2009_07_28_12_25_21_empati

Sungguh luar biasa…

pengorbanan para hero merupakan air di tengah padang tandus.
Banyak orang sangat merindukan kelegaan dan kasih.Semoga kisah kisah para hero
dapat menjadi inspirasi dan membuat kita berani untuk berbuat yang terbaik bagi sesama dengan keikhlasan hati.
Waktu saya nonton kick andy saya sangat terharu akan kisah2 Bpk hj Bambang,Bpk Musripan,Bpk Achmad,Mas Endang.
Apalagi Kisah heroik Mas Endang….Sungguh luar biasa.

Sungguh suatu kisah yang menginspirasi..
Semoga semangat menolong tanpa embel2 apapun, bisa hidup dalam hati dan jiwa kita..

Hanya dalam hitungan detik, saya melihat adegan yang mengerikan itu. Tubuh ringkih nenek yang berbalut kebaya lusuh terlempar sekitar dua meter sebelum terhempas di aspal yang keras. Tubuhnya menggeletar. Darah mengalir dari hidung dan telinganya.

Wajah sang nenek masih kuat terekam dalam ingatan saya sampai hari ini. Padahal kejadian itu sudah berlangsung puluhan tahun lalu, saat saya masih duduk di bangku SD.

Hari itu, sepulang sekolah, saya bersama sahabat saya, Bowo, naik bemo. Pada saat turun dari bemo dan hendak menyeberang jalan, peristiwa itu terjadi. Sang nenek yang waktu itu juga sedang menyeberang, disambar sebuah mobil yang kemudian melarikan diri.

Beberapa orang yang menolong nenek tersebut berusaha menyetop mobil yang lewat untuk mengangkut sang nenek ke rumah sakit. Tetapi semua mobil yang dihentikan, termasuk angkutan umum, enggan mengangkut sang nenek. Sampai kemudian seorang tukang becak yang mangkal tidak jauh dari situ, bernisiatif mengangkut nenek tersebut dengan becaknya ke rumah sakit.

Waktu itu, dalam usia kanak-kanak, saya tidak paham mengapa orang-orang yang mengemudikan mobil waktu itu tidak mau berhenti untuk menolong membawa sang nenek ke rumah sakit. Jahat betul mereka. Kejam nian. Begitu pikir saya.

Setelah dewasa dan tinggal di Jakarta, saya semakin merasakan betapa sifat individualistis dan mau aman sendiri sangat kuat di kalangan masyarakat. Setiap orang terkesan lebih suka menghindar dari masalah. Dalam hal kecelakaan lalu lintas, misalnya, tidak banyak orang yang bersedia mobilnya digunakan untuk mengangkut korban.

Seorang teman pernah menasihati saya untuk menghindar jika terjadi kecelakaan lalu lintas. Terutama jika ada permintaan bantuan untuk mengangkut korban kecelakaan. Menurut dia, perbuatan baik itu sering menimbulkan masalah. Masalah pertama, mobil yang digunakan untuk mengangkut korban kecelakaan akan kotor terkena noda darah. Kedua, kita akan berurusan dengan rumah sakit karena dimintai uang jaminan. Ketiga, jika tidak ada saksi, maka kita akan berurusan dengan polisi. Bisa sebagai saksi, tetapi kalau lagi sial malah bisa jadi tersangka. Jadi, jangan sok jadi pahlawan di kota besar seperti Jakarta. Begitu katanya.

Sedih memang mendengar nasihat seperti itu. Tetapi inilah realita kota besar. Sama seperti nasihat untuk tidak menolong korban pencopetan yang terjadi di depan mata kita. Sebab banyak cerita orang yang hendak menolong justru tewas ditikam kelompok pencopet. Itu sebabnya banyak orang lebih memilih menghindar ketimbang menolong.

Karena itu saya merasa takjub dan terharu setiap mendengar berbagai kisah kepahlawanan orang-orang yang tergerak menolong orang lain dalam suatu peristiwa kecelakaan, kebakaran, atau bahkan peristiwa meledaknya bom seperti yang baru-baru ini terjadi di Hotel JW Marriot atau Ritz Carlton.

Dari penuturan supir Timothy Mackay, Presiden Direktur PT Holcim Indonesia Tbk., misalnya, terungkap bagaimana seorang warganegara Singapura, yang saat itu cuma memakai kaus singlet (mungkin penghuni hotel yang belum sempat berpakaian ketika bom meledak), mengabaikan keselamatan dirinya untuk menolong Timothy Mackay.

Walau tidak mengenal Timothy dan juga Fathul sang supir, warganegara Singapura itu mempertaruhkan keselamatannya dengan masuk ke dalam mobil sedan milik Timothy, memegang tandu tempat Timothy yang terluka parah berbaring, dan bertahan seperti itu saat mobil melaju dengan pintu yang terbuka menuju rumah sakit.

Begitu juga dengan seorang karyawan di perkantoran di sekitar ledakan yang juga membantu memegang tandu saat mobil yang kedua pintunya tidak bisa ditutup itu melaju ke rumah sakit. “Mereka membantu saya mengantarkan Pak Timothy sampai ke rumah sakit dan menunggu sampai dokter datang menolong,” ujar Fathul. Setelah itu, menurut Fathul, mereka kembali ke lokasi dengan naik taksi. “Saya bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih.”

Masih banyak kisah heroik yang muncul pada saat bom meledak di JW Marriot dan Ritz Carlton. Melihat kisah-kisah heroik semacam itu, ingatan kita kembali pada sebuah foto dramatis yang dimuat di berbagai media cetak pada saat bom meledak di depan Kedubes Australia tahun 2004 lalu. Di foto itu terlihat sang pria membopong seorang bocah perempuan yang bersimbah darah. Bagian belakang gadis cilik itu luka parah.

