“… aku mau rumah seperti itu,” rayunya manja sambil menunjuk sebuah rumah yang kami lewati di minggu pagi yang segar itu. Rumah bergaya Art Deco dengan warna coklat muda. Bangunannya tidak menjulang, hanya dua lantai saja. Gerbangnya tidak tinggi, namun juga tidak rendah. Sebuah rumah sederhana namun telah mencuri hatinya, membuatnya setiap kali melewatinya selalu memintaku melambatkan laju kendaraan kami.

“Kenapa tidak yang itu saja,” kataku menunjuk sebuah bangunan besar dengan pilar mengular khas koloseum roma kuno. Dia menggeleng pelan, dan tawaku pun terdengar. Ah, aku memang gemar menggoda. Sudah tahu seleranya apa namun tetap saja ditawari yang lain. Mataku mengamati rumah besar dua lantai tersebut. Tinggi, kokoh dan sangat perkasa.

Keesokan harinya kami terkejut melihat rumah gagah itu pilarnya miring dan dindingnya banyak yang retak. Cepat kulayangkan pandang ke rumah idamannya, seraya berharap cemas semoga rumah itu tidak roboh. Sedangkan rumah kokoh itu saja retak, lalu apa kabarnya rumah sederhana impiannya. Rumah dengan rasa kehangatan keluarga, yang tidak terlihat pilar – pilarnya. Senyum mengembang menggantikan cemas, untunglah rumah idamannya itu tetap tegak berdiri. Herannya tanpa cacat sedikitpun.

Tukang bakso dimana kami menganjal perut bercerita bahwa tadi malam ada gempa, tidak kuat namun cukup membuat beberapa rumah rusak lumayan parah. Heem…. Ada keanehan disini. Rumah kokoh hampir roboh, namun rumah sederhana tetap jumawa. Ada apa? Sayup kudengar abang tukang bakso bicara soal pondasi. Ah ya, pondasi. Dasar dari rumah itu sendiri. Biar bagaimana pun bagusnya sebuah bangunan, jika pondasinya tidak kuat maka ia akan rentan. Teringat bahwa hidup ini juga sebuah bangunan. Karierku adalah bangunan yang kubangun diatas dasar agama dan pendidikan, kerja keras juga loyalitas. Rumah tanggaku adalah bangunan yang kubangun dengan kasih, pengertian dan juga usaha untuk saling memahami.

Pondasi hidupku dibangun diatas nilai – nilai yang diajarkan keluarga. Nilai – nilai keyakinan yang di kemudian hari dilepaskan menjadi pilihan bebas dan menjadi hak dasarku, karena nilai – nilai tersebut tidak dapat dipaksakan. Dan aku tidak akan pernah memaksakan nilai – nilai yang aku anut kepada orang lain ataupun memandang rendah kawan dengan nilai yang berbeda. Sekali – kali tidak. Aku hanya ingin berbagi bahwa pondasi nilai yang kita peganglah yang dapat menyelamatkan kita.

Tentu saja pondasi yang kokoh tidak serta merta membuat banguan yang berdiri diatasnya menjadi bangunan yang luar biasa indah. Siapa bilang jika sudah mendasarkan hidup pada keyakinan dan ajaran Tuhan maka bisnis kita tidak bisa bangkrut ? Siapa bilang rumah tangga kita aman dari percekcokan ? Tetap saja ada angin, hujan bahkan badai yang menghantam. Yang bisa membuat bentuknya jelek tak beraturan atau hancur berantakan. Tapi dengan pondasi yang kokoh bangunan tersebut tentu lebih tahan menghadapi goncangan dan jikalau roboh, dapat dibangun lagi dengan cepat.

Jadi, dibangun diatas pondasi apakah rumah kehidupan kita di dunia ini ? :)

 

 

Home stay

Alkisah di sebuah hutan terdapat seekor singa yang sudah tua. Setiap hari ia kelaparan karena tak sanggup berlari kencang dan jauh. Ia selalu kehilangan mangsa.

