Waktu. Terasa berjalan cepat atau lambat, memang tergantung dari kita yang menjalaninya. Bisa terasa cepat, bisa juga terasa lambat jalannya, bahkan bisa juga ada suatu titik dimana malah kita merasa bahwa waktu terasa berhenti berjalan. Mandeg. Stand still. Nggak kemana-mana. Tentu saja balik lagi ke yang namanya perasaan kita. Mau bagaimanapun, selama belum kiamat, ya waktu itu pasti berjalan terus, nggak akan berhenti. Dan sudah pasti. Mulai dari malam ke pagi, pagi ke siang, siang berganti sore, sore kembali lagi ke malam. Begitu seterusnya. Nggak akan ada yang namanya pagi mendahului malam atau siang berganti malam. Semua sudah berjalan sebagaimana mestinya.

Wah, sebuah alinea pembuka yang cukup berat untuk sebuah tulisan blog ya. Hehehe. Padahal intinya sih saya cuma pengen cerita, kalau kita mau sekali-kali melihat ke belakang lagi, kita akan ngerasa kalau waktu itu seperti berjalan begitu cepat. SEPERTI. Mungkin karena kita selama ini begitu sibuknya menjalani hari dengan apapun, mostly mungkin pekerjaan, sehingga kita jarang sekali melihat lagi apa saja yang sudah kita lakukan dan kita dapatkan hingga saat ini. Dengan kerjaan yang seabreg2, dengan padatnya kegiatan yang segudang, yang ada kita menjalani waktu dengan yaaa, begitulah.. sekedar menjalani saja. The next thing we know, tau2 kita udah ada di sini. Di tempat kita sekarang ini. Di tempat Anda membaca tulisan ini. Di usia Anda tahun ini. Detik ini. Udah kemana aja kita sebelum ini? Udah ngapain aja kita hingga akhirnya ‘terdampar’ disini?

Ya, waktu. Waktu bisa terasa berjalan cepat sekali. Sehingga kadang yang namanya angka, jadi bisa tidak berarti dan menerangkan apapun. Setahun bisa berarti sebentar,bisa juga terasa lama. 1 jam pun bisa terasa demikian. Kurang dari sebulan yang lalu, saya menghadiri acara Reuni, untuk angkatan saya yang sudah berusia 5 tahun. Angka 5 tahun itu sepertinya sebuah rentang waktu yang cukup lama ya. Cukup lama untuk melakukan sesuatu, meraih sesuatu, menghasilkan sesuatu, bahkan termasuk untuk merubah sesuatu. Atau menjadi seseorang. Tapi ternyata pemikiran itu tidak sepenuhnya benar. 5 tahun ternyata tidak terlalu lama. Paling tidak, berkumpul kembali dengan teman-teman SMA, tidak banyak perubahan yang besar terjadi pada mereka. Masih seperti ketika berkumpul 5 tahun yang lalu. Masih seru, masih gila. Paling-paling, perubahan terjadi pada sisi fisik saja. Hampir semuanya bertambah gemuk, karena memang sudah hukum alam kalau pada usia tertentu (let’s say selepas SMA, lah) pertumbuhan tinggi tidak akan berlanjut lagi. Hehehe. Dan tentu pada perubahan status. Ada yang sudah menggandeng suami dan anaknya ke acara reuni, entah dia membayar iurannya dobel juga atau tidak. Hehehe.

Tapi intinya tetap sama, 5 tahun ternyata bisa jadi juga tidak ‘selama’ yang kita bayangkan juga. Mungkin jika dilihat dari sisi achievement. Kesuksesan bisa menjadi relatif sekali. Pada tahap atau kondisi bagaimana seseorang bisa dianggap ‘sukses’? Ada yang menjadi pengusaha di luar negeri, bisa dibilang sukses. Ada yang menjadi Calon Legislatif, itu bisa juga dibilang sebuah kesuksesan walau masih sebatas calon. Ada yang menjadi ibu rumah tangga, itu pun bisa dibilang sukses dalam hal jodoh, misalnya. Ini mungkin kalau dilihat oleh saya yang masih belum sukses dalam urusan jodoh. Ada juga yang menjadi penulis blog,itupun bisa dibilang sebuah kesukesan karena nggak semua orang bisa menulis blog, misalnya. Relatif sekali jadinya,bukan?…*narsis : mode on*

Tapi satu yang pasti, dalam rentang waktu 10 tahun itu, umur kita bertambah 10 juga. Dulu masih belasan tahun, sekarang sudah masuk dalam hitungan puluhan. Dulu masih menjelang angka 20,sekrang sudah hampir masuk ke kepala 3. Kalau udah gini, baru lah ngerasa kalau waktu itu jadi berjalan cepat sekali. Tau-tau, umur udah segini aja. Udah nggak inget lagi apa aja yang kita lakukan dan kita dapatkan ketika ada di umur 19, 21, 25 bahkan usia kita setahun yang lalu juga udah lewat begitu saja. Jangan-jangan kita bener-bener udah menjalani hari dan menjalani waktu memang sekedar menjalani saja, tanpa benar-benar menikmati every single time? Jadi waktu yang terlewat, ya hanya terlewat begitu saja, sama seperti kita nggak pernah sadar, menikmati dan mensyukuri nafas kita, saking sudah terbiasanya? Makanya Oprah sering banget koar-koar bilang,

Breath Conciously!”.

Bernafaslah dengan sadar bahwa kita sedang bernafas. Dari situ kita akan sadar kalau kita ini hidup. Ada di waktu yang sekarang yang harus disadari, disyukuri dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bukan kemarin, bukan juga di masa depan. Tapi sekarang.

Every tick of the clock takes away something. Setiap detik yang berlalu itu, pasti akan membawa pergi sesuatu dari diri kita. Dari kehidupan kita. Sesuatu itu bisa apapun. Termasuk waktu yang nggak akan bisa kembali lagi. Jadi memang bukan waktunya lagi terlalu membahas 5 tahun yang lalu apalagi menyesalinya and then feel bad about it. Itu udah berlalu, dan sudah menjadi sejarah hidup kita. Sekarang waktunya kita membuat history hidup kita lagi untuk, let’s say for another 5 years. 5 tahun berikutnya. Walaupun nggak ada yang menjamin kita masih hidup di tahun 2018 besok itu. Tapi paling enggak, dengan menjalani waktu kita hari ini dengan sebaik-baiknya, kita sudah membuat sejarah yang di kehidupan kita sendiri, yang akan kita kenang lagi 10 tahun yang akan datang.

Dan akhirnya saya semakin mengerti, kenapa Nabi Muhammad SAW pernah bilang, kalau ada orang yang nasib atau keadaannya sama dengan nasib atau keadaannya di waktu lalu, maka dia termasuk orang yang rugi. Karena memang begitu berharganya, yang namanya waktu itu.

Kita bisa menua dg berjalannya waktu, tp blm tentu membijak

Kita bisa menua dg berjalannya waktu, tp blm tentu membijak

Iklan