Ketika tampil di Kick Andy, Achmad Usman, pria itu, menceritakan dengan mata berkaca dan suara bergetar detik-detik dia menantang maut untuk menyelamatkan sang gadis. “Waktu mendengar ledakan, saya langsung berlari menuju pusat ledakan. Saya yakin di sana akan banyak korban,” ujarnya, menjawab pertanyaan saya mengapa dia justru mendekati pusat ledakan pada saat semua orang berlari menjauh.

Pada saat sedang membantu mengangkat dan menyelamatkan beberapa korban bom itulah dia melihat seorang satpam sedang menggendong seorang bocah perempuan. Tubuh sang satpam limbung. Achmat lalu mengambil bocah itu dan melarikannya ke sebuah taksi. Achmad meletakkan gadis yang dikira sudah tewas itu di bagasi belakang taksi tersebut. Namun betapa kagetnya dia saat sang bocah merintih. Tanpa berpikir panjang lagi dia dan supir taksi memacu kendaraan ke rumah sakit.

Berkat tindakan Achmad yang tidak mengindahkan keselamatan dirinya itu, belakangan diketahui bocah tersebut selamat. Achmad mengaku sangat bahagia ketika melihat sang bocah sudah bisa tertawa ketika mereka berjumpa di sebuah rumah sakit di Singapura.

Kepahlawanan seperti itu yang juga ditunjukkan Haji Bambang saat bom Bali pertama meledak di Paddys Cafe dan Sari Club di Bali. Sebelas jam Haji Bambang – tanpa makan dan minum s menolong para korban. Kisah heroik pria ini kemudian membuatnya dinobatkan sebgai “Asian Hero 2003” oleh Majalah TIME.

Tetapi, pada saat penghargaan diberikan, Haji Bambang memilih tidak datang ke Tokyo. “Pertama, saya melakukan semua itu karena sebagai manusia sudah seharusnya saya menolong sauadara-saudara saya saat mereka mengalami musibah,” ujarnya. “Kedua, bagaimana perasaan para korban dan saudara-sauadara saya di Bali yang sedang menghadapi kesulitan akibat turis yang ke Bali merosot tajam, sementara saya harus memakai jas dan naik pesawat untuk menerima penghargaan,” ungkapnya. Soal hadiah Rp 150 juta yang juga seharusnya dia terima? “Semua itu tidak bisa membeli rasa kemanusiaan saya.”

Pada saat merencanakan topik pahlawan-pahlawan yang terpanggil untuk meolong orang lain tanpa memedulikan keselamatan dirinya itu, saya mendapat cerita tentang Briptu Musrifan dan Endang Aripin.

Briptu Musripan harus menderita luka bakar 85% dan koma selama sebelas hari gara-gara menolong korban kebakaran. Seusai bertugas di Polsek Mamasa, Sulawesi Barat, ayah dua anak ini melihat ada kebakaran. Walau sedang tidak bertugas, Musrifan menerjang masuk kobaran api dan menyelamatkan seorang kakek dan satu anak kecil.
Tapi, malang baginya. Ketika menendang kabel listrik yang putus, kaki Musrifan tersengat listrik. Dia tidak menyadari sepatunya sudah meleleh kepanasan sehingga kabel listrik menembus kulit kakinya.

Pada saat yang sama reruntuhan rumah yang terbakar menimpa tubuhnya. Musrifan tak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit. Setelah sebelas hari koma di ruang ICU, dan dirawat hampir sebulan di rumah sakit, Musrifan sampai sekarang menderita cacat. Kepala dan pahanya masih mengeluarkan nanah dan darah. “Tapi saya tidak pernah menyesal,” ujarnya.

Adapun Endang Aripin, pemuda asal Cirebon, menjadi pahlawan bagi masyarakat Jepang, khususnya warga kota Hyuga di Provinsi Mayazaki.
Pada saat sedang berada di Pantai Hisegahama, Endang melihat dua remaja putri warga negara Jepang hanyut terseret ombak. Tanpa pikir panjang dia dan temannya yang juga berasal dari Indonesia melompat ke laut untuk menolong. Endang, yang berusaha menolong salah satu dari remaja itu yang hanyut lebih jauh, nyaris berhasil mencapai tepi pantai ketika ombak besar menyeretnya kembali ke laut yang ganas. Sang remaja berhasil selamat, tetapi Endang kehilangan nyawanya.

Kisah heroik Endang tersebut menjadi bahan liputan media massa di Jepang. Kisahnya menjadi pembicaraan dari mulut ke mulut. Sebuah pengorbanan yang oleh warga Jepang menjadi cerita keteladanan. Bahkan dua sutradara asal Jepang kemudian mengangkat kisah tersebut dalam sebuah film berjudul “Mas Endang”.

Bagi sebagian orang, kisah semacam ini bisa dipandang sebagai perbuatan konyol. Orang menolong orang dengan risiko mempertaruhkan nyawa mereka, masih dianggap perbuatan yang tidak lazim. Lalu apa yang membuat hati kita tergerak untuk menolong saudara kita yang membutuhkan pertolongan?

“Jika Anda melihat suatu peristiwa, bayangkan yang mengalami kejadian tersebut adalah saudara Anda atau orang-orang yang Anda cintai. Dengan sendirinya hati Anda akan tergerak menolong,” ujar Haji Bambang.

Iklan