Meskipun setiap binatang saling memangsa, tetapi mereka sepakat untuk saling menjenguk bila salah satu diantara mereka sedang sakit. Tak kurang akal, singa tua itu memanfaatkan kesepakatan para binatang untuk menjerat mangsa. Ia mengaku sakit pada setiap binatang yang melewati tempat tinggalnya, sambil berpura-pura lesu dan lemah.

Berita tentang kondisi singa yang sakit dengan segera menyebar ke seluruh penjuru hutan. Semua binatang bersimpati dan berniat mengunjungi singa tersebut. Satu demi satu dari mereka bergiliran mengunjungi si singa dan bekas jejak kaki mereka terlihat jelas di sepanjang jalan hingga di depan gua.

Kesempatan tersebut jelas tidak dilewatkan si singa. Ia selalu memangsa semua binatang yang mengunjungi dirinya satu demi satu. Tetapi seekor srigala mencium gelagat yang kurang baik saat dirinya hendak masuk gua untuk menjenguk si singa. Srigala itu mengurungkan niat untuk masuk dan hanya menyapa si singa dari luar.

Hei, mengapa mesti di luar. Masuklah! Kita berbincang di dalam saja,” kata singa menawarkan.

Ah tidak, terima kasih,” tukas srigala itu lantang.

Aku meragukan kata-katamu. Boleh dibilang aku tidak mempercayaimu. Aku yakin kamu tidak punya niat baik dan hanya ingin memangsa aku, karena di sini aku hanya melihat jejak langkah binatang-binatang yang lain masuk tapi tidak ada jejak langkah mereka keluar dari sini,” ucap srigala kesal.

Srigala mencium gelagat buruk dari si singa. Kebohongan si singa terbongkar juga. Akibatnya, singa itu harus menanggung resiko atas kebohongan yang ia lakukan, yaitu tidak dipercaya lagi oleh semua binatang penghuni hutan.

Pesan :

Berdasarkan ilustrasi kejadian tersebut terungkap bahwa kejujuran bersifat krusial atau sangat penting dalam hidup ini. Satu kebohongan saja akan menginfeksi karakter seseorang. Kebohongan bukan hanya bentuk dosa itu sendiri, melainkan menginfeksi jiwa kita dengan dosa. “False words are not only evil in themselves, but they infect the soul with evil,” kata Socrates. Karena setiap kebohongan akan mendorong seseorang untuk terus menciptakan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya.

Kebohongan adalah sumber kegelisahan, karena kalaupun kebohongan itu tidak terbongkar sudah pasti itu sangat menyiksa batin. Lalu seandainya kebohongan itu sampai terungkap, maka reputasi yang sudah dibangun selama puluhan tahun sekalipun kemungkinan akan hancur seketika. Kebohongan menjadikan masalah kecil semakin rumit, dan hidup terasa penuh rintangan. Dengan kata lain, kebohongan adalah sumber malapetaka.

Sangat manusiawi jika masing-masing diantara kita pernah berbohong, entah dalam skala kecil, sedang, maupun besar. Tetapi mengingat dampak buruk yang dapat menyertai kebohongan yang sudah kita ciptakan, milikilah keberanian untuk memperbaiki diri dengan bersikap jujur. Kita masih memiliki kesempatan yang begitu luas untuk lebih baik. “No one has ever done anything too bad to be forgiven. – Tak seorangpun melakukan kesalahan yang terlalu besar untuk dapat diperbaiki kembali,” kata Ruth Sheppard.

Kita dapat senantiasa melatih dan meningkatkan kualitas kejujuran dari hal-hal sederhana, yang berkenaan dengan orang lain dan terutama terhadap diri sendiri serta segala aktifitas kehidupan kita. Mungkin kita dapat memulainya dengan berusaha berkomunikasi dan berinteraksi secara jujur dan terbuka sejak saat ini apapun resikonya.

