Biasanya tiap akhir pekan, saya langsung meluncur pulang. Tapi entah kenapa hari itu saya tiba-tiba ingin mengantarkan sahabat saya yang beragama budha untuk pergi vihara. Meskipun letak vihara tersebut bukan di sekitar pecinan. Tapi banyak juga orang berjualan beraneka barang dan pernik layaknya di pecinan. Sementara sahabat saya, sedang menjalankan ibadah. Saya cuma bisa menunggunya sambil berjalan di sekitar area vihara yang cukup luas. Itung2 buat melepas kepenatan atau sekedar rasa capek.


Tak berapa lama, langkah saya terhenti. Ada ‘sesuatu’ di depan mata saya yang menyita perhatian saya. Satu pemandangan yang bagi sebagian besar orang mungkin bukan apa-apa. Terbukti begitu banyak orang yang melintas tapi hanya satu dan dua yang berhenti untuk menghampiri. Sepasang pengemis tua yang buta, duduk di atas tikar kecil, tepat disebelah atau sisi kiri jalan setapak, beberapa meter dari gerbang vihara.


Hati saya langsung berkata : “Subhanallah, cinta seperti apa yang mempertemukan mereka ?. Cinta seperti apa pula yang tidak kunjung memisahkan mereka”.

Melihat kondisi seperti itu. Saya cuma bisa membayangkan betapa suami istri tua itu telah melalui sebagian besar bilangan usia mereka dalam hari-hari yang sulit. Bukan hanya bahu membahu untuk makan sehari-hari, tapi juga saling membantu dalam melakukan aktivitas harian yang sederhana. Kesulitan yang makin menjadi ketika usia bertambah semakin tua. Barangkali mereka tidak memiliki anak, hingga suami menjadi tumpuan istri, begitu pun sebaliknya.


Ya Allah, Bagaimana jika salah satu sakit? Bagaimana mereka merawat pasangan dalam keterbatasan fisik ?


Ketika jalan semakin sepi, saya melihat keduanya mengobrol. Ada senyum yang sesekali terlihat di wajah sang istri. Senyum yang sama yang terulas di bibir suaminya. Mungkin meeka membicarakan hal-hal yang lucu. Mungkin juga bergembira membayangkan hasil mengemis hari itu.


Entalah. Tapi kebersamaan keduanya sungguh di luar nalar saya. Dalam keadaan cacat fisik dan kekurangan materi, apakah yang menjadi sumber kebahagiaan keduanya ?.Terlintas dipikiran saya bahwa tidak sedikit suami istri yang bertengkar karena kurangnya pengertian, saling menyalahkan atas sikap-sikap yang dianggap menyinggung dan tidak berkenan. Atau seperti pasangan yang meributkan uang belanja yang tidak cukup, sementara harga-harga sembako semakin tinggi.


Sepasang pengemis tua itu mungkin tidak memiliki apa-apa. Saya yakin sebagian besar diantara kita pasti jauh lebih kaya. Tetapi sesuatu yang teduh dan menelusup dalam hati, ketika saya memandang mereka lekat.


Pertemuan dengan sepasang suami istri ini telah membuka mata saya terhadap bentuk cinta yang indah. Sungguh, mereka memiliki cinta yang tidak setiap orang memilikinya, bahkan oleh orang-orang yang dilimpahi keberkahan materi sekali pun. Barangkali karena cinta seperti itu hanya diberikan Allah kepada mereka yang terpilih. Tapi ikatan kuat di hati suami istri itu, pasti bisa membuat siapa pun jadi tersentuh karenanya.

Dalam keadaan cacat fisik dan kekuarangan materi, apakah saya masih menyanyangi istri saya sepenuh hati…? ”


Semoga rasa cinta saya terhadap istri saya juga seperti itu….Amin.


Fojiao
Fojiao
Iklan