Malam ini tiba-tiba saya teringat wajahnya. Seorang muslimah yang wajahnya cepat menyemburat merah setiap kali dia tersipu. Lebih dari 9 tahun lalu, kami berkenalan. Persahabatan yang sangat lama itu telah mampu menyatukan karakter kami yang seperti langit dan bumi. Saya yang periang, spontan dan ceplas-ceplos, sementara pembawaannya yang periang, tenang dan tak banyak bicara. Muslimah ini lebih banyak tersenyum ketika kami, rekan-rekannya meledak tawa. Saya seperti biasa tidak mungkin membuka identitas siapapun yang telah memercayakan sebagian kisah hidup mereka kepada saya. Kita sebut saja nama dia “Fidia”. Seorang muslimah yang darinya saya mengambil banyak pelajaran hikmah yang ingin saya bagiakan kepada banyak orang.

Usianya hampir sama dengan saya, tapi bukan itu kesan mendalam di hati saya tentang fidia. Saya cemburu, iri setengah mati, melihat betapa gemarnya muslimah yang satu ini beribadah. Siapapun menurut saya pasti akan terenyuh melihat cara Fidia berdoa. Begitu khusuk, begitu damai dan begitu asyik dia menyampaikan suara hatinya kepada sang Pencipta. Dan air mata membanjir membasahi wajah fidia seiring doa-doa panjang yang ia suara kan dengan lirih. Sementara pundaknya terguncang-guncang karena tangis. Dia juga selalu displin mengerjakan shalat tahajud tiap malam. Saya tahu hal itu karena sewaktu masih kuliah, kos kami saling berhadapan. Kamarnya berada di lantai dua, dan kamar saya juga berada di lantai 2. Jadi setiap kali ia melaksanakan amalan-amalan malam hari, saya tahu dari kamar saya.

Suatu kali saya pernah melemparkan beberapa pertanyaan seperti ini :

“Kenapa kamu beribadah sekeras itu ,Fid?”.

“Kenapa kamu selalu menangis dalam doa-doamu?”.

“Apakah matamu yang selalu berair tidak letih karenanya?”.

“Banyak dosa saya, Mas Her…”

Suatu hari dalam kedekatan kami, Fidia membagi ceritanya. Masa lalunya yang gelap dan hampir-hampir membuatnya putus asa. Pelecehan seksual yang dilakukan temannya masa kecil. Pemerkosaan yang dilakukan Om-nya. Dan terakhir, teman satu SMA yang sama-sama merantau telah melakukan tindakan tidak pantas, suatu malam. Padahal mereka sama-sama perempuan. Bertubi-tubi perlakuan temannya yang membuat Fidia merasa dirinya kotor.

“Saya jijik terhadap diri saya, Mas…saya merasa begitu kotor dan tidak pantas berdiri di hadapan Allah .”

Dan cinta yang dihadirkan seorang teman kuliah, telah menyeretnya ke dalam dosa yang berkepanjangan.

“Kami berzinah, tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali. Saya tidak tahu dimana Allah ketika itu…”

Di dekat saya Fidia mengusap air matanya yang mulai jatuh.

“Saya merasa kotor, Mas Her..saya jijik pada diri sendiri. Apalagi setelah saya tahu hukuman terhadap penzina.”

Ada suatu masa dalam hidupnya ketika gadis itu berusaha untuk mengakhiri hidupnya.

“Saya sempat ingin bunuh diri, Mas. Tapi Allah menolong saya…”

Hubungannya dengan sang pacar putus, ketika akhirnya Fidia menolak terus berhubungan intim. Fidia menyebut hal itu sebagai cara Allah menyelamatkannya dari dosa yang lebih jauh.

“Padahal saya sudah berada di titik terjauh dari Allah. Di titik yang rasanya tidak mungkin saya untuk kembali bersih. Apalagi mengingat masa lalu yang seperti itu.”

“Tapi masa lalu, pelecehan-pelecehan itu bukan salahmu, Fid .” Ujar saya..

Fidia terdiam, wajahnya yang putih berangsur memucat karena kesedihan.

“Tapi salah saya juga, Mas Her. Dosa saya. Dan saya tidak tahu bagaimana cara membersikan diri di hadapan Allah . Setiap kali saya mandi, saya akan menggosok tubuh saya keras-keras dengan sabun, berharap itu bisa menyucikan diri saya.”

Rahmat Allah luas, kasih sayng dan ampunan Allah luas. Saya yakin Fidia bukan tidak tahu itu. Tapi masa lalu yang gelap, yang menjadikan Fidia seperti sekarang ini. Seorang muslimah yang merasa harus terus menerus membersikan diri. Seorang muslimah yang giat berdoa dan beribadah.

“Saya ingin bersih ketika menghadapNya nanti. Saya ingin Allah menyambut saya dengan cinta.

Saya ingin Dia mengizinkan saya yang begitu kotor ini, untuk menatap wajahNya….”

Ah, Fidia…

Muslimah yang kedekatannya kepada Allah, membuat saya cemburu. Muslimah yang begitu kyusuk dengan doa-doanya. Sosoknya yang tenang itu telah membuat saya melihat betapa nikmatnya taubat…


quran

Give me Your Blessing, Lord

Iklan