Tingkatkan kualitas kejujuran terus menerus sampai kita dapat merasakan tak ada lagi kekurangan yang menghambat atau mengganggu sosialisasi diri. Pada saat yang sama kita juga akan dapat merasakan bahwa kejujuran kita jauh lebih berharga dibandingkan segalanya. “No legacy is so rich as honesty. – Tak ada harta yang begitu melimpah seperti kejujuran,” William Shakespeare dalam karyanya yang berjudul All’s Well that Ends Well.

Saya prihatin melihat pemberitaan akhir-akhir ini, dimana “kejujuran” itu berada, semua orang sambil melempar batu tapi sembunyi malu.

079899

Kejujuran part II

039899

Kejujuran part I

Dikisahkan tentang seorang pemain racquet ball terkenal bernama Reuben Gonzales. Dalam sebuah pertandingan untuk merebut piala kejuaraan dunia, ia mendapatkan posisi super shot untuk mendapatkan poin kemenangan. Menurut wasit, pukulannya cukup bagus dan menempatkan dirinya sebagai pemenang.

Tetapi ia justru menghampiri lawan mainnya sambil berkata, “Pukulan tadi itu salah. ” Pengakuan Reuben membuat juri memutuskan dan menyatakan Reuben kalah dalam pertandingan. Keputusan tersebut menyulut protes keras dari para penggemar Reuben.

Usai pertandingan Reuben mengeluarkan sebuah pernyataan. “Hanya dengan cara itu saya dapat menjaga kejujuran saya,” katanya bijak. Tindakan Reuben adalah contoh tindakan seorang pemenang sejati, meskipun ia dinyatakan kalah dalam pertandingan.

Pesan :

Kisah di atas mengilustrasikan bahwa manusia secara naluriah memang selalu ingin dikatakan yang terbaik. Tetapi Reuben adalah contoh personifikasi yang mampu mengendalikan dirinya untuk tidak menghalalkan segala cara agar dianggap yang terbaik. Ia beralasan ingin mempertahankan kejujuran. Sebenarnya apa arti kejujuran hingga membuat Reuben dengan senang hati melepaskan kemenangan yang nyaris disandangnya?

Kejujuran adalah unsur penting bagi setiap individu untuk membangun jati dirinya. Tanpa kejujuran, seseorang tidak akan mampu membangun jati diri, karena ia kehilangan kepribadiannya untuk menutupi kelemahan-kelemahan dirinya (weakness recovery). Kejujuran adalah rasa tanggung jawab dari hati nurani hanya untuk memperbaiki diri dan memberi makna hidup.

Jujur kepada diri sendiri ditandai dengan sikap disiplin, tidak melakukan kepalsuan atau kebohongan hanya untuk jaga gengsi. Sedangkan orang yang mempunyai sikap jujur kepada orang lain memiliki empati dan tidak segan berbuat kebaikan. Dalam melaksanakan tanggung jawab pekerjaan, orang yang jujur selalu bekerja penuh semangat dan optimisme. Sedangkan jujur kepada Tuhan YME adalah merasakan kehadiranNya, sehingga tak terlintas keinginan untuk berbohong atau berperilaku mendustai keberadaanNya. Cobalah dengan jujur menilai apakah Anda sudah berusaha dan mampu berlaku jujur kepada diri sendiri, orang lain dan Tuhan YME? . Namun pada kenyataannya, semakin langkah orang-orang jujur di negeri ini…….

Di kolam kecil dekat sebuah pertanian, hiduplah seekor katak hijau. Si katak menikmati hari – harinya dengan berenang, bernyanyi, atau duduk diatas daun teratai sambil makan nyamuk.

