar2 nyaman untuk kita, ataukah comfort zone adalah tameng bagi diri kita dari kesempatan baru demi sukses yang lebih besar.

Kalo menutip perkataan seorang sahabat saya, ia pernah berpendapat seperti ini ;

Gag pengen rasanya meninggalkan zona nyaman ini. Ada tempat yang akan menerimaku apa adanya. Ada teman yang selalu mau berbagi. Ada kehangatan setiap saat diantara mereka yang lebih dari saudara buatku. Ada itu semua disini, dan aku tau, aku tau, aku tidak akan pernah menemukan yang sepeti ini lagi. Dibelahan dunia manapun.”

Tapi aku lebih tau, bahwa hidup harus jalan terus. Bahwa kenyamanan ini seperti kotak labirin. Yang tidak akan membawamu kemana-mana. Hanya memutar saja kearah itu-itu juga. Bahkan tidak akan ada yang berbeda dalam setiap tikungan yang kita lewati. Tapi aku tau, aku tidak dapat berada disana selamanya. Karena labirin itu tidak menawarkan apa-apa selain kenyamanan yang tidak akan membawaku kemana pun.”

Kata salah satu atasan saya, ia pernah berkata seperti ini; “ yang bikin tetep betah di kantor ada dua hal yang perlu dicari dari kerjaan, entah itu DUIT atau ILMU kalo bisa sih DUA2NYA. Jadi dibagi dulu, zona nyaman di DUITnya atau di ILMUnya. Kalo ga ada duitnya di kantor, sedot ampe abis ilmunya. Abis itu loncat yang tinggi dengan bekal ilmu.”

Kotak labirin

Iklan