Nonton Ketika cina bertasbih ternyata tidak rugi waktu.Saya tidak sekecewa orang2 yang mereview film ini. paling nggak saya bisa tertawa. Film ini lebih bisa membuat saya tertawa daripada film komedi indonesia lainnya. Tapi masalahnya, kcb ini kan bukan film komedi.

saya agak tidak percaya saat eliana yang putri kedubes itu mengajak temennya, azzam yang seorang ikhwan ciuman, frenchkiss. mengajaknya lewat telpon pula.

Tentang adegan azzam ngobrol sama furqon dengan latar belakang langit berbintang palsu, iklan bank mandiri dan mio, ayyatul husna yang gaptek internet tapi udah canggih mobile banking, dua orang bule dengan pose poto aneh-aneh pas azzam lagi ngobrol sama didi petet, anna dan temennya yang kecopetan di bis lalu menangis di halte namun bisa menyebutkan dengan cepat jumlah uang dalam dompetnya, sinetron di RCTI yang cuman itu2 melulu (eh, di mesir ada rcti ya?) lumayan lucu lah.

saya tak bisa menahan ketawa pas husna menulis surat kepada abangnya dengan kalimat “dari pojok kartasura tercinta”, “titip air mata rindu yang tiada tara dari ibu”, dan kalimat puitis2 nya.

Apalagi pas husna membeberkan makna cinta pada saat dialog bedah buku.. “cinta adalah kekuatan yang bisa membuat duri menjadi mawar, penjara menjadi istana, bakhil menjadi dermawan, setan menjadi nabi, bla bla”. Rudy sangat menyukai adegan ini, dia tertawa mengepruk2 kursi. sayangnya alle melewatkan adegan ini. Sementara momon menyukai adegan saat husna menceritakan tentang abangnya kepada anna sambil berderai air mata.

choro, sita dan iphan sepertinya suka adegan di bandara.. saat eliana dan azzam diwawancara wartawan…
– “Masnya ini siapa, pacarnya mbak eliana ya”
+ “bukan, saya ini hanya penjual tempe”
– “ih boong ya”

entahlah dengan nixauwijaya, dia terlihat meninggalkan teater dan menuju ke burjo pas pertengahan pilm.

saya (kami?) tertawa pada adegan dan film yang salah. ini bukan film komedi. Sepertinya saya ini penonton yang buruk.

Iklan