Hingga suatu hari seekor burung hantu hinggap di dahan pohan dekat kolam. Si katak menyapa burung hantu dan mengajaknya bermain, tapi burung hantu menolaknya. Kata si burung hantu, “Kegiatanmu tampaknya memang sangat mengasyikkan! Tapi apa gunanya? Kau harus mencari kegiatan yang lebih berguna! Seperti aku memburu tikus yang menyusahkan petani…” Si katak tertegun mendengar hal itu. Lalu si katak bergumam, “Ah, benar juga apa kata si burung hantu. Aku ini makhluk tak berguna. Yang kutahu hanya berenang! Aku harus mencari kegiatan berguna…”

Maka pergilah si katak ke kandang ayam. Ia melihat ayam sedang duduk diatas tumpukan jerami. “Apa yang sedang kau lakukan wahai Ayam?” tamya si Katak. “Aku baru saja bertelur. Sekarang aku sedang mengerami telur – telurku dan tuanku si Petani akan sangat menyukainya!” jawab si Ayam. Katak mengangguk – angguk lalu berkata, “Kalau begitu aku juga mau mengerami telur!” “Wah, kau tentu saja harus bertelur dulu!” Jawab si Ayam. Katak menggeleng, “Aku tidak bisa bertelur…”

Pergilah si Katak ke kandang sapi, dan melihat petani sedang memerah susu. “Wahai sapi, apa yang kaulakukan?” Tanya si katak. “Petani sedang memerah susuku, kawan. Aku makan rumput dan menghasilkan susu, dan susuku sangat berguna untuk manusia,” jawab si sapi. “Kalau begitu akuakan makan rumput dan menghasilkan susu juga!” sahut si katak. Maka si katak mendekati tumpukan rumput kering dan mencoba memakannya. Baru gigitan pertama, si katak sudah memutahkan kembali rumput tersebut. “Oh, rasanya sangat menjijikkan! Aku tidak bisa makan rumput…” “Kalau begitu kau tidak bisa menhasilkan susu,” jawab sapi.

Katak melangkah gontai kembali ke kolamnya. “Aku makhluk tak berguna, aku bodoh dan buruk rupa…” tangisnya sedih. Ia duduk diatas daun teratai dan hanya makan sedikit sekali nyamuk.

Hingga tiba – tiba seraut wajah mungil muncul di depannya! Ternyata putri si petani. Gadis kecil itu tersenyum melihat si Katak, “Ah, rupanya disitulah kau berada. Aku suka sekali mendengarkan suaramu, membuat hatiku ringan saat aku sedih. Dan terima kasih karena telah menangkap nyamuk – nyamuk yang mengganggu tidurku!” ucap gadis kecil tersebut.

Katak pun tersadar dari kesedihannya. Ia bukanlah makhluk tak berguna. Ia adalah katak, dan ia berguna sebagai seekor katak!

*** Setiap orang harus bangga dan bersyukur atas keberadaan nya dalam kehidupan ini. Dan harus menyadari bahwa tiap orang di tempatkan dalam posisi yg berbeda. Sesuai dengan kemampuan dan kegunaan nya masing. Tak ada istilah yg satu lebih penting dari lain nya.

Cerita ini saya dapat saat kemarin saya dan juga beberapa rekan yang menjadi teamwork saya, mendapat teguran dari sang atasan. Beliau bukan malah memarahi kami, malah sebaliknya, dengan segenap kebijaksanaan dan sikap kebapakannya, beliau berusaha membangkitkan motivasi kami kembali.

IMG_7815

Mr. William Santoso

Standar pelatihan gajah sirkus: Ketika masih kecil, gajah sirkus dirantai kakinya, setiap akan jalan melangkah, dia terjatuh tertahan rantai, tersungkur.

Setelah berkali kali tersungkur, dia tidak lagi berani berjalan bila ada rantai dikakinya.

Waktu sudah dewasa, bila ada ranti dikakinya, maka gajah itupun tidak akan berani berjalan lagi.Padahal badan nya sudah berubah besar dan tenaganya hebat, dan pasti rantai itu tidak akan mampu menahannya.

Sang gajah tidak berani mencoba berjalan lagi, karena dalam ingatannya dia akan tersungkur bila mencoba. Diotaknya ada rantai. Kakinya bisa dengan mudah merdeka, tetapi jiwanya terantai.

