Sewaktu masih kuliah di Solo, ada salah satu hiburan yang paling berarti bagiku adalah duduk berlama-lama di masjid yang berada di sekitar komplek fakultas. Berlama – lama buat berdzikir tentunya, bukan berlama-lama untuk tidur. Tapi nggak tahu kenapa, setiap kali aku berdzkir Allah selalu mengarahakan wajahku kepada seorang wanita muslimah. Sejak saat itu, diam-diam aku mulai rajin mengamatinya. Bukan hanya sewaktu di masjid, tapi dimanapun saya bertemu dia. Entah itu di kampus, di perpustakaan, di laboratorium, bahkan saya pernah tak sengaja menjumpai dia di komplek asramanya. Yang baru saya mengerti kalau asrama dimana tempat dia tinggal, jaraknya cukup berdekatan dengan kos teman saya. Perasaan menyenangkan sekaligus membuatku terjerembab.

Setelah sekian lama, saya mencari informasi tentang dia. Akhirnya saya tahu, kalau dia telah memiliki tunangan dan akan melangsungkan pernikahan setelah menyeleseikan ujian skripsi. Demi Allah, hatiku sedih dan bertanya dalam hati, mana mungkin saya jatuh cinta kepada seseorang yang akan menjadi calon istri seseorang. Suatu penyesalan yang mendalam, karena semenjak saya mulai sering melihat wajahnya, saat itu adalah dua bulan menjelang sidang skripsi. Dan artinya dua bulan selanjutnya, dia akan sah menjadi milik orang lain. Astagfirullah……Ini seperti pungguk merindukan bulan. Bahkan jatuh cinta tetap membuat orang tetap tahu diri. Seharusnya sejak melihatnya pertama kali, aku kembali beristigfar. Mengapa hati ini tertarik kepada wanita yang tak mungkin ku raih.

Sosoknya yang ramah dan keakrabannya terus mengusik pikiranku. Hal ini lebih memusingkan daripada menyeleseikan skripsiku. Sikapnya terkesan tulus dan penuh kasih sayang. Rasa yang awalnya hanya berupa kekaguman dan simpati kini membumbung jauh untuk memiliki. “Salahkah Ya Allah, Dosakah jika aku ingin wanita itu menjadi istriku, yang juga sebagai ibu dari anak-anakku kelak?”. Aku tahu aku bukan siapa-siapa, hanya seorang teman yang baru saja mengenal, tak memiliki hal istimewa untuk menjadikan dia tertarik terhadapku. Apakah yang kupunya?. Yup, cuma Allah yang kupunya. Anehnya kepasrahan itu malah justru menuntun saya kepada doa-doa panjang, yang senantiasa ku panjatkan dengan khusyuk, dengan rasa ikhlas dan percaya, bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik buat hambaNya. Allah maha kuasa, adakah yang tidak mungkin jika DIA sudah berkehendak. Allah maha mengetahui, ku serahkan segenap perasaanku terhadap keputusanNya.

Ya Allah, engkau pasti tahu segala yang ada dalam hatiku. Ya Allah, hanya kepadaMu aku berdoa, dan bermohon karena hanya Engkaulah yang Maha Kuasa, Maha Tahu apa yang terbaik untuk hidupku. Ya Allah, jika aku boleh memohon kepadaMu dan jika memang Engkau berkehendak, jadikanlah dia pendampin hidupku, jadikanlah ia istri sekaligus ibu dari anak-anakku, jika menurut engkau dia yang terbaik bagiku, kabulkanlah doaku ini”. Ku lewati hari-hari ku dengan doa yang sama. Tetapi meskipun sebulan berlalu, perasaanku masih sedih. Ku coba untuk mulai menjauh dan tidak memperhatikan dia lagi, walaupun sesekali waktu shalat di masjid, pandanganku masih menangkap wajahnya. Saya semakin sedih, tinggal satu bulan lagi ia akan sah menjadi milik orang lain.

Dua bulan telah berlalu, saya sudah menyeleseikan ujian skripsi. Begitu halnya dengan dia. Kali ini harapan saya pupus sudah, kerena telah jatuh cinta pada orang salah. Saya akhirnya memutuskan untuk kembali lebih cepat ke kampung halaman saya. Ke kota surabaya tepatnya, selain ingin cepat menyembuhkan rasa kecewa, saya juga telah mendapat panggilan kerja di sebuah industri yang dulu pernah menjadi tempat saya melaksanakan kegiatan KKN. Yups, saya ingin segera mungkin meninggalkan UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret ,Surakarta), saya harus meninggalkan solo untuk mengikis luka hati saya. Setelah 200 meter langkah kaki saya meninggalkan tempat kos, ternyata ada sesuatu yang tertinggal. Akhirnya saya balik ke kos, mengambil sesuatu yang tertinggal, yang ternyata seseuatu itu adalah notebook saya.

Sewaktu saya akan keluar dari tempat kos, tiba2 ia sudah aa di depan pintu dan berkata; “Boleh nggak minta waktu sebentar untuk ngomong?”. Dan saya pun mempersilakan ia bicara, di tengah pembicaraan kami, ia bercerita kalo sejak dua bulan yang lalu ia putus dengan tunangannya. Sejak saat itu pula ia juga sering memperhatikan saya, dan ternyata ia juga suka kepada saya. “Mimpikah ini?Benarkah wanita ini memintaku untuk melamarnya?” . Air matanya telah membasahi kelopak matanya. Dia ingin menangis tapi malu, akhirnya malah pertanyaan seperti ini meluncur dari mulutnya , “Apakah aku pantas mendampingmu? Apakah aku pantas menjadi istrimu?”. Begitu sungguh2 ucapannya sehingga aku tertegun. Padahal inilah doa yang selama ini ku mohon pada Tuhanku. Anehnya ketika doa ku mendekati terkabulnya, aku malah ragu, dan bertanya dalam hati, “Kenapa dia mau menikah denganku, bukankah dari segi fisik aku biasa2 saja?”

Hari-hariku mulai berbunga, tetapi masih banyak keraguan terselip di benak, wanita itu semakin menunjukakkan niat dan keinginannya untuk menikah denganku, denagn cara yang baik, wanita itu menunjukkan betapa ia menyanyangi keluargaku. Begitulah akhirnya kami menikah. Rumah tangga terasa damai dan dipenuhi kebahagiaan. Alhamdulilah……………Terima kasih Ya Allah, telah kau penuhi doa ku untuk mendapatkan pendamping yang baik, sholehah dan penuh kasih sayang terhadapku…

Kisah ini di alami oleh seseorang yang saat ini menjadi Head Engineer di perusahaan tempat saya bekerja. Terima kasih dan salam hormat saya untuk beliau yang mau membangi pengalamannya terhadap saya. Semoga kisah ini bisa menjadi refleksi diri, bahwa tak ada yang tak mungkin bagi Allah..Nothing is imposble. And imposible is nothing.

Si Mas Head Engineer

Iklan