“… aku mau rumah seperti itu,” rayunya manja sambil menunjuk sebuah rumah yang kami lewati di minggu pagi yang segar itu. Rumah bergaya Art Deco dengan warna coklat muda. Bangunannya tidak menjulang, hanya dua lantai saja. Gerbangnya tidak tinggi, namun juga tidak rendah. Sebuah rumah sederhana namun telah mencuri hatinya, membuatnya setiap kali melewatinya selalu memintaku melambatkan laju kendaraan kami.

“Kenapa tidak yang itu saja,” kataku menunjuk sebuah bangunan besar dengan pilar mengular khas koloseum roma kuno. Dia menggeleng pelan, dan tawaku pun terdengar. Ah, aku memang gemar menggoda. Sudah tahu seleranya apa namun tetap saja ditawari yang lain. Mataku mengamati rumah besar dua lantai tersebut. Tinggi, kokoh dan sangat perkasa.

Keesokan harinya kami terkejut melihat rumah gagah itu pilarnya miring dan dindingnya banyak yang retak. Cepat kulayangkan pandang ke rumah idamannya, seraya berharap cemas semoga rumah itu tidak roboh. Sedangkan rumah kokoh itu saja retak, lalu apa kabarnya rumah sederhana impiannya. Rumah dengan rasa kehangatan keluarga, yang tidak terlihat pilar – pilarnya. Senyum mengembang menggantikan cemas, untunglah rumah idamannya itu tetap tegak berdiri. Herannya tanpa cacat sedikitpun.

Tukang bakso dimana kami menganjal perut bercerita bahwa tadi malam ada gempa, tidak kuat namun cukup membuat beberapa rumah rusak lumayan parah. Heem…. Ada keanehan disini. Rumah kokoh hampir roboh, namun rumah sederhana tetap jumawa. Ada apa? Sayup kudengar abang tukang bakso bicara soal pondasi. Ah ya, pondasi. Dasar dari rumah itu sendiri. Biar bagaimana pun bagusnya sebuah bangunan, jika pondasinya tidak kuat maka ia akan rentan. Teringat bahwa hidup ini juga sebuah bangunan. Karierku adalah bangunan yang kubangun diatas dasar agama dan pendidikan, kerja keras juga loyalitas. Rumah tanggaku adalah bangunan yang kubangun dengan kasih, pengertian dan juga usaha untuk saling memahami.

Pondasi hidupku dibangun diatas nilai – nilai yang diajarkan keluarga. Nilai – nilai keyakinan yang di kemudian hari dilepaskan menjadi pilihan bebas dan menjadi hak dasarku, karena nilai – nilai tersebut tidak dapat dipaksakan. Dan aku tidak akan pernah memaksakan nilai – nilai yang aku anut kepada orang lain ataupun memandang rendah kawan dengan nilai yang berbeda. Sekali – kali tidak. Aku hanya ingin berbagi bahwa pondasi nilai yang kita peganglah yang dapat menyelamatkan kita.

Tentu saja pondasi yang kokoh tidak serta merta membuat banguan yang berdiri diatasnya menjadi bangunan yang luar biasa indah. Siapa bilang jika sudah mendasarkan hidup pada keyakinan dan ajaran Tuhan maka bisnis kita tidak bisa bangkrut ? Siapa bilang rumah tangga kita aman dari percekcokan ? Tetap saja ada angin, hujan bahkan badai yang menghantam. Yang bisa membuat bentuknya jelek tak beraturan atau hancur berantakan. Tapi dengan pondasi yang kokoh bangunan tersebut tentu lebih tahan menghadapi goncangan dan jikalau roboh, dapat dibangun lagi dengan cepat.

Jadi, dibangun diatas pondasi apakah rumah kehidupan kita di dunia ini ? 🙂

 

 

Home stay

Iklan