*** Kita dibentuk oleh rantai2 kaki dalam hidup kita. Keyakinan orang2 sekeliling kita, adat istiadat kita, ajaran dan pendidikan kita, menjadi rantai pengatur hidup kita, dan kita tidak perduli lagi walau itu telah usang, dan tidak benar lagi pada saat ini.

Setiap manusia berada pada penjara pengalamannya sendiri. Ketakutan dan kekhawatiran dan pembatasan terjadi karena kita terbentuk oleh masa lalu kita. Kita telah ditakdirkan berada didalam penjara jiwa kita.

Yang tidak kita sadari adalah pintu penjara sebenarnya telah lama bisa dibuka, gemboknya sudah terbuang, tetapi kita tidak lagi pernah mencoba membuka pintu itu, dengan asumsi bahwa kita pasti tidak mampu membukanya karena dulu kita tidak pernah mampu membukanya. Kita salah, seperti juga sang gajah. Sudah waktunya kita keluar dari penjara kita. Sekarang.

Baby African Elephant

gajah...

Sebelum kau bertumbuh di rahim istri ku. Aku sudah menginginkanmu. Sebelum kau lahir, aku sudah mencintaimu. Sebelum kau berumur sehari, aku sudah bersedia mati untukmu. Inilah keajaiban hidup. Nyanyian terindah di dunia adalah tangis seorang bayi di tengah keluarga kecil yang baru meniti hidup. Setiap manusia diberi anugerah dalam cara yang unik untuk menemukan hal-hal istimewa dalam kehidupannya. Cinta itu adalah bahan bakar yang bisa memicu manusia melakukan hal yang tak mungkin.

“Bukan saat-saat sulit yang menciptakan pahlawan. Namun, ketika menjalani saat-saat sulit itulah pahlawan dalam diri kita terungkap. Sekali kita memilih harapan, segalanya mungkin terjadi.

bobo

love sunshine

Malam ini tiba-tiba saya teringat wajahnya. Seorang muslimah yang wajahnya cepat menyemburat merah setiap kali dia tersipu. Lebih dari 9 tahun lalu, kami berkenalan. Persahabatan yang sangat lama itu telah mampu menyatukan karakter kami yang seperti langit dan bumi. Saya yang periang, spontan dan ceplas-ceplos, sementara pembawaannya yang periang, tenang dan tak banyak bicara. Muslimah ini lebih banyak tersenyum ketika kami, rekan-rekannya meledak tawa. Saya seperti biasa tidak mungkin membuka identitas siapapun yang telah memercayakan sebagian kisah hidup mereka kepada saya. Kita sebut saja nama dia “Fidia”. Seorang muslimah yang darinya saya mengambil banyak pelajaran hikmah yang ingin saya bagiakan kepada banyak orang.

Usianya hampir sama dengan saya, tapi bukan itu kesan mendalam di hati saya tentang fidia. Saya cemburu, iri setengah mati, melihat betapa gemarnya muslimah yang satu ini beribadah. Siapapun menurut saya pasti akan terenyuh melihat cara Fidia berdoa. Begitu khusuk, begitu damai dan begitu asyik dia menyampaikan suara hatinya kepada sang Pencipta. Dan air mata membanjir membasahi wajah fidia seiring doa-doa panjang yang ia suara kan dengan lirih. Sementara pundaknya terguncang-guncang karena tangis. Dia juga selalu displin mengerjakan shalat tahajud tiap malam. Saya tahu hal itu karena sewaktu masih kuliah, kos kami saling berhadapan. Kamarnya berada di lantai dua, dan kamar saya juga berada di lantai 2. Jadi setiap kali ia melaksanakan amalan-amalan malam hari, saya tahu dari kamar saya.

Suatu kali saya pernah melemparkan beberapa pertanyaan seperti ini :

“Kenapa kamu beribadah sekeras itu ,Fid?”.

“Kenapa kamu selalu menangis dalam doa-doamu?”.

“Apakah matamu yang selalu berair tidak letih karenanya?”.

“Banyak dosa saya, Mas Her…”

Suatu hari dalam kedekatan kami, Fidia membagi ceritanya. Masa lalunya yang gelap dan hampir-hampir membuatnya putus asa. Pelecehan seksual yang dilakukan temannya masa kecil. Pemerkosaan yang dilakukan Om-nya. Dan terakhir, teman satu SMA yang sama-sama merantau telah melakukan tindakan tidak pantas, suatu malam. Padahal mereka sama-sama perempuan. Bertubi-tubi perlakuan temannya yang membuat Fidia merasa dirinya kotor.

“Saya jijik terhadap diri saya, Mas…saya merasa begitu kotor dan tidak pantas berdiri di hadapan Allah .”

Dan cinta yang dihadirkan seorang teman kuliah, telah menyeretnya ke dalam dosa yang berkepanjangan.

“Kami berzinah, tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali. Saya tidak tahu dimana Allah ketika itu…”

Di dekat saya Fidia mengusap air matanya yang mulai jatuh.

“Saya merasa kotor, Mas Her..saya jijik pada diri sendiri. Apalagi setelah saya tahu hukuman terhadap penzina.”

Ada suatu masa dalam hidupnya ketika gadis itu berusaha untuk mengakhiri hidupnya.

“Saya sempat ingin bunuh diri, Mas. Tapi Allah menolong saya…”

Hubungannya dengan sang pacar putus, ketika akhirnya Fidia menolak terus berhubungan intim. Fidia menyebut hal itu sebagai cara Allah menyelamatkannya dari dosa yang lebih jauh.

“Padahal saya sudah berada di titik terjauh dari Allah. Di titik yang rasanya tidak mungkin saya untuk kembali bersih. Apalagi mengingat masa lalu yang seperti itu.”

“Tapi masa lalu, pelecehan-pelecehan itu bukan salahmu, Fid .” Ujar saya..

Fidia terdiam, wajahnya yang putih berangsur memucat karena kesedihan.

“Tapi salah saya juga, Mas Her. Dosa saya. Dan saya tidak tahu bagaimana cara membersikan diri di hadapan Allah . Setiap kali saya mandi, saya akan menggosok tubuh saya keras-keras dengan sabun, berharap itu bisa menyucikan diri saya.”

Rahmat Allah luas, kasih sayng dan ampunan Allah luas. Saya yakin Fidia bukan tidak tahu itu. Tapi masa lalu yang gelap, yang menjadikan Fidia seperti sekarang ini. Seorang muslimah yang merasa harus terus menerus membersikan diri. Seorang muslimah yang giat berdoa dan beribadah.

“Saya ingin bersih ketika menghadapNya nanti. Saya ingin Allah menyambut saya dengan cinta.

Saya ingin Dia mengizinkan saya yang begitu kotor ini, untuk menatap wajahNya….”

Ah, Fidia…

Muslimah yang kedekatannya kepada Allah, membuat saya cemburu. Muslimah yang begitu kyusuk dengan doa-doanya. Sosoknya yang tenang itu telah membuat saya melihat betapa nikmatnya taubat…


quran

Give me Your Blessing, Lord

Have been silent for quite sometime, blame it on my busy schedule at work. Some times you have those days (or in my case, weeks) when you can not do anything else but keeping up with your action lists. Exhausting but hopefully will be over in another month or so. I definitely need a vacation to cool off my tensed brain cells, but had to cancel the plans due to reasons that completely out of our hands. I did not have time to update my blog, but tonight I can cheat for time to do a little bit of blogwalking. Hehe, finally.

On a weekend sometime ago, I had a chance to go out of overcrowded Surabaya. Much much higher than expecatation, the view was amazing.  I choose went to Bromo culmination

Will catch up again with you when I have another cheating time for blogwalking again. Hopefully soon!

Talk to you later.. :)

Here is one shot:

Di lereng bromo

Di lereng bromo

Temple Gate

Temple Gate

????

????

Biasanya tiap akhir pekan, saya langsung meluncur pulang. Tapi entah kenapa hari itu saya tiba-tiba ingin mengantarkan sahabat saya yang beragama budha untuk pergi vihara. Meskipun letak vihara tersebut bukan di sekitar pecinan. Tapi banyak juga orang berjualan beraneka barang dan pernik layaknya di pecinan. Sementara sahabat saya, sedang menjalankan ibadah. Saya cuma bisa menunggunya sambil berjalan di sekitar area vihara yang cukup luas. Itung2 buat melepas kepenatan atau sekedar rasa capek.


Tak berapa lama, langkah saya terhenti. Ada ‘sesuatu’ di depan mata saya yang menyita perhatian saya. Satu pemandangan yang bagi sebagian besar orang mungkin bukan apa-apa. Terbukti begitu banyak orang yang melintas tapi hanya satu dan dua yang berhenti untuk menghampiri. Sepasang pengemis tua yang buta, duduk di atas tikar kecil, tepat disebelah atau sisi kiri jalan setapak, beberapa meter dari gerbang vihara.


Hati saya langsung berkata : “Subhanallah, cinta seperti apa yang mempertemukan mereka ?. Cinta seperti apa pula yang tidak kunjung memisahkan mereka”.

Melihat kondisi seperti itu. Saya cuma bisa membayangkan betapa suami istri tua itu telah melalui sebagian besar bilangan usia mereka dalam hari-hari yang sulit. Bukan hanya bahu membahu untuk makan sehari-hari, tapi juga saling membantu dalam melakukan aktivitas harian yang sederhana. Kesulitan yang makin menjadi ketika usia bertambah semakin tua. Barangkali mereka tidak memiliki anak, hingga suami menjadi tumpuan istri, begitu pun sebaliknya.


Ya Allah, Bagaimana jika salah satu sakit? Bagaimana mereka merawat pasangan dalam keterbatasan fisik ?


Ketika jalan semakin sepi, saya melihat keduanya mengobrol. Ada senyum yang sesekali terlihat di wajah sang istri. Senyum yang sama yang terulas di bibir suaminya. Mungkin meeka membicarakan hal-hal yang lucu. Mungkin juga bergembira membayangkan hasil mengemis hari itu.


Entalah. Tapi kebersamaan keduanya sungguh di luar nalar saya. Dalam keadaan cacat fisik dan kekurangan materi, apakah yang menjadi sumber kebahagiaan keduanya ?.Terlintas dipikiran saya bahwa tidak sedikit suami istri yang bertengkar karena kurangnya pengertian, saling menyalahkan atas sikap-sikap yang dianggap menyinggung dan tidak berkenan. Atau seperti pasangan yang meributkan uang belanja yang tidak cukup, sementara harga-harga sembako semakin tinggi.


Sepasang pengemis tua itu mungkin tidak memiliki apa-apa. Saya yakin sebagian besar diantara kita pasti jauh lebih kaya. Tetapi sesuatu yang teduh dan menelusup dalam hati, ketika saya memandang mereka lekat.


Pertemuan dengan sepasang suami istri ini telah membuka mata saya terhadap bentuk cinta yang indah. Sungguh, mereka memiliki cinta yang tidak setiap orang memilikinya, bahkan oleh orang-orang yang dilimpahi keberkahan materi sekali pun. Barangkali karena cinta seperti itu hanya diberikan Allah kepada mereka yang terpilih. Tapi ikatan kuat di hati suami istri itu, pasti bisa membuat siapa pun jadi tersentuh karenanya.

Dalam keadaan cacat fisik dan kekuarangan materi, apakah saya masih menyanyangi istri saya sepenuh hati…? ”


Semoga rasa cinta saya terhadap istri saya juga seperti itu….Amin.


Fojiao
Fojiao

Kehidupan memang seperti sebuah parodi, melalui tulisan saya kali ini, saya bermaksud tentang kenyataan yang tidak jarang kita temui di keseharian kita. Ato bahkan kita yang mengalami hal atau kondisi seperti dalam cerita ini….

Amy memandang kedua amplop yang ditunggunya dengan bimbang. Dia telah interview di banyak tempat dan ada 2 pekerjaan paling menarik yang diinginkannya, dan keduanya menerimanya.

Satu pekerjaan di kota Surgana, dimana pekerjaannya sebagai kepala devisi sebuah rumah ibadah terbesar disana. Bayaran tinggi dan sangat memadai. Tapi di kota Surgana ini jauh dari mana2 dan disana yang ada hanyalah segala hal yang “baik-baik” saja. Hiburan yang ada adalah musik rohani, toko2 pun semuanya santun dan baik. Orangnya semua jujur, dan tidak ada kejahatan sama sekali. Kota yang steril dari keburukan umat manusia. Bahkan bioskop pun dianggap sebuah pelanggaran dan tidak ada lagi disana, apalagi tempat minum bir atau café. Semua toko tutup jam 5 sore, dan semua penduduk pulang kerumah dengan keluarga. DVD bajakan adalah dosa, tidak ada orang memaki sama sekali, dijalan raya kendaraan semua berjalan pelahan, dan semua manusia saling menghormati dan mengalah. Internet telah diblokir tidak terhubung dengan dunia luar sama sekali. Tidak ada kebebasan berpendapat. Pakaian bikini adalah tabu, semua muka wanita ditutup tersisa matanya saja. Komik Superman dianggap merusak moral anak muda, yang ada hanyalah buku2 rohani dan pendidikan budi pekerti.

Satunya di kota Nurkana, sebagai kepala keuangan sebuah restoran yang terkenal. Bayaran tinggi dan sangat memadai. Nurkana kota dosa, Las Vegasnya bumi sebelah sini. Minuman alkohol macam apapun mudah didapat. Pelacuran adalah legal. Judi itu sebuah bisnis. Nonton filem dan show terbarupun selalu tersedia. Dulu, Michael Jackson pun pernah show disini. Kejahatan dan penipuan juga ada dan bahkan pernah terjadi pembunuhan pembantaian sekeluarga. Keamanan telah meningkat banyak, dan polisi patroli dengan rutin. Kota ini memberikan hak sepenuhnya pada masing2 penduduknya, perkawinan sesama jenis sekspun telah di ijinkan pemerintah. Bahkan hukum euthanasia pun telah diijinkan.

Amy adalah seorang gadis yang baik, dia suka ketempat ibadah dan bernyanyi di panduan suara, tapi dia suka juga kadang2 nonton bioskop, liat DVD bajakan, bahkan minum “long island tea” pun ok asal tidak terus2an dan tidak sampai mabok. Kini dia bingung harus memilih pekerjaan yang mana, dan keputusan harus diambil hari ini juga. Dia tahu bisa menahan diri dan menjadi diri pada dunia Nurkana, tapi dunia Surgana adalah idola kehidupannya, cuma saja dia tidak yakin akan mampu terus disana.

*** Moral dilema manusia, kita hidup dalam kebenaran yang tidak pernah absolut, kadang kita inginkan semuanya putih, dan tidak mau yang hitam. Bagaimana dengan kemanusiaan kita yang abu abu, karena hidup sebenarnya adalah sedikit hitam, sedikit putih, dan hamparan sejuta abu2.

Kita hidup dengan menjalani putih dan berhati hati terhadap hitam, dan memilah dan memilih yang abu2, sehingga ketika diberikan pilihan ekstrim hitam atau putih saja, kitapun tertegun, dan bingung. Kalau anda dihadapkan pada pilihan hitam putih?

Keimanan-adl-pembeda

Keimanan-adl-pembeda

